
Siang itu udara Malang cukup terik membuat bumil merasa gerah dengan perutnya yang mulai membuncit. Rahayu mondar-mandir dari dalam ke halaman rumahnya mencoba mencari keberadaan udara segar.
Rahayu merebahkan tubuhnya di sofa depan TV dan menyalakan Ac dengan harapan dapat mengurangi rasa gerah yang mendera tubuhnya. Tak lupa dia memakai daster longgar kencana wungu untuk mempermudah geraknya.
Tangannya meraih ponsel yang ada di meja depan TV, perut buncitnya mulai menunjukan gerakan dari sang calon anak yang membuatnya geli sendiri merasakannya.
“Kenapa sayang?, kamu lapar ya? Ya udah mari yuk telfon Papa dulu”. Ucap Rahayu dengan mengelus-elus perutnya.
Beberapa detik kemudian sambungan telfon sudah terhubung.
“Assalamualaikum”.
“Wassalamhalaikum”, Jawab Andika seketika kala mendapat telfon dari istrinya, sejak Rahayu hamil Andika jadi semakin protektif dan begitu siap siaga kala istrinya menelfon atau membutuhkannya.
“Mas....mas....”, ucapnya dengan mendayu-dayu.
Deg...
Andika mulai memegang dadanya.
“Ya Allah minta apa lagi istriku”, ucapnya dalam hati resah dengan segala permintaan Rahayu yang begitu bermacam-macam.
Andika mencoba tegar mendengar ucapan Rahayu selanjutnya.
“Iya sayangku”.
“Mas panas sekali, baby pengen minum jus”.
“Oh iya sayang, bagus itu minum jus untuk kesehatan baby dan Mamanya, minta di bikinkan sama mbah Minah ya sayang”.
“Tapi aku maunya kamu yang bikin Mas, aku mau jus buah naga tanpa biji”.
Astaga gerutu Andika dalam hati.
“Apa sayang coba di ulangi lagi?”, Andika berharap ia salah mendengar akan permintaan istrinya.
“Mau jus buah naga Mas yang tanpa biji sekaran tapi harus kamu yang bikin Mas, demin baby kita”, jawab Rahayu dengan begitu manjanya.
Mendengar nada bicaranya saja Andika sudah gemas tak kuat membayangkan ekspresinya, tapi harus dari mana dia dapat jus buah naga tanpa biji.
“Baiklah sayang, Mas coba bikinkan tunggu ya”.
Panggilan pun berakhir.
__ADS_1
***
Kampus
Andika yang mendapat mandat dari sang istri untuk membuat jus buah naga tanpa biji lekas mencari buah naga saat itu juga. Kini ia berlari ke cafetaria kampus yang untungnya saat itu jam istirahat jadi Andika lebih leluasa untuk meninggalkan pekerjaannya sejenak.
Andika mendatangai salah satu outlet dan memesan satu jus buah naga.
“Mbak saya pesan satu jus buah naga tanpa biji”.
“Apa tanpa biji Pak?”, jawabnya dengan begitu kaget.
“Maaf Pak tidak sanggup untuk memilah-milah biji dan buahnya, kebetulan sekarang jam istirahat yang antri banyak sekali”. Tutur mbak penjaga outlet tersebut merasa tak enak menolak pesanan salah satu dosen yang mengajar di situ.
Andika melihat antrian belakangnya. Benar saja antrian sudah mulai mengular untuk membeli jus maklum jam istirahat.
“Kalau begitu saya beli buah naganya saja Mbak satu”.
Dengan sigap mbak penjaga outlet tersebut lekas mengambilkan dua buah naga untuk Andika.
Andika berlari menuju lab Agrokimia dalam fakultas untuk membuat jus buah naga tanpa biji, kebetulan di sana ada blender yang biasa di gunakan mahasiswa untuk praktikum pembuatan produk.
Andika mulai membuka buah naga tersebut, jemarinya dengan telaten mulai memisahkan satu persatu buah naga dan bijinya, yang kebetulan jaraknya begitu rapat sekali.
Andika hampir frustasi dibuatnya.
