
Penghujung tahun telah datang, aku mendapat jatah cuti sepuluh hari kerja off, maklum selama satu tahun kerja aku sama sekali tidak pernah mengambil jatah cutiku selain libur wajib di hari minggu. Sengaja memang aku tidak pernah mengambil cuti agar aku bisa menyibukkan diri dan membunuh semua perasaan yang entah mengapa tidak kunjung mati meski ku sudah berusaha mati-matian.
“Assalamualaikum nduk apa kamu akhir tahun tidak ada libur?”.Tanya ibu yang berada di sebrang sana.
“Waalaikumsalam iya bu Rahayu dapat cuti sepuluh hari”. Jawabku tidak terlalu semangat pada ibu.
“Pulang ya nak ibu bapak kangen”.
“Iya bu Rahayu pulang insyaallah”.
“Jangan lupa bawa mantu ibu juga ya nak”.
Ibu slalu mengatakan jika kangen denganku dan menyuruhku pulang meski hampir setiap hari kami berkabar lewat udara tapi bagi ibu rasanya akan beda ketika dapat bertemu langsung dengan anak sulungnya ini. Selain itu ibu memaksaku pulang karena ingin sekali berkenalan dengan mas Reno.
Ibu dan bapak slalu mengingatkan jika aku sudah berumur, sudah waktunya untuk berkeluarga.Ibu bapak takut akan lebel “perawan tua” yang akan di sematkan padaku oleh para tetangga sekitar rumah. Aku menghela nafas berat jika mengigat wejangan itu. Padahal umur baru juga menginjak dua puluh tujuh masih muda, entah mengapa kalau di tempatku umur dua puluh tujuh berasa umur enam puluh.
***
Pagi harinya setelah berkemas-kemas membawa beberapa baju dan membawa beberapa oleh-oleh untuk adik-adik aku lekas bersiap untuk pulang ke rumah. Sebenarnya jarak antara rumahku dan tempat kerja tidak terlalu jauh sekitar dua jam saja. Tapi entah mengapa kalau pulang ke rumah rasanya seperti akan berangkat tempur dengan membawa banyak sekali perkakas dan oleh-oleh untuk orang rumah.
Tin..Tin...Tin
Suara klakson mobil yang sangat familiar di telingaku, mobil siapa lagi kalau bukan mas Reno pacarku. Pacar yang hanya status saja tak pernah aku akui duh kasian.
“Sayang kamu mau kemana? Kok bawa barang-barang segini banyaknya?”. Mas Reno tampak terkejut melihat beberapa barang bawaanku yang memang segambreng sekali.
Maklum jika sedang berjalan-jalan keluar atau sekedar lewat jalan ada sesuatu yang aneh atau yang kiranya menarik aku biasanya akan membelikannya untuk adik-adikku. Karena di rumah pasti mereka jarang sekali menemukan hal semacam ini.
Misalnya saja adikku yang pertama suka sekali dengan dekor-dekor ruangan baik kamar ataupun hal yang lainnya, maka saat melewati toko aksesoris aku akan berhenti dan membelikan beberapa wallpaper dinding timbul untuk dia berkreasi karena di rumahku akan sulit sekali menemukan penjual wallpaper timbul.
Saat pulang kerja melewati toko roti maka aku akan membelikan adik-adikku roti yang berbentuk buaya dan besar sekali. Tentu mereka akan senang skali karena hal semacam ini di tempatku juga langka susah di cari. Tak khayal jika barang-barang bawaanku akan banyak sekali ketika mau pulang kampung.
“Aku mau pulang mas”. Jawabku pada mas Reno.
__ADS_1
“Mau pulang kenapa tidak bilang-bilang sayang, kamu mau pulang naik motor dengan barang bawaan yang begini banyaknya?”. Tanya mas Reno dengan sedikit terkejut.
“Iya mas”, jawabku dengan hanya nyengir kuda saja.
“Bagaimana bisa kamu pulang bawa motor dengan membawa barang sebanyak ini?”. Mas Reno masih tampak bingung membayangkannya.
“Bisa saja mas”.
