
Kalian tanya aku bagaimana?.
Aku masih tetap hidup walau sebagian hatiku sudah mati terbawa kasih tak sampai ku.
Hatiku terasa sangat kosong.
Aku masih sering menangis mengingat mas Andika dengan segala kebaikannya.
Ada penyesalan yang mendalam hingga tidak dapat di ungkapkan, mengapa aku dulu tak pernah mau jujur untuk mengatakan aku sayang sama mas Andika.
Sari dan Nina dua sahabat terbaikku yang slalu menemani dalam segala kondisi, mereka berdua berusaha untuk kembali menyadarkanku untuk kembali bangkit.
Mereka mengingatkan tentang tugas akhir yang harus segera aku kerjakan agar tahun depan bisa lulus sesuai yang telah kami cita-citakan bertiga waktu itu.
Iya aku harus bangkit, aku harus menyelesaikan kuliah ini dengan semangat bukankah jatah beasiswaku hanya sampai semester delapan saja.
Kuliah semester delapan berjalan lancar, tak banyak mata kuliah yang aku ambil di semester ini karena semua mata kuliah sudah hampir habis aku ambil di semester-semester awal. Praktikum pun sudah tidak ada sama sekali, aku hanya tinggal mengerjakan tugas akhir skripsi sebagai syarat lulus tingkat sarjana.
Sebenarnya aku tak berkewajiban membuat skripsi karena, aku sudah pernah ikut Pimnas dan mendapat mendali emas kala itu.
Aku juga mendaftar menjadi asistan praktikum seperti yang di lakukan mas Andika dulu untuk mengisi kekosongan hari-hariku.
Aku juga membantu proyek salah satu dosenku yang ada di Probolinggo.
__ADS_1
Aku suka sibuk aku suka banyak kegiatan dengan begitu aku lekas segera bisa move on dari bayang-bayang mas Andika.
Kini hari-hariku di isi dengan membantu proyek dosen, kali ini proyeknya membahas tentang “kucuran kredit pada UMKM se kabupaten Probolinggo”. Dalam satu minggu aku bisa dua kali pulang pergi dari Malang ke Probolinggo untuk mencari data-data yang diperlukan.
Hasil jerih payah sebagai asisten dosen dan asisten praktikum aku kumpulkan seluruhnya, akut tidak pernah mengambil sedikitpun dari hasil itu, untuk makan sehari-hari aku menggunakan uang beasiswaku, aku sudah tidak lagi membantu ibu kos ku untuk mencuci dan menyetrika baju. Layaknya seorang anak sendiri dosen pembimbingku memberiku kesempatan untuk tinggal di salah satu kos milik beliau.
Enam bulan berlalu semenjak aku menjadi asisten dosen, terkumpul sejumlah uang yang lumayan. Aku memutuskan untuk pulang sebentar saat liburan semester. Kali ini aku ingin mengajak ibuku berbelanja kain batik yang akan di gunakan saat wisuda nanti.
Aku mengamati setiap kali ada wisuda pendamping dan keluarga yang datang kebanyakan menggunakan baju sarimbit satu keluarga. Biasanya baju yang dipakai kalau tidak kebaya dan jas atau batik. Aku memilih batik untuk seragam keluargaku sepertinya lebih pas dan cocok. Rasanya kalau harus pakai jas bapak juga pasti tidak akan mau dan akan terlihat lebih aneh.
***
“Assalamualaikum, ibu bapak Rahayu pulang, apa kabar semuanya?”.
Ibu bapakku lekas memelukku dengan erat seperti sudah lama sekali tidak bertemu. Beberapa hari di rumah aku mengajak ibu untuk belanja ke pasar.
“Bu ayo ke pasar cari kain batik”. Ajakku paa ibu yang sedang memasak di dapur.
“Batik buat apa nak?”. Tanya ibuku yang tampak heran.
