
Satu bulan berlalu aku kembali dengan segala rutinitas pekerjaan yang lebih padat dari biasanya. Sungguh aku sangat senang kala mendapat kesempatan untuk promosi jabatan. Selain gaji dan tunjangan yang diberikan perusahaan semakin besar tentunya aku juga akan semakin sibuk dengan pekerjaanku.
Satu bulan pula hubunganku dengan mas Dika kembali kandas, benar-benar tak ada kabar dan tak ada yang bisa kuharapkan lagi dari kisah kami. Pikiran warasku berkata untuk menyuruh berhenti berharap dengannya. Namun hati bodohku menyuruh untuk menunggunya kembali. Setiap malam yang kulakukan adalah menatap fotonya yang ada di galeri ponselku saat kami berada di Malang bulan lalu, tak lupa aku slalu memantau sosial medianya sayangnya tak ada informasi terbaru yang di publish.
Perasaan sedih dan sakit hati akan perilakunya yang kembali mencampakanku, namun rasa sayang padanya lebih besar dan tak mau berhenti dengan begitu saja. Ingin rasanya aku mengeluarkan jantung dan hatiku kemudian menginstal ulang, mengeluarkan semua bayang-bayang tentangnya agar bisa hilang dan kembali bersih.
Butiran bening tak diundang kembali datang menjadi saksi betapa bodohnya aku sebagai wanita yang menyianyiakan pria yang sangat baik dan menunggu suatu yang tidak pasti datangnya. Bayangannya tak pernah bisa lekang oleh waktu. Seberapa besar dia membuatku kecewa tapi lagi-lagi rasa sayangku mengalahkan semuanya.
Bagaimana hubunganku dengan mas Reno? Aku berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja, namun sayangnya tidak dengan mas Reno.
Sikap mas Reno masih sama seperti dulu. Mas Reno tetap dengan segala kebaikan dan perhatiannya. Mas Reno masih sering mengantar jemput saat aku pulang kerja. Mas Reno masih setia memberi kabar setiap aktivitas yang sedang dia lakukan. Meskipun aku slalu mengacuhkannya tapi sayangnyanya usahanya tak pernah putus.
Mas Reno tahu jika aku masih sendri dan laki-laki yang kutunggu tak juga datang membuatnya semakin extra dalam usaha mendekatiku. Mas Reno tidak hanya perhatian denganku dia mampu mencuri hati ibu bapak dan keluargaku. Diam-diam tanpa sepengetahuanku mas Reno sering mengirimkan beberapa barang untuk adik-adikku. Mas Reno juga sering berkabar dengan ibu dan bapak meski hanya lewat udara.
***
Hari ini tepat malam minggu, hampir satu tahun sudah sejak mas Dika menghilang, aku mulai melangkah menuju hidup yang baru. Aku benar-benar berusaha untuk melupakan mas Dika tapi tidak dengan menerima cinta mas Reno. Aku akan menerima laki-laki jika memang hatiku sudah benar-benar siap.
“Yu sore nanti sibuk tidak ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan”. Pesan Wa dari mas Reno yang sudah satu jam lalu baru terbuka.
“Sepertinya aku akan pulang malam mas, ada beberapa dokumen yang harus aku selesaikan”. Balasku pada mas Reno setelah berfikir selama beberapa menit.
“Baiklah kalau gitu nanti aku jemput di tempat kerja malammu malam nanti”. Aku mengerutkan dahiku membaca pesan mas Reno.
“Mas Reno sungguh benar-benar pantang menyerah ditolak sekali maka akan datang sepuluh kali”. Aku menghela nafas panjang tak menjawab pesan mas Reno.
__ADS_1
Tepat pukul tujuh malam mas Reno sudah berada di depan kantor menungguku. Beberapa kali suara panggilan ponsel berdering. Aku risih mendnegarnya.
“Yu angkat dulu teleponnya, siapa tau penting dari tadi bunyi terus”. Ucap rekan kerjaku yang malam itu sedang lembur bersama.
“Maaf maaf membuat teman-teman tidak nyaman karena suaranya, aku keluar sebentar terima telfon ya”. Aku bergegas keluar ruangan sebentar untuk menerima telfon. Benar dugaanku mas Reno yang menghubungiku.
