Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Keadaan Reno


__ADS_3

“Wassalamualaikum”.


Dengan terbata-bata Rahayu membalas salam seorang polisi yang berada di sebrang sana.


Polisi tersebut terus saja berbicara tanpa jeda hingga tak terasa butiran bening meleleh begitu saja dengan mudahnya di pipi Rahayu. Tangannya bergetar dengan begitu hebatnya wajahnya seketika berubah menjadi pucat pasi.


“Ada apa nak?”.


“Ada apa?”.


Yah mas Reno mas Reno yah.


Rahayu terhuyung ke lantai dan menjatuhkan ponselnya begitu saja.


Melihat kondisi menantunya yang tampak syok dengan sigap ayah Reno meraih ponsel tersebut dan menjawab setiap ucapan yang dikatakan oleh polisi tersebut.


Reaksi ayah Reno pun sama tak kalah kagetnya dengan berita kabar anak laki-laki satu-satunya mengalami kecelakaan dan sekarang sedang di bawa ke rumah sakit Pelita Bangsa.


“Yah ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi pada Reno? Kenapa kalian berdua diam saja?”.


Rahayu dan ayah Reno masih diam tak bergeming keduanya begitu syok mendengar kabar tersebut.


“Mas katakan apa yang terjadi?”. Rengek bunda pada ayah untuk ke sekian kalinya.


“Reno bun”.


“Reno kecelakaan sekarang ada di rumah sakit Pelita Bangsa”.


Bunda Reno tak kalah syoknya setelah mendengar kabar tersebut dua wanita beda generasi tersebut sama-sama terhuyung di lantai.


Ayah mas Reno lekas memanggil sopir pribadi untuk mengantarkan kami bertiga ke rumah sakit. Tak membutuhkan waktu yang lama beberapa menit kemudian sopir sudah siap di depan pintu ruang tamu dan mengantarkan kami ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan air mata Rahayu mengalir dengan begitu derasnya tanpa bisa untuk di bendung.


Ayah mas Reno adalah satu-satu orang yang paling tegar di atara kami bertiga. Bunda pun sama kondisinya tak kalah mengkhawatirkan denganku.


Sesampainya di rumah sakit ayah langsung menuju resepsionis untuk menanyakan keberadaan mas Reno ada di mana?.


Ternyata mas Reno masih berada di ruang IGD. Dari kejauhan wajah tampan mas Reno terlihat sangat pucat dengan darah yang masih mengalir di beberapa bagian tubuhnya.


Rahayu begitu tak berdaya melihat suaminya dalam keadaan seperti itu. Mendadak tubuhnya lemas sekali dan wajahnya semakin pucat.


“Rahayu Yu minum dulu nak”. Ayah menyerahkan satu botol air mineral pada Rahayu.


Rahayu meraih gelas tersebut dan meneguknya hingga hanya tersisa setengahnya.


***

__ADS_1


Di ruang IGD


Para medis yang terdiri dari beberapa dokter dan perawat sudah bersiap untuk melakukan tindakan selanjutnya untuk mas Reno.


“Tensinya sangat rendah 70/70, denyut nadi pasien sangat lemah, pasien tidak sadarkan diri”.


Ucap salah satu perawat yang memeriksa Reno.


“Siapkan ruang operasi sekarang juga”. Perintah salah satu dokter bedah dalam ruangan tersebut.


Beberapa saat kemudian perawat keluar dari ruang IGD tersebut, dengan sigap Rahayu langsung menghampirinya.


“Suster bagaimana keadaan suami saya”.


“Pasien harus lekas di operasi ada penyumbatan pada kepalnya, ada patah tulang juga di kaki bagian kanan”.


“Lakukan yang terbaik untuk suami saya suster”.


“Silahkan segera urus semua administrasinya”.


Dengan sigap Rahayu dan ayah Reno lekas mengurus semua yang persyaratan yang harus di lengkapi agar lekas bisa melakukan tindakan.


Dokter penyakit dalam,dokter bedah sedang melakukan briefing sebentar di ruang IGD, sedangkan mas Reno sudah di pindahkan menuju ruang operasi. Selama proses pemindahan Reno ke ruang operasi Rahayu begitu setia mendampingi di sisi berakar yang membawa suaminya.


“Tolong lakukan dan berikan yang terbaik untuk anak saya”.Titah ayah Reno pada dokter yang menuju ruang operasi tersebut.