“Batik buat seragam nanti pas wisudaku buk, enam bulan lagi aku wisuda nanti biar bisa segera di jahit”.
“Tapi nak tapi”. Ibu tampak ragu-ragu dan aku mengerti permasalahannya. Ibu pasti tidak punya uang. Jangankan untuk membeli kain batik untuk makan saja keluargaku masih susah. Tradisi baju baru saat lebaran di keluarga kami jiga tidak ada.
__ADS_1
“Rahayu sudah ada uangnya, bu tenang saja, nanti ibu tinggal bantu pilih model dan warnanya saja”. Aku tersenyum sembari menatap ibu.
Kami berdua pergi ke pasar tradisonal di di kota kami menggunakan angkot yang biasanya lewat di depan gang rumah, aku dan ibu berkeliling pasar mendatangi satu persatu penjual kain di sana. Pilihan terkunci pada batik warna merah marun dengan motif warna gold. Sepertinya ini sangat cocok di pakai dari usia muda sampai tua mengingat adik-adikku masih kecil jadi harus cari motif yang kiranya pas juga di pakai anak-anak.
Selain membeli kain aku juga membeli bakal untuk kebaya lengkap dengan kain motif songket untuk bawahannya, kali ini aku memilih kebaya senada dengan batik yang dipakai keluargaku kebaya warna merah. Aku ingin membuat sesuatu yang istimewa saat wisuda nanti. Aku ingin meninggalkan kesan yang berbeda untuk orang tuaku dan keluarga mengingat aku adalah satu-satunya orang pertama yang bisa merasakan bangku kuliah di keluargaku.
Selain membeli kain batik dan kebaya aku juga mengalokasikan tabunganku untuk biaya jahit baju dan biaya transportasi sewa mobil dari kotaku ke Malang. Aku tak ingin merepotkan bapak dan ibu jadi kupastikan saat wisuda nanti mereka hanya tinggal berangkat saja.
Aku juga membeli beberapa makanan tradisonal dan jajan-jajan kecil untuk ketiga adik-adikku di rumah pasti mereka suka sekali. Tak lupa aku membelikan susu uht dan ice cream untuk mereka. Bukan apa-apa sekelas ice cream saja bagi keluargaku itu makanan yang langka dan hanya bisa di nikmati saat aku pulang kampung ke rumah saja.
***
Setelah satu minggu pulang kampung aku kembali ke kampus, kembali disibukan dengan segala rutinitas dan tanggung jawab. Saat siang hari aku akan menghabiskan banyak waktu untuk di kampus membantu dosen dalam beberapa proyek, sedangkan saat sore biasanya aku akan memberikan praktikum pada mahasiswa semeter bawah. Sedangkan malam harinya aku habiskan dengan mengerjakan tugas skripsiku sendiri.
Kesibukan yang semakin padat sejenak bisa membuatku lupa akan sosok mas Andika. Hanya di malam-malam saat ku sudah penat dengan segala aktivitas dan rutinitas dalam hidupku aku kembali mengingatnya kembali. Seperti biasanya saat mengingat sosok itu aku akan kembali menangis dan meraung-raung menyesali setiap tindakan dan kebodohanku selama ini.
Sejenak saat malam tiba ketika sedang teringat akan sosoknya aku mencoba mencari keberadaanya. Aku mencoba menghubungi kembali nomornya namun sayangnya nomor itu sudah tidak dipakai karena mas Andika berada di luar negri.
Aku juga mencari keberadaanya di beberapa sosial media yang ada namun hasilnya masih sama semuanya tak ada. Aku tidak menemukan apa-apa sama sekali. Mas Andika seolah menghilang tanpa jejak.
Untuk saat ini yang aku rasakan pada seorang pria adalah mati rasa. Sepeninggalan mas Andika kala itu membuatku enggan untuk membuka hati lagi pada seorang pria.
Ah sudahlah baiknya fokus dulu pada pendidikan yang lekas akan berakhir ini.
__ADS_1