
Tak terasa kami berkeliling cukup lama, rupanya mas Andika orangnya asik juga, dia tidak memandang rendah seseorang dari status sosialnya. Dia tidak malu berteman dengan ku dan mengajak ku jalan-jalan. Padahal dari segi penampilan kami terlihat sangat beda jauh.
Mas Andika yang terlihat bersih, ganteng dengan balutan pakaian yang sederhana namun tetap terlihat berkelas, berjalan beriringan dengan ku yang memakai baju sisa seragam baju khusus SMA yang aku padukan dengan rok warna hitam, serta kerudung yang tak beraturan warnanya putih menuju kuning. Benar-benar kontras layaknya pangeran yang sedang berjalan dengan pelayannya.
“Dimana kos mu?”
“Oh itu jalan depan lurus saja, ada pertigaan di gang depan masuk belok kiri, kos ku di sebelah masjid” dengan spontan tangan ku menunjukan arah jalannya.
Mas Andika mengendari sepeda nya dengan pelan sesuai arahan yang aku berikan dan kami sampai di kos ku. Aku tidak menawarkan untuk singgah karena memang peraturan kos tamu pria di larang masuk. Ini pengalaman pertama aku di antar cowok selain bapak ku.
“Maaf mas tidak bisa mengajak masuk, terima kasih untuk bantuan HP nya dan trimakasih sudah mengantarkan pulang”. Dengan membungkuk kan tubuhku, sebagai ungkapan rasa terimakasih.
“Sama-sama, lekas istirahat lah dan tunggu kabar dari ku mengenai trial selanjutnya dilaksanakan, aku permisi dulu”.
“Aku pulang dulu ya” Mas Andika mulai menyalakan sepedanya.
Aku masih berdiri di depan kos. Rasanya ini seperti mimpi, aku masih tidak percaya. Mas Andika meminjamkan HP untuk ku, mengajak ku makan dan mengantarku pulang. Tiba-tiba hatiku dipenuhi dengan tanaman bunga yang siap panen, wanginya yang semerbak dengan warna-warni yang indah, ah trimakasih mas hari ini aku bahagia sekali.
Sesampainya di kamar aku mulai membuka HP yang di berikan mas Andika padaku, rupanya di sana sudah ada kontak no mas Andika, yang diberi nama Andika 2010. Ah rasanya tidak cocok jika hanya di beri nama Andika 2010. Aku mengganti kontak namanya menjadi mas Sholeh. Dengan harapan semoga kelak kamu bisa jadi imam ku yang sholeh mas. Mimpi aja lah dulu siapa tau gitu, meski aku tau kamu bukan milikku kamu diluar jangkauanku mas.
Selang beberapa saat kemudian, ada pesan masuk
“Gaes besok trial lagi ya jam 09.00 di Agrokimia harap tidak molor”. Rupanya mas Andika yang mengirim pesan.
“siap mas” dengan emo senyum aku kirim pesan ke mas Soleh.
***
Keesokan harinya seperti yang sudah di sepakati bersama akan diadakan trial ke 2. Kali ini semua anggota full yang datang. Trial dimulai, aku mulai membantu mbak Sarah dan mbak Eki untuk memisahkan daun cincau dengan ranting-ranting nya.
Mas Dimas mulai membeli LPG yang kebetulan saat itu sedang habis, sedangkan mas Andika mulai mencari air yang di gunakan untuk memasak daun cincau. Setelah beberapa saat kemudian trial bisa di mulai.
Pertama dengan mengisi panci yang besar dengan air kemudian di tunggu hingga mendidih dan mulai memasukan dun cincau yang ada. Daun cincau terus di aduh ampai benar-benar semua sari-sarina keluar, lantas disaring dan di jemur, kemudian akan di bentuk evervesen.
__ADS_1
Trial ke dua kali ini ada sedikit kendala, karena menggunakan daun cincau sisa trial pertama, maka daun yang digunakan sedikit layu sehingga berpengaruh pada hasil akhir produk.
“Teman-teman seperti nya trial ke 2 kita gagal” ucap mas andika pada anggota yang lainnya.
“Kita coba lagi ya, nanti kita ambil daun cincau lagi” Ucap mbak sarah menanggapi.
“Kita tidak punya waktu lama, kita harus lekas memberikan proposal pendahuluan pada dosen pembimbing” mbak Eki menangapi.
