
Pagi ini kegiatan belajar mengajar sudah mulai aktif kembali setelah liburan semester, Malang mulai ramai dengan hiruk pikuk mahasiswa dengan segenap aktivitasnya.
Aku memilih duduk sejenak di gazebo perpus menikmati taman hijau yang ada di sekitar gazebo dan mendengar suara air mancur di kolam yang menenangkan sebelum kelas pertama dimulai.
Kartu hasil study untuk semester ini sangat memuaskan, tidak ada satu mata kuliah pun yang mengulang, hampir semua mata kuliah yang ku pilih mendapat nilai A+ hanya ada satu mata kuliah yang mendapat nilai C+, mata kuliah apa lagi kalau bukan bahasa Inggris. Aku tidak mengulang mata kuliah bahasa Inggris meski nilaiku C+.
Aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri meski tidak mendapat IP yang sempurna tapi setidaknya ini sudah lebih dari cukup. Jujur aku sudah tidak suka sama bahasa inggris sejak masih sekolah dasar, membenci bahasa inggris sejak kecil.
Sekalipun sudah belajar sampai ngesot-ngesot tetap saja susah bagiku, kalau ada soal yang masih bisa di kerjakan ya dikerjakan, tapi ketika upgrade soal jadi gak bisa kembali sudah bablas, fondasinya tidak kuat, mau mengejar tapi sudah keburu ketinggalan, akhirnya hanya bisa pasrah saja satu mata kuliah yang ternyata ada terus hampir di semua mata kuliah yang lain.
“Ah sudahlah bahasa inggris memang susah, gak usah belajar ngoyo-ngoyo, meski nilai bahasa inggris C+ aku juga tetap masih hidup sampai saat ini”, ucapku dalam hati menghibur diri sendiri.
Aku melihat kembali ponselku waktu hampir menunjukan kelas pertama di semester ini di mulai, aku mulai berkemas membereskan beberapa buku yang aku bawa tadi dan memasukkannya kedalam tas.
Aku berjalan menuju ke gedung F lantai tiga tempat perkuliahan bagi mahasiswa, aku memilih menggunakan anak tangga untuk naik kesana. Entah mengapa aku lebih suka menggunakan anak tangga dari pada lift selama tidak untuk naik ke lantai delapan.
Dalam perjalanan menuju ruang kelas aku bertemu mas Dika yang duduk termenung di salah satu lab dengan wajah yang benar-benar sangat kusut, baju yang tak rapi serta rambut yang berantakan. Aku melihatnya seperti bukan mas Dika yang dulu. Apa semenyakitkan itu berpisah dengan mbak Eki.
Aku tak menghampirinya karena kelas sudah hampir dimulai, seperti biasah aku memilih tempat duduk paling depan agar tidak mengantuk saat perkuliahan dilaksanakan, hampir semua teman-teman kelasku tak berubah kami sudah terlalu solid.
Kami memilih untuk melaksanakan kartu rencana study secara bersamaan, memilih mata kuliah dan wajib serta memilih mata kuliah pilihan yang sama. Kelas kami diperuntukan oleh mahasiswa dengan NIM ganjil yang berasal dari jalur undangan ketika masuk ke sini dulu.
Empat puluh lima menit berlalu, kelas sudah selesai semua mahasiswa lekas keluar kelas, aku sengaja untuk tetap tinggal sejenak agar tidak berebut saat di depan lorong nanti.
“Yu kamu tidak pulang kah?”, ajak Nina dan sari padaku.
__ADS_1
“Iya bentar lagi malas berdesak-desakan”, jawabku pada mereka.
“Kamu mau ikut gak? Kita mau makan bakso Cak Kar kata teman-teman ada menu model bakso terbaru di sana”.
“Tidak deh trimakasih, aku juga masih kenyang kapan-kapan saja ya”, jawabku pada mereka.
“Ah kamu gak asik Yu susah sekali kalau di ajak makan diluar”
“Ya andai saja uang sukuku lebih aku juga pengen kali kayak kalian bisa makan apapun dan dimanapun sesuka hati”. Batinku dalam hati.
