
“Mas Andika”.
Sapaku padanya dengan nada yang terbata-bata dan hati yang bergemuruh. Bagaimana bisa dia muncul di saat moment seperti ini.
“Apa kabar Rahayu?”
“Baik mas Alhamdulilah” Jawab Rahayu dengan memegangi dadanya yang bergemuruh.
“Di mana suami kamu?”.
“Mas Reno sedang mengambil makanan mas”.
“Mas Dika teman mas Reno kah?”. Tanya Rahayu ragu-ragu dan merasa canggung.
“Tidak begitu dekat tapi aku mengenalnya sekilas. Ayahku adalah sahabat ayah Reno mertua kamu”.
“Selamat menempuh hidup baru ya Yu semoga segala kebahagian slalu menyertai setiap perjalanan hidup kalian berdua. Sayang ya Yu kita tidak berjodoh, andaikan saja aku datang lebih cepat sedikit mungkin aku yang akan menjadi pangeranmu malam ini”.
Suasana tampak begitu canggung.
Rahayu bingung harus bersikap, di satu sisi dia bahagia sekali bisa melihat Andika kembali di sisi lain dia tersadar statusnya sebagai istri orang dan sudah berjanji untuk berbakti dan mengabdi pada suaminya.
“Mengapa kita dipertemukan kembali di saat aku sudah memakai baju pengantin seperti ini mas”. Bati Rahayu dalam hati yang berusaha ia tepis dengan begitu kuatnya.
“Mungkin kita bisa memilih mas dengan siapa hati kita mencintai, tapi sayangnya kita tidak bisa memilih jodoh sesuai dengan apa yang kita harapan. Karena tak selamanya hidup harus sesuai dengan karep (keinginan)”.
“Mas Dika orang yang baik, ganteng dan juga pintar pasti tidak akan sulit untuk mendapatkan wanita yang sempurna, buktinya di kampus dulu banyak sekali wanita yang terpesona dan mencintaimu mas”.
Rahayu mencoba menghibur Andika yang tampak kecewa.
“Kenapa kamu tidak?”
“Sayang kamu ngobrol dengan siapa? Aku bawa banyak makanan buat kamu nih coba lihat”.
Mas Reno tiba-tiba muncul dari belakang dengan membawa berbagai makanan dan minuman.
__ADS_1
Rahayu begitu terkejut dan takut Reno akan cemburu dengan sikapnya.
“Saya dari keluarga Maharaja. Ayah tidak bisa hadir kebetulan sedang tidak enak badan jadi saya yang menggantikan untuk menghadiri resepsi pernikahan kalian. Kebetulan saya baru datang dan ingin mengucapkan selamat ke pengantin tapi rupanya pengantin pria sedang tidak ada”. Jawab mas Andika membuatku bernafas lega.
“Kenalkan saya anak pertama keluarga Saputra nama saya Reno ini istri saya yang cantik dan menggemaskan namanya Rahayu. Eh tunggu sepertinya kita pernah bertemu”.
“Iya kebetulan kita satu kampus di Malang dulu pernah ikut acara di Batu yang buat persembahan drama ala-ala”. Tutur mas Dika pada mas Reno.
“Oh ya aku ingat saat itu kamu menjadi Rama aku menjadi Rahwana dan Rahayu menjadi Shinta. Wah maaf ya Dika sayangnya Shinta dalam dunia nyata menjadi istri Rahwana bukan istri Rama”. Mas Reno tersenyum mengatakan hal itu.
Sedangkan raut wajah mas Andika hanya mampu tersenyum kecut mendengar penuturan mas Reno.
“Mana ada Shinta menikah dengan Reno, sepanjang sejarah Shinta milik Rama”.Ungkap Andika dalam hati dengan kecewa.
“Oh ya selamat ya atas pernikahan kalian berdua, semoga lekas segera di beri momongan. Saya permisi dulu ya mau ambil makanan dan minuman kebetulan sudah lapar sekali”.
“Oh ya silahkan di nikmati hidangannya, satu lagi bro semoga Rama lekas menemukan Shinta yang lain ya”.
“Ini Shinta milikku”. Reno memeluk Rahayu dengan begitu posesifnya di depan Andika.
