Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
51


__ADS_3

Layaknya wanita dewasa normal pada umumnya setelah enam tahun tidak berjumpa dengan mas Andika aku mencoba beberapa kali menjalin kasih dengan beberapa laki-laki yang berbeda. Namun entah mengapa hatiku sama sekali tak pernah bisa menerima mereka dengan sepenuh hati. Hatiku masih tetap utuh untuk mas Andika seorang, entah sampai kapan ini akan berakhir.


Selama bekerja di Gersik ini tiga kali aku menjalin kasih dengan beberapa lelaki, pertama dengan temanku dulu watu masih masih SMA kebetulan kami bekerja di Kota yang sama. Aku mencoba menerima citanya dan berpacaran dengannya, sayangnya jalinan kisah kami hanya berlangsung selama satu minggu saja. Dia tidak tahan karena aku slalu mengacuhkan dan tak menganggap keberadaanya ada sama sekali.


Lelaki ku dua yang menjadi kekasihku adalah Gunawan, dia adalah salah satu teman satu kampus dulu ketika masih di Malang, kebetulan dia juga bekerja di sini hanya saja benda divisi denganku. Sayangnya hubungan kami kandas dalam tujuh hari karena aku tidak mau di ajak pegangan tangan atau sekedar nonton berdua layaknya muda-mudi pada umumnya.


Ya seperti itulah hatiku masih menolak enggan untuk bersama dengan orang lain selain mas Andika. Dalam hatiku yang terdalam masih sangat berharap suatu saat nanti kami dipertemukan kembali entah dalam posisi masih sama-sama sendiri ataupun masing-masing dari kami sudah berpasangan.


Membicarakan soal sudah berpasangan, aku tidak tau apakah aku nanti sanggup jika suatu saat nanti mendengar mas Andika sudah mempunyai pasangan hidup atau bahkan sudah mempunyai anak, membayangkan saja sudah cukup membuat bulu kudu ku berdiri bagaimana kalau terjadi dalam kenyataan mungkin aku akan gila saat itu juga.


Ibu dan bapak juga sering kali mengingatkan padaku untuk lekas mencari pasangan hidup, selain karena sudah berumur mereka ingin sekali segera meminang cucu. Beliau slalu berkata tidak baik anak gadis melajang terlalu lama nanti akan menjadi “perawan tua”. Bapak ibu juga pengen punya cucu mumpung masih kuat gendong.


Kalian tau pacar ketiga ku siapa?


Ya pacar ketiga ku adalah mas Reno seseorang yang pernah aku temui saat penyambutan pimnas di rektorat kala itu. Dia juga pemeran Rahwana yang mencuri Shita dari Rama kala kita membuat drama ala-ala di Batu dulu.


Aku tak tau apa yang membuat mas Reno bisa bertahan hingga tiga bulan ini menjadi pacarku, bukan tanpa alasan bahkan aku sama sekali tidak pernah menganggap keberadaannya ada di sampingku. Aku tidak pernah menghubunginya terlebih dahulu walau hanya sekedar menanyakan kabarnya saja aku tidak pernah.


Takdir mempertemukan kembali dengan mas Reno setelah beberapa tahun tidak bertemu, saat itu aku dan beberapa staff mengunjungi supplier bahan baku untuk produk makanan pabrik kami. Tanpa di duga mas Reno adalah pemilik supplier bahan baku tersebut. Semenjak pertemuan tersebut mas Reno mencoba mendekatiku, semakin aku mencoba menghindar maka mas Reno akan semakin mendekat.


“Bu maaf di tunggu pacarnya di depan”. Sapa anak buahku yang memberitahu.


“Pacar?”. Tanyaku dengan wajah yang bingung.


“Pak Reno”, jawabnya dengan singkat sambil tersenyum.

__ADS_1


“Oh iya suruh tunggu sebentar”. Maklum aku sering lupa kalau sekarang punya pacar sebab aku sama sekali tak pernah kepikiran olehnya.