Para dokter tersebut berlalu dan masuk ke dalam ruang operasi.


Satu jam berlalu, lampu ruang perasi masih berwarna hijau belum ada tanda -tanda operasi akan selesai.


Dua jam kemudian, lampu operasi masih menampakan warna yang sama. Rahayu semakin gusar dibuatnya. Hatinya begitu tidak tenang membayangkan segala kemungkinan yang terjadi pada suami yang baru menikahinya.


“Ya Allah tolong selamatkan suami hamba, berilah kemudahan dan kelancaran operasinya”.


Tak henti-hentinya sepanjang waktu operasi Rahayu melantunkan segala doa yang dia bisa.


Tiga jam berlalu, beberapa perawat terlihat sibuk keluar dan masuk ruang operasi, sepertinya ada hal yang menegangkan diruang operasi. Salah satu perawat tampak keluar ruang operasi dengan mimik wajah yang pucat tergambar kesedihan di wajahnya.


“Suster jadi bagaimana keadaan suami saya? Kapan selesainya operasinya suster?”.


Rengek Rahayu dengan begitu khawatirnya pada suster yang beru saja keluar dari ruangan tersebut.


Perawat itu diam sejenak dan memandang Rahayu.


“Anda saudara pasien yang sedang didalam?”.

__ADS_1


“Saya istrinya sus”.


“Sebenarnya bukan wewenang saya utuk memberi tahu, saya di sini hanya perawat biasa yang sedang membantu dokter untuk melakukan operasi. Mbak banyak berdoa saja, saat ini dokter sedang berusaha memberikan pertolongan terbaik di rung operasi”.


“Sebenarnya pasien tadi sempat mengalami henti jantung dan juga pendarahan yang begitu hebat”.


Deg.


Rahayu kembali terjatuh ke lantai mendengar penuturan perawat tersebut, dengan sigap perawat tersebut memapahnya dan menundukkan Rahayu di salah satu kursi yang ada di depan ruang operasi.


Bunda lekas meraih dan memeluk menantunya tersebut, berusaha sekuat tenaga untuk saling menenangkan satu dengan yang lainnya.


Setelah lima jam berlalu, akhirnya salah satu dokter keluar dari ruang operasi dan menemui ayah mas Reno.


“Pak kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi karena keadaan pasien yang cukup parah, pasien”.


Dokter tersebut menjeda sejenak ucapannya, melihat kondisi keluarga pasien terlebih dahulu apakah sudah siap atau tidak mendengar berita yang akan di sampaikan.


“Lanjutkan dokter”. Titah ayah mas Reno.


“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin pak, tapi karena luka pasien yang cukup parah dan pasien mengalami banyak kehilangan darah maka kondisinya saat ini sedang kritis. Pasien juga sempat mengalami henti jantung dalam beberapa saat tadi. Kami tidak bisa memberikan harapan palsu pada keluarga pasien, karena berdasarkan hasil analisis tim medis harapannya hanya tinggal dua puluh lima persen untuk kembali sadar”.


Deg.


Mendengar penuturan dokter terebut Rahayu semakin menangis sejadi-jadinya tubuhnya terasa begitu ringan dan semua tampak gelap seketika.


“Ya Allah mas Reno suamiku”.


Rahayu menutup mukanya dengan kedua telapak tangan menangis dengan sesenggukan.


“Saya permisi dulu, silahkan jika ada salah satu dari keluarga pasien yang hendak menjenguk ke dalam, satu-satu ya pak”. Pesan dokter tersebut dan berlalu meninggalkan ayah Reno.


Tak menyianyiakan hal itu Rahayu lekas meminta izin pada ayah dan bunda Reno untuk masuk terlebih dahulu menemui Reno.


Rahayu terduduk di kursi sebelah ranjang Reno.


Reno terlihat begitu tak berdaya dengan banyak perban di mana-mana dalam tubuhnya.


Rahayu meraih tangan Reno dan menggenggamnya.


“Mas ini aku istrimu, kata mas Reno tadi pagi aku harus siap-siap Rahayu sudah siap mas, bahkan aku sudah melakukan perawatan tubuh demi mempersembahkan yang terbaik untukmu malam ini. Mas aku sudah siap untuk meyerahkan seluruh jiwa dan ragaku malam ini padamu huhuhu”.


Tangis Rahayu kembali pecah.


Bangun mas.

__ADS_1


😭😭😭


__ADS_2