Kretek begitulah kira-kira hati Andika saat ini.
Andai saja Andika tahu jika ini adalah acara resepsi pernikahan Rahayu dengan Reno tentu dia tidak akan mau datang ke acara ini. Andika bergegas mencari tempat duduk di paling ujung pojok dengan membawa segelas minuman menahan gejolak hati yang sedang lara.
“Semoga ini yang terbaik untukmu Yu, semoga kamu bahagia dengan lelaki pilihan kamu, maafkan aku yang sudah terlalu lama membuatmu menunggu selama ini” Sesal Andika begitu dalamnya.
Karena merasa gerah akhirnya Andika memutuskan untuk melangkah keluar dan meninggalkan gedung tersebut. Sebenarnya udara dalam gedung tersebut cukup dingin hanya saja hati Andika yang begitu panas tak tertahankan melihat kemesraan Reno dengan Rahayu di depan matanya.
Andika keluar dari gedung dengan langkah yang gontai serta wajah begitu kusutnya, dia berjalan tak tau arah mau kemana, hanya sekedar mengikuti langkah kaki. Pikirannya begitu kosong hatinya begitu rapuh mendapati pujaan hati yang lama dicintai bersanding di pelaminan dengan orang lain.
Waktu sudah beranjak sore acara resepsi ngunduh mantu telah selesai beberapa tamu undangan sudah banyak yang pulang hanya meninggalkan beberapa saudara-saudara terdekat saja.
Reno dan Rahayu juga bersiap untuk pulang ingin lekas merebahkan tubuh di atas kasur yang empuk. Rasanya begitu lelah sekali seharian berdiri dan menyalami para tamu undangan yang datang.
Setelah sampai rumah keluarga Reno lekas masuk ke dalam kamar masing-masing, sedangkan keluarga Rahayu langsung bertolak ke kota mereka saat itu juga.
__ADS_1
Rahayu dan Reno menuju kamarnya. Reno membantu melepaskan baju Rahayu yang berat dan membantu membereskan beberapa aksesoris yang melekat pada kepala istrinya.
“Mas maaf ya”. Ucap Rahayu dengan hati-hati pada Reno.
“Maaf kenapa sayang?”. Tanya Reno yang saat itu sedang membantu Rahayu mengambil satu persatu jarum pentul yang melekat pada kepalanya.
“Mas maaf ya sebenarnya yang tadi ngobrol sama aku itu mas Andika, orang dalam foto album yang pernah kamu lihat beberapa hari yang lalu itu”.
“Apa? Kenapa tidak bilang dari tadi? Kenapa baru bilang sekarang?”.
“Untuk apa mas?”. Tanyaku dengan heran.
“Aku ingin mengatakan padanya untuk tidak menggangu istriku lagi”.Ucap Reno dengan kesal.
“Mas tenang mas Dika tidak pernah menggangguku, gitu kan langsung emosi aja mangkanya aku gak mau bilang langsung tadi”. Tutur Rahayu memelas merayu suaminya.
“Gimana tidak emosi istriku di ajak ngobrol, tadi ngomongin apa saja”. Mas Reno menatapku tajam lewat pantulan cermin di depanku.
“Tidak ada mas, mas Dika hanya mengucapkan selamat saja padaku”. Ucapku dengan sungguh-sungguh.
Mas Reno masih terdiam dan begitu kesal.
Rahayu membalikkan badannya menghadap suaminya.
Dan.
Cup Rahayu sekilas mencium bibir suaminya agar tidak marah lagi.
“Mas cemburu?”.
“Buat apa mas? Sekarang aku ada di sini bersamamu milikmu sekarang dan selamanya”. bisik Rahayu tepat di telinga suaminya sengaja ingin menggoda Reno.
“Jadi gimana masih cemburu?”.
Reno yang gemas dengan sikap istrinya langsung menarik Rahayu dalam pelukannya tak lupa dengan ciuman mesra keduanya.
__ADS_1
“Awas ya kamu, coba sekarang sudah tidak halangan pasti sudah...”.
“Hem sabar mas dua hari lagi”. Ucap Rahayu dengan cekikikan.