Mas Reno kenapa harus kesini merepotkan saja. Aku enggan untuk menemuinya. Hubungan kami sudah berjalan selama hampir tiga bulan tapi sayangnya belum ada kemajuan sama sekali.


Kalian bertanya bagaimana perasaanku dengan mas Reno? Jawabannya adalah hampa. Aku tidak memiliki perasaan apa-apa pada mas Reno. Aku menerimanya karena kasian, jika dia bercerita bahwa mencintaiku dari awal bertemu saat di rektorat dulu hingga sekarang.


Apakah aku jahat?


Entahlah mungkin iya aku sangat jahat dan ini tidak adil untuk mas Reno, tapi bagaimana ini juga bagian dari usahaku, siapa tau dengan menjalin kasih dengan mas Reno aku bisa melupakan mas Andika dan mulai bisa menerima keberadaan mas Reno. Tapi sayangnya ini sangat sulit bagiku.


Berdering


“Apa sudah selesai? Aku menunggu di depan ya”. Tanya mas Reno yang sudah menunggu lebih dari tiga puluh menit di lobi perusahaan.


“Maaf mas belum pekerjaanku masih banyak sekali”. Entah mengapa kedatangan mas Reno yang setiap hari menjemput ku membuat risih rasanya ruang gerakku semakin sempit.


“Hay apakah sudah selesai?”. Tanya mas Reno kembali yang masih berada di lobi depan.


“Belum mas, apa mas Reno pulang saja dulu”. Tawarku padanya lama-lama aku kasian juga.


“Tidak aku tunggu di sini saja”.


Dalam ruangan aku masih di sibukkan dengan setumpuk kertas-kertas, aku juga enggan untuk meninggalkan ruangan tersebut. Waktu menunjukan pukul delapan malam semua orang satu persatu mulai berpamitan pulang dan tinggallah aku sendiri.


Dalam hening ruangan aku berfikir sudah benarkah tindakanku ini menerima mas Rama menjadi kekasihku?

__ADS_1


Berdering...


Getaran ponsel di meja kerjaku menyadarkan lamunanku yang sudah berjalan sampai di anta berantah.


“Sayang udahan dong kerjanya, pulang yuk jangan capek-capek”. Suara mas Reno yang masih berada di lobi depan.


“Iya aku turun sebentar lagi, ini mau siap-siap dulu”. Jawabku pada lelaki yang sudah hampir dua jam menungguku di lobi depan, entahlah seperti apa rasanya apa tida karatan.


Sebenarnya mas Reno juga memliki wajah yang ganteng, kepribadiannya juga baik, dia anak yang sholeh tapi entah mengapa susah sekali hatiku berpaling dari mas Andika dan mencoba mencintainya.


“Ah mungkin semua hanya soal waktu”. Ucapku dalam hati, aku lekas turun menemui mas Reno yang sepertinya sudah mulai karatan menunggu di bawah.


“Mas lain kali tidak usah jemput aku dari pada kelamaan menunggu seperti ini, lagian kos ku juga dekat sini saja”. Ucapku padanya aku tak ingin merepotkannya.


“Emang kenapa? Aku ingin memastikan kamu pulang dengan selamat”.


“Aku sudah gede kali mas bisa dibilang tua malahan”.


“Makan dulu yuk pasti kamu lapar sekali”.


“Baiklah”. Sebenarnya aku tidak terlalu lapar aku juga enggan terlalu lama memebersamai mas Reno. Tapi aku juga kasian jika harus menolak karena sudah lama sekali dia menunggu di lobi depan.


Mobil mas Reno bergegas meninggalkan kantor, kali ini mas Reno membawaku makan di tempat yang sangat jauh. Ya kos ku di Gersik dan kami cari makan di Surabaya agar lebih lama waktu saat bersama katanya.


Aku pasrah saja tubuhku juga sudah sangat lelah seharian bekerja, aku malas untuk berdebat, aku akan menjawab setiap pertanyaan yang di berikan oleh mas Reno tanpa berniat untuk bertanya balik tentang kehidupannya.

__ADS_1


Apa aku jahat?.


__ADS_2