Senarnya ini sudah merupakan hal biasa yang bisa aku lakukan, karena setiap pulang aku juga akan membawa barang-barang sebanyak ini. Jadi silahkan di bayangkan saja ya.
Kardus besar ini akan aku ikat dengan rafia dan di taruh belakang jok, tas besar ini akan aku letakan di depan karena aku menggunakan motor matic jadi tidak akan kesusahan dalam membawanya. Sedangkan tas ransel yang berisi baju gantiku akan ku pakai di punggung sedangkan tas yang kecil akan aku selempangkan di depan.
“Mana coba aku pengen lihat caranya”. Ujar mas Reno.
Aku lekas menggunakan semua atribut dan menata barang-barang yang akan aku bawa pulang.
“Sudah siap”. Ucapku yang sudah bersiap untuk pulang dan membawa semua barang bawaanku.
“Aku pulang dulu ya mas assalamualaikum”. Ku nyalakan sepeda motorku dan bersiap untuk pulang. Sebenarnya ada hal yang paling membahagiakan pagi ini mas Reno tidak ingin ikut itu saja sudah cukup membaut hatiku lega.
“Eh mau pulang gitu saja enak aja, aku sudah jauh-jauh ke sini”. Mas Reno menarik bagian belakang motorku.
Duh baru juga seneng bisa kabur dan menghindar.
“Aku antar pulangnya, aku ikut bukankah ibu dan bapak kamu ingin sekali bertemu dengan mantunya”.
“Tidak usah mas jangan sekarang aku belum siap, lagian mas Reno juga sibukkan rumahku jauh sekali”. Jawabku mencoba menghindar.
“Tidak aku tidak sibuk sama sekali lagian ini hari libur juga, aku ingin bertemu dengan orang tuamu, aku ingin mengatakan jika aku serius tidak main-main denganmu”. Mas Reno tampak tersenyum hangat seperti biasanya.
“Lagian mana tega aku melihat calon ibu anak-anakku naik sepeda motor dengan membawa brang-barang sebanyak ini”. Mas Reno lekas menurunkan semua barang-barang ku dan memindahkannya ke mobilnya.
“Tapi mas nanti kalau aku diantar naik mobil akan kesulitan saat kembali kesini, perlu naik motor untuk sampai di tempat pemberhentian bus”. Aku masih mencoba untuk menolaknya dengan halus.
__ADS_1
“Nanti aku jemput lagi kalau mau pulang, aku sudah berjanji pada orang tuamu untuk menjagamu”.
Halah itu alasan kamu saja mas, aku sudah besar aku terbiasa melakukan semuanya pekerjaan dan kegiatan sendiri tanpa bantuan orang lain.
Karena sudah tidak ada alasan lagi untuk menghindar dari mas Reno akhirnya aku mengikuti kemauannya. Ya aku sekarang berangkat ke kota kelahiranku untuk bertemu dengan ibu dan bapak. Oh Tuhan aku tak tau apa yang akan terjadi setelah ini, bisa-bisa aku langsung dinikahkan oleh ibu dan bapak yang memnag menginginkan untuk segera menikah.
Sepanjang perjalanan wajahku mendengus kesal sedangkan mas Reno tersenyum sumringah penuh dengan kemenangan.
“Sayang apa kamu keberatan aku antar pulang?”. tanya mas Reno yang melihatku dengan senyum mungkin karena melihatku hanya diam saja dari tadi dia sedikit merasa tidak enak.
“Ngak mas”. Jawabku datar keberatan juga sudah tak berguna ini sudah di separoh perjalanan sampai rumah.
Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan yang berarti hanya suara musik yang terus beralaun mengiringi perjalanan kami.
“Aku mentari tapi tak mengingatkanmu”.
“Aku pelangi tak memberi warna hidupmu”.
“Aku sang bulan tak menerangi malammu”.
“Akulah bintang yang hilang di telan kegelapan”.
“Sebagai kekasih yang tak dianggap”
“Aku hanya bisa mencoba mengalah”
“menahan setiap amarah “
“Sebagai kekasih yang tak dianggap”
“Aku hanya bisa mencoba bertahan”
“Ku yakin kau kan berubah”.
__ADS_1