
Pagi hari tiba matahari mulai malu-malu menyapa dunia, suasana pagi ini mendung dengan diiringi rintikan hujan-hujan kecil menambah besar gaya tarik kasur terhadap tubuh. Rasanya enggan untuk beranjak dan menjalankan aktivitas pagi, ingin sekali melanjutkan mimpi tapi kenyataan harus berangkat kerja mengais rezeki demi kehidupan yang lebih baik.
“Baiklah bismillah yuk semangat mandi dulu, ingat adik-adik masih perlu bayar kuliah nanti, masih mau benerin rumah ibu bapak atapnya pada bocor”.Ucap Rahayu dalam hati seraya beranjak dari kamar tidurnya dan bergegas untuk siap-siap kerja.
Setelah bersiap-siap dan sarapan pagi Rahayu bersiap untuk berangkat kerja, Rahayu sudah bersiap untuk mengeluarkan sepeda motor dari rumah kosnya, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari balik pagar kos.
TIN...TIN...TIN...
Terdengar suara mas Reno yang memanggil-manggil namaku di balik pagar tersebut seraya turun dari mobil.
“Aku kan sudah bilang Rahayu sayang kalau aku mau jemput kamu, gak sabar banget sih nunggu sebentar saja, lagian masih jam berapa tidak akan telat juga”. Ucap mas Reno dengan wajah menghangat.
“Tidak usah repot-repot jemput aku mas, bukankah aktivitas kamu padat sekali, aku tidak ingin merepotkan mu”. Rahayu membuka pagar kosnya dan mengeluarkan sepeda motornya.
"Untukmu aku tidak pernah repot sayang malah seneng sekali".
Karena cuaca masih mendung dan hujan juga belum reda juga, Rahayu mencari jas hujan yang di letakkan di dalam jok sepedanya.
“Aduh kemana sih jas hujan ini? Perasaan kemari malam sudah ku simpan disini?”. Wajah Rahayu mulai tampak frustasi mencari keberadaan jas hujan yang kunjung di temukan. Dia kembali membuka menutup job sepedanya.
“Ayolah Yu jangan nolak kenapa?, masih hujan nanti baju kamu basah lagian jas hujan kamu juga tidak ada.Kalau kamu sakit gimana?”. Mas Reno dengan tatapan mengiba memohon.
Aku tidak punya pilihan lain, mau tidak mau berangkat dengan mas Reno. Mas Reno tampak tersenyum penuh kemenangan dan berjalan mendahuluiku untuk membukakan pintu mobil.
“Terima kasih mas tapi aku bisa membuka pintunya sendri”.
“Sayang sama pacar sediri kenapa kaku sekali seperti berbicara sama atasan saja, aku juga pengen sekali-kali ngobrol santai bermesraan dengan kamu”.
Aku hanya tersenyum kecut mendengar ucapan mas Reno.
“Aku bisa melakukannya sendiri mas, kamu tidak perlu repot-repot seperti ini”.
“Tapi aku tidak repot sayang, aku kan pacar kamu sudah menjadi tugas aku untuk menjaga dan memanjakan pacarku”. mas Reno tersenyum dengan menaikan alisnya.
__ADS_1
Berkali-kali mas Reno menegaskan statusnya sebagai “pacar” membuat aku semakin entahlah. Aku sendiri sampai saat ini tidak tau arah hubunganku dengan mas Reno akan berlabuh kemana.
“Sayang hari ini rencananya mau ngapain saja?”.
“Sepertinya aku akan pulang malam mas, akan ada peluncuran produk baru jadi pasti sibuk sekali untuk beberapa waktu ke depan”. Rahayu menjawab tanpa memandang Reno dan sibuk membaca pesan yang ada di grup wanya.
“Sibuk sekali ya? Wah harus lebih sabar lagi ini semakin di cuekin saja”.
Tiba-tiba suasana di dalam mobil menjadi hening, sejenak Rahayu mulai menyadari jika selama beberapa bulan menjalani hubungan dengan Reno dia seperti pohon pisang yang hanya mempunyai jantung tapi tidak memiliki hati.