“Ya udah kita duluan ya”, Nina dan Sari berpamitan meninggalkanku dikelas sendiri.
Aku menunggu sampai sambil melihat-lihat kembali catatan yang barusan aku buat tadi. Tiba -tiba ada seseorang datang menghampiriku.
“Iya mbak ada apa? Gimana kabarnya sudah sehatkah?”, sapaku padanya mencoba mencairkan suasana.
“Yu gak usah bosa-basi sih, kamu tau aku dan Andika sudah putus?”, tanyanya padaku.
Aku hanya menganggukkan kepala saja tanpa sedikitpun bersuara.
“Jadi gimana sudah puas kamu? Senangkan aku sudah putus sama Andika?”, tanyanya dengan nada yang penuh penekanan.
“Tidak mbak bukan seperti itu, aku ikut sedih kenapa kalian bisa berpisah?, bukankah kalian pasangan yang sangat serasi dan idola semua orang”, jawabku pelan aku taku salah berbicara.
“Bukankah kamu senang kamu jadi bisa memiliki Dika sepenuhnya? Itukan tujuan kamu selama ini? Jangan pura-pura menjadi gadis yang polos dan lugu Yu, kamu salah cari musuh”. Ucapan mbak Eki tadi bagiku sangat mengerikan karena aku belum pernah diperlakukan orang seperti ini.
__ADS_1
“Tidak mbak, tidak seperti itu aku dan mas Dika hanya teman. Hanya teman saja tidak lebih”. Aku berusaha menjelaskan pada mbak Eki.
“Hanya teman? Teman yang sering makan bersama, jalan-jalan berdua, mojok di perpustakaan berkedok belajar? Itu semua hanya teman menurut kamu?”
“Asal kamu tau saja aku dan Dika putus semua itu gara-gara kamu, iya gara-gara kamuyang selalu menggangu Dika hampir semua waktu Dika hanya untuk kamu hingga dia lupa kalau ada aku yang selalu menunggunya”.
“Tidak mbak tidak seperti itu, mas Dika sangat mencintai mbak Eki dia begitu hancur saat mbak Eki putuskan kemarin”, aku kembali mencoba menyakinkan mbak Eki agar tidak salah sangka denganku.
“Kamu pikir aku percaya gitu sama kamu?”.
“Mbak aku tidak pernah melihat mas Dika sesedih dan sekusut ini selama mengenalnya,dia seperti kehilangan sebagian dari nyawanya”.
“Wah keren ternyata pandai juga kamu membual”
“Sudahlah Yu pada intinya saja, aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan Andika dan aku tidak suka kamu mengganggunya jadi tolong mulai sekarang jauh’i Andika”.
“Bukankah kamu sendiri juga bilang barusan Andika tidak pernah sedih sesedih ini, jadi jauh’i dia agar kami bisa kembali merajut kasih dan Andika kembali dengan hidupnya dulu, dia tidak bisa Yu hidup tanpa aku dan aku tidak bisa hidup dengan Andika jika ada kamu diantara kami. Jadi mengertilah posisi kamu”. Mbak Eki menatapku tanpa berkedip dengan tatapan siap untuk berperang.
“Iya mbak aku mengerti aku akan mencobanya”. Jawabku dengan tertunduk tidak berani menatap dia.
“Bagus, bukan hanya mencoba tapi kamu harus melakukannya”.
Mbak Eki pergi berlalu meninggalkan kelas dan menutup pintu dengan sangat keras. Aku masih duduk di kursi yang sama diam mematung di sana.
“YaAllah beginikah rasanya dilabrak mak lampir”, ucapku dalam hati mencoba menenangkan hati dan menghirup udara sebanyak-banyak mungkin. Entah mengapa aku merasa tiba-tiba dadaku terasa sangat sesak ruangan kelas yang begitu luas terasa menghimpit tubuhku.
__ADS_1