
Benar saja suara yang tidak asing untuk aku dengar, suara mas Dika dan mbak Eki rupanya mereka sedang berdebat entah permasalahan apa yang sedang mereka hadapi. Aku mencoba untuk memberanikan diri mendekat ke ruangan tersebut.
Tiba-tiba suara mbak Eki berubah menjadi tangisan yang tersedu-sedu disusul dengan mas Dika yang langsung keluar dari ruangan tersebut. Suasana lantai dua yang sepi semakin terlihat mencekam.
Apakah memang seperti itu masalah kehidupan pasangan yang sedang berpacaran?, sepertinya cukup berat sekali, aku lekas bangkit dan meninggalkan tempat itu sebelum mbak Eki melihatku dan menambah kesalah pahaman diantara kita.
***
Dua minggu berlalu ujian semester selesai sudah, selama dua minggu pula aku tidak pernah melihat mas Dika berkeliaran di kampus. Mungkin karena masa ujian jadi tidak ada kegiatan yang berarti selama di kampus.
Sejak pertengkarannya dengan mbak Eki beberapa waktu yang lalu komunikasi ku dengan mas Dika seakan mampet. Setiap malam aku selalu menunggu pesan masuk darinya berharap dia akan mengirim pesan atau menanyakan kabarku.
Aku tidak punya keberanian sedikitpun untuk memulai menghubungi mas Dika terlebih dahulu, aku merasa sudah menjadi pengganggu dia antara hubungan mereka meski aku menyadari lebih dari seratus persen jika mas Dika hanya mengaggap ku sebagai teman dan adiknya saja tidak mungkin ada celah di hatinya untuk seorang anak desa yang dekil.
Aku masih memainkan jemariku membuka dan menutup pesan text di sana, jemariku sungguh sangat gatal ingin menanyakan kabarnya?, perhatianku berpindah aku mencoba membuka facebook mencari kabar mas Dika di sana, aku tidak berharap lebih aku hanya ingin tau sedang apa dia dan di mana keberadaanya sekarang itu saja.
Sudah ku coba untuk mencari kabarnya di media sosial facebook tapi sepertinya sudah tidak aktif karena terakhir dia membuat status sudah setahun yang lalu.
Tak menyianyiakan kesempatan yang ada aku terus saja membuka-buka album foto di laman facebook mas Dika cukuplah sedikit mengobati rasa kangen yang kurasa.
Ada beberapa foto mas Dika yang masih menggunakan seragam SMA terlihat sangat lucu sekali dengan gaya rambut seperti vocalis kangen band yang dulu pernah hits pada masanya dilengkapi dengan gaya celana yang kebawah turun kedodoran dengan ikat pinggang yang sangat besar, rasanya ingin sekali aku membenarkan bentuk celana yang seperti itu.
Tampak di sana ada foto dia bersama kedua orang tuanya terlihat sangat harmonis keluarganya, pantas saja mas Dika ganteng sekali ternyata mewarisi wajah sang ibu yang sangat cantik keduanya sangat mirip hanya saja berbeda jenis kelamin. Aku tersenyum membayangkan menjadi bagian dari keluarga mereka.
__ADS_1
Semakin ke atas aku menemukan foto mas Dika bersanding dengan mbak Eki menggunakan kaos berwarna senada biru muda. Jika dilihat dari sudut pandang manapun mereka tampak sangat serasi layaknya seorang pangeran dan putri. Aku tersenyum kecut melihat foto ini bagaimana bisa aku seorang gadis desa yang dekil dan miskin ingin menggantikan posisi mbak Eki. Jika dilihat dari berbagai sudut padang manapun sepertinya memang memang tak layak.
“Kau hanya mimpi bagiku”
Semakin keatas aku menemukan foto keluarga besar, sepertinya dua keluarga besar yang sedang mengadakan pertemuan. Ku Pandangi satu persatu foto itu di sana ada mas Dika mbak Eki yang diapit dengan sepasang pasangan paru baya. Orang tua mas Dika dan sepertinya ini orag tua mbak Eki karena wajah mereka mirip. Ternyata sudah sejauh itu hubungan mas Dika dan mbak Eki.