“Halo Yu kamu mau sampai kapan kerja? Mau tidur di kantor?”.Ucap mas Reno.
“Masih ada pekerjaan yang harus ku seleaikan mas”.
“Inikah hari sabtu, kamu kerja sudah lebih dari waktu yang seharusnya. Aku sudah menunggumu di depan jangan coba-coba untuk pulang tanpa memberiku kabar”.
“Iya mas, maaf membuatmu menunggu”. Aku melirik jam dan mendapati waktu sudah lebih dari pukul delapan malam.
“Aku akan menunggu sampai kapanpun”.
“Yu masih ada berapa dokumen lagi yang harus di periksa”. Tanya atasanku kala itu.
“Masih sekitar lima dokumen bu”. Jawabku dengan merapikan beberapa dokumen yang sudah terselesaikan.
“Lanjut hari senin saja yuk, ini sudah terlalu malam untuk hari sabtu. Suami Dan anak-anakku pasti sudah karatan menunggu”.
“Baik bu”. Dengan senang hati aku merapikan semua dokumen yang ada di meja tersebut dan bersiap-siap untuk pulang tak lupa aku mengunci ruangan tersebut memastikan bahwa semua dokumen aman.
Kali ini tidak alasan lagi untuk menghindar aku lantas menemui mas Reno yang berada di luar sana. Berharap dia akan marah padaku karena lelah menunggu dan akan mengacuhkan ku lantas akan pergi menjauh.
__ADS_1
“Hay sudah selesai pekerjaannya”. Sapa mas Reno seraya melambaikan tangannya padaku.
Ternyata aku salah dia sama sekali tak marah padaku, entahlah aku harus bahagia atau tidak mendapati lelaki seperti ini.
“Sudah mas, jadi mau kemana?”. Tanyaku pada mas Reno.
“Aku ingin mengajakmu makan malam”.
Kami berdua berlalu meninggalkan tempat kerjaku menuju restoran yang sudah di pilih mas Reno. Mobil kami membelah padatnya jalan saat malam minggu dan berhenti di salah satu restoran mewah yang ada di Surabaya.
“Mas Kenapa harus makan di sini?”.
“Tidak papa aku hanya ingin menikmati malam ini denganmu saja, sesekali boleh dong makan malam romantis denganmu”.
Kami berdua berlalu menuju ke dalam restoran tersebut, di sana kami sudah. Nuansa romantis sudah terasa sejak pertama kali melangkah ke dalam restoran tersebut. Rata-rata pengunjungnya adalah muda-mudi yang berpasang-pasangan.
Mas Reno memilih meja yang menghadap ke taman. Mas Reno menarik satu kursi tersebut dan mempersilahkan aku untuk duduk dengan nyaman. Begitu kami berdua duduk seorang pelayan restoran tersebut datang membawa buku menu. Sebelum pesanan makanan datang kami membicarakan beberapa hal tentang pekerjaan yang berkaitan dengan bahan baku karena mas Reno memang supplier terbesar bahan baku produksi tempat ku bekerja.
Tiga puluh lima menit kemudian makanan yang kami pesan sudah datang. Kami berdua menikmati makanan tersebut karena memang sangat lapar. Sepanjang makan malam kami juga banyak bercerita tentang kualitas dan mutu bahan baku untuk menghasilkan produk yang bagus.
Tak terasa satu jam berlalu, semua makanan sudah habis kami makan. Aku bergegas untuk bersiap-siap pulang mengemasi beberapa barang ku yang sempat berserakan di atas meja tersebut.
“Tunggu Yu”. Mas Reno meraih tanganku mencegahku berdiri.
“Yu ini sudah lebih dari satu tahun sejak aku merelakanmu untuk dia, sudah satu tahun pula dia tak kembali. Sesuai dengan janjiku. Aku akan kembali menjadikan kamu milikku”.
__ADS_1
Deg.
NB : Maaf ya teman-teman jika kurang baik dalam merangkai kata-kata. Ini novel pertamaku.mohon dukungannya ya. Jangan tinggalkan ku love teman-teman semua ❤️