“Sayang sampai kapan kamu akan bekerja seperti ini?” Tanya Reno dengan memegang tangan Rahayu.
Reflek Rahayu langsung melepas tangan tersebut.
“Maaf mas aku tidak terbiasa bersentuhan dengan lawan jenis”.
Reno tampak tersenyum dengan penuh kemenangan kembali.
“Sayang apa kamu tidak ingin berhenti bekerja setelah kita menikah nanti? Aku ingin kamu di rumah menemani anal-anak kita menyambut ku saat pulang kerja dengan senyuman termanismu itu ah pasti indah sekali”. Ucap Reno yang dengan mengendarai mobil lebih santai.
Uhuk...Uhuk...
Sontak membuat Rahayu tersedak hingga terbatuk-batuk mendengar ucapan Reno tersebut. Rahayu menatap Reno dengan mata terbelalak.
“Kita sudah sama-sama dewasa sayang, bukan remaja lagi yang hanya sekedar untuk main-main. Aku mencari ibu untuk anak-anakku kelak dan aku ingin sekali kamu menjadi ibu untuk anak-anakku”. Reno kembali menatap Rahayu dan sesekali melihat kearah depan karena harus fokus mengendarai mobil.
Deg....Deg....
Jantung Rahayu rasanya ingin copot mendengar penuturan Reno pagi itu suasana mendung yang syahdu rasanya berubah menjadi hawa yang panas.
Rahayu hanya mampu untuk menundukkan wajahnya seraya mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dalam mobil tersebut. Hubungan kami belum ada kemajuan sama sekali, belum ada rasa apapun di hatiku kenapa harus membahas pernikahan?.
“Sayang cobalah untuk mencintaiku dengan sepenuh hatimu, beri aku kesempatan untuk membahagiakan kamu, sungguh aku ingin sekali menjadikanmu ibu untuk anak-anakku kelak”. Reno kembali menatap Rahayu dengan tatapan mengiba.
__ADS_1
Aku hanya tertunduk tak mampu memberikan jawaban apapun pada mas Reno, karena aku sendiri masih tidak tau arah jalan hatiku kemana?. Selain itu aku juga masih syok dengan ucapan mas Reno rasanya semuanya terlalu cepat dan sangat tiba-tiba.
“Sayang pikirkan ucapanku ya, aku harap kamu bisa segera memberikan jawabannya”.
Deg Mas Reno membelai kepalaku.
Hal yang sama yang seperti biasanya dilakukan mas Andika ketika berada di dekatku dulu.
Aku sungguh tidak siap dengan semua perlakuan dan ucapan mas Reno padaku. Aku hanya mampu menundukkan kepala saja enggan untuk menanggapi omongan mas Reno.
“Mas sepertinya sudah sampai”, ucapku pada mas Reno yang kala itu masih terus melajukan mobilnya hingga melewati kantor tempatku bekerja.
“Oh iya sayang, maaf ya rasanya masih kurang waktu bersamamu, jadi pengen aku bawa kabur saja biar bisa lebih lama berdua denganmu”.
Aku hanya menggerakkan bola mataku saja.
“Hati-hati ya sayang, jangan capek-capek kerjanya, ada aku yang siap jadi tulang punggungmu”.
Mas Reno menyodorkan tangannya padaku, aku membalas dengan mengajaknya “tos”.
“Kok tos sih sayang”.
“Trus apa mas?”,
“Salim dong dan disayang tangannya, seperti orang itu”. Mas Reno menunjuk sepasang kekasih yang berada di sebrang kamu sedang berpamitan untuk bekerja. Sebarnya aku tau maksud dari mas Reno tapi aku tidak bisa melakukannya.
“Enak juga tos mas biar beda dari yang lain”. Ucapku seraya meninggalkan mas Reno dan bergegas menuju ke dalam kantor.
“Rahayu tunggu dulu”.
“Ada apa lagi mas?”, ucapku dengan sedikit kesal berkali-kali mengulur waktu untuk masuk kerja.
“Tolong pikirkan kembali ucapanku tadi, aku benar-benar serius, jika sudah menemukan jawabannya tolong segera beri tahu aku, jangan biarkan aku menunggu terlalu lama”.
__ADS_1