Stalking merupakan cara mengenal dalam gengsi semakin aku mengobrak abrik isi album mas Dika, semakin terobrak abrik pula hatiku melihat kenyataan yang ada.
***
Pagi datang menyapa saat ini sudah mulai liburan semester, aku mulai bosan tidak ada kegiatan yang berarti yang bisa aku kerjakan. Saat libur semester seperti ini suasana kosan dan kampus semakin sepi karena semua mahasiswa sudah dapat dipastikan akan pulang.
Saat liburan semester seperti ini statusku berubah dari seorang mahasiswa menjadi upik abu ibu kos ku. Aku tidak keberatan dengan hal itu toh ini juga pekerjaan halal. Karena saat liburan sekolah aku tidak dapat berjualan molen dan donat maka aku membantu memasak ibu kos ku untuk tetap bertahan hidup di sini.
Aku mulai membuka kulkas menyiapkan beberapa makanan yang akan aku masak hari ini, bapak kos berpesan untuk dibuatkan urap-urap lengkap dengan ikan asin, tempe dan peyek. Sedikit susah memang masaknya dan membutuhkan waktu yang sangat lama.
“Yu ambillah masakannya untuk kamu makan juga”, terdengar suara ibu kos yang datang menghampiriku saat di dapur.
“Tidak usah bu terima kasih”, ucapku sambil menundukkan tubuhku. Tanpa banyak bicara seperti biasa saat aku membantu memasak ibu kos langsung mengambilkan makanan tersebut lengkap seperti yang mereka makan.
“Bawa untuk sarapan, teman kamu ada diluar menunggu cukup lama”
Aku tercengang mendengar ucapan ibu kos yang mengatakan ada teman yang menunggu di depan, bukan apa-apa tapi aku di sini tidak punya cukup banyak teman dan rata-rata temanku sudah pulang kampung semua menikmati liburan semester.
__ADS_1
Aku lekas berlari ke depan menghampiri teman yang katanya mencari ku. Aku terkejut melihat punggungnya.
“Mas Dika? Benarkah itu kamu?, aku lekas berlari menghampirinya apakah aku bermimpi.
“Mas Dika?”, panggil ku padanya dia lekas menoleh senyumnya mengembang tampak terlihat lesung pipinya di salah satu pipi membuat semakin manis.
“Hay bagaimana kabarmu?”, sapanya pertama kali padaku.
“Aku baik mas sehat”, jawabku rasanya aku ingin menanyakan banyak hal padanya tapi seperti biasa aku gugup dan mulutku terkunci sangat rapat.
“Kangen tidak sama aku?”, pertanyaan macam apa ini ingin aku jawab kangen sekali, kangen pake banget malah tapi sungguh mau ditaruh mana mukaku ini.
“Tidaklah”, jawabku datar.
“Ini apa? masakan kamu?” tanpa permisi mas Dika mengambil kotak makanku tadi “buat aku saja ya”.
“Emang mau? Itukan masakan orang desa, tidak ada ayam tau daging itu urap-urap sama peyek dan tempe menjeng”, aku mencoba menjelaskan pada mas Dika sebelum di cicipi makanan tersebut.
“Siap-siap dulu sana, ayo kita jalan-jalan, aku mau sarapan ini”. Tanpa benyak tanya dan pertimbangan aku lekas menuju kamar untuk berganti baju. Masih dengan baju yang sama, yang biasa aku gunakan saat keluar dengan mas Dika.
“Cantiknya”, puji mas Dika saat datang menghampirinya.
“Mas mbak Eki tau kah kalau kita mau jalan-jalan sekarang?”.
__ADS_1
“Buat apa harus ijin atau berpamitan dulu padanya, aku sudah putus sama dia”, dengan sangat enteng mas Dika menjawab pertanyaanku.
“Carikan teman kamu dong yang cantik dan baik hati, siapa tau ada yang mau sama aku tidak enak rasanya jadi jomblo seperti ini, atau bagaimana kalau kamu saja yang jadi pacarku sekarang?”