“Maaf dik, kali ini aku tidak bisa mengambil daun cincau, aku ada kelas sampai sore, lanjut ada pertemuan dengan teman-teman PMII” mas Dimas memberikan jawaban sebelum pertanyaan tertuju pada nya.
“Siapa yang hari ini kosong? Kita harus lekas mencari daun cincau besok pagi harus trial kembali”
“Aku ada kelas dik hari ini sampai sore, aku kan satu minat dengan Dimas” jawab mbak Sarah.
“Aku juga kan sama yang satu kelas dengan Dimas dan Searah” ujar mbak Eki.
Dari ke empat kakak tingkat yang lain, mas Andika memang yang berbeda minat, jika mbak Sarah, mbak Eki dan mas Dimas di minat bisnis pangan sedangkan mas Andika ke murni.
“Aku kosong mas” jawab ku dengan hati-hati.
“ya sudah aku sama Rahayu yang akan cari daun cincau, dim tolong kasih arahan tempatnya di mana?”
“Adek Rahayu yang cantik, titip mas Andika ku ya, jangan macem-macem dijalan” ucap mbak Eki dengan sedikit ketus dengan tatapan mata yang sedikit menindas.
“Apa”a sih kamu? Biasah aja, kita cuma mau cari daun cincau” mas Andika yang menjawab.
Ya udah ayo rapikan lab nya, aku dan ayu akan segera pergi.
Aku dan mas Andika lekas menuju parkiran,
Kali ini mas Andika menggunakan sepeda Vario, banyak bener sepeda nya kemaren beat, oh iya orang kaya.
“Kamu sudah siap yu? Ayo naik” ajak mas Andika.
__ADS_1
Aku menggunakan kepala lalu naik di boncengan mas Andika, setelah itu mas Andika langsung melajukan sepeda nya.
Berada dalam boncengan mas Andika merupakan sesuatu yang sulit bagiku. Aku harus menahan nafas, jarak kita sangat dekat. Bahkan badan kami hampir berdempetan. Entah Molto jenis apa yang digunakan mas Andika di bajunya, harum nya sengat memabukkan dan menenangkan.
Bukan hanya bau molto di bajunya, bau sampo yang dia gunakan rasanya tercium sangat harum di hidungku. Oh Tuhan ini kah cobaan atau rezeki.
Beberapa menit melajukan motor, tiba -tiba hujan turun dengan sangat derasnya. Kami memutuskan untuk berteduh di depan ruko, karena mas Andika tidak membawa mantel dan aku juga tidak membawa jaket.
Aku dan mas Andika mulai turun dan berteduh di depan ruko yang tertutup itu, bajuku sedikit basah terkena hujan. Aku berdiri dengan memeluk tubuhku sendiri, ternyata Malang kalau hujan dingin sekali.
Tiba-tiba mas Andika melepaskan jaketnya yang tidak terlalu basah dan memberikan padaku.
“Pakai saja, kamu pasti belum terbiasa dengan cuaca di Malang yang kalau hujan pasti dingin sekali”.
Belum sempat aku menjawab mas Andika sudah memakaikan jaketnya.
Rasanya jantung ku berdegup sangat kencang, aku takut mas Andika mendengarnya, karena posisi kami yang terlalu dekat aku malu.
Mas plis jangan seperti ini, nanti aku salah mengartikan semua kebaikan kamu, atau kah memang seperti ini perlakuan cowok ketika berteman dengan cewek?. Aku tidak berpengalaman berteman dengan cowok, mayoritas teman-teman ku saat SMA cewek. Dulu waktu SMA 1 kelas IPA cowoknya hanya 6 biji.
“Sudah sedikit reda kita lanjut lagi yuk,” ajak mas Andika sambil sesekali menatap langit arah tujuan kita.
Seperti biasa aku hanya mengangguk kan kepala saja.
“Mas jaketnya” sambil aku serahkan jaket pada mas Andika.
“Kenapa? Pakai saja baju kamu kan sedikit basah, kamu juga belum terbiasa cuaca di Malang yang dingin”
“Aku sudah pakai baju lengan panjang mas, mas Andika kan pakai baju pendek” jawab ku.
“Sudahlah adek kecil pakai saja jangan rewel” sambil mas Andika mengelus kepala ku.
Oh tidak aku mematung dibuat nya.
__ADS_1