
Ah beberapa angan-angan yang belum tentu menjadi kenyataan, sebaikya aku berfikir positif saja semoga mas Andika belum menikah dan sukur-sukur belum mempunyai pasangan.
Hingga menjelang pukul dua belas malam aku tak kunjung mampu untuk memejamkan mata. Hatiku terlampau bahagia mendapat kabar temu alumni tersebut. Pikiranku sibuk merangkai apa yang akan kulakukan besok pagi untuk mempersiapkan semuanya.
***
Tidak seperti hari-hari biasanya pagi ini aku bangun terlambat untungnya aku sedang berhalangan tidak sholat. Terlalu banyak berandai-andai membuatku tidak bisa menemukan kantuk semalam, bahkan aku tak tau semalam terjaga sampai jam berapa.
“Nak kamu sudah bangun? Tumben