“Ya Allah luaskan sabar hamba, demi anak hamba demi kebahagian istri hamba”, tuturnya dalam hati dengan memegang sendok dan penjepit kawat karena begitu susahnya memisahkan antara biji dan buahnya.
Baju Andika sudah tidak berbentuk, penuh dengan warna merah di bagian tangan dan dadanya terkena buah naga.
Satu jam berlalu, Andika hanya mampu memisahkan biji buah naga separo saja.
“Siang Pak”, sapa salah satu mahasiswa yang kebetulan akan menjalankan praktikum siang itu.
“Iya”. jawabnya dengan singkat tanpa memperhatikan siapa yang menegurnya.
“Buat apa Pak?”, tanyanya kembali yang tampak heran dengan kegiatan Andika siang itu, tak biasanya dosen muda nan ganteng itu berkutat di lab Agrokimia.
“Sedang membuat jus buah naga”.
“Jus buah naga? Kenapa juga harus di pisahkan antara biji dan buahnya pak?”, benar saja entah itu kepo atau memang benar-benar kritis rasa ingin tahu mahasiswa sekarang.
“Untuk mengetahui seberapa besar perbedaan kadar antioksidan jus buah naga dengan dan tanpa biji”, jawabnya dengan asal.
__ADS_1
“Ribet sekali ya Pak, padahal buah naga dari dulu sudah di klaim mengandung antioksidan”, benar saja mahasiswanya ini masih saja ngeyel dan kepo.
Andika tak mungkin menjawab ini untuk istri saya yang ngidam, bisa -bisa diketawain mahasiswanya.
“Ah sudahlah kelak kalian akan mengerti jia sedang dalam posisi seperti saya”. Kini ia mulai memblender buah naga tersebut dan berharap tak ada satu biji pun yang menempel di sana.
“Alhamdulilah”, ucapnya lega dapat menyelesaikan satu tugas dari ibu negara dan memasukan ke dalam cup, lekas cepat membawanya pulang sekalian untuk ganti baju. Untungnya jarak antara rumah dan kampus tidak terlalu jauh.
***
“Assalamu'alaikum sayang”, dengan senyum yang menembang sempurna Andika melangkahkan kaki menuju rumahnya.
“Wassalamu'alaikum suamiku”, suatu jawaban yang membuat hati nyaman mendengarnya.
“Ini sayang pesanan kamu”, Andika menyerahkan satu cup jus buah naga pada istrinya.
Jemari mungil Rahayu yang mulai membesar meraih cup tersebut, matanya memindai isi dalam cup tersebut dengan cukup lama.
“Wah benar-benar jus buah naga tanpa biji Mas”.
Andika bahagia sekali kala dapat menuruti permintaan istrinya yang kadang suka membuatnya frustasi.
“Iya sayang, minumlah udara cukup terik dengan minum jus buah naga yang di buatnya dengan penuh kasih sayang dan cinta akan mampu menuntaskan dahagamu”.
“Yah Mas tapi kalau jus buah naga tanpa biji seperti ini jadi sepi Mas, dan jelek tak ada variasi warnanya ia begitu polos”, jawab Rahayu dengan memutar-mutar cup yang berisi jus buah naga tanpa biji tersebut.
“Astaga terus bagaimana sayang?, katanya tadi mau jus buah naga tanpa biji”.
“Gak jadi, buat mas Dika saja, aku lebih suka yang bervariasi tidak monoton seperti ini”, jawabnya dengan kembali menyerahkan cup tersebut pada Andika.
Sungguh Andika begitu frustasi ingin memakan istrinya juga saat itu.
“Mas, gak boleh marah demi ini”. Tunjuk Rahayu pada perutnya dan berjalan menuju dapur untuk mencari minuman dingin yang lainnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kalian silahkan saja bayangin Andika yang sedang memisahkan buah naga dan bijinya dengan hati-hati dan telaten, kemudian bayangin Rahayu yang pakai daster rambutnya di kuncir cepol khas ibu-ibu hamil sedang meminta sesuatu pada suaminya.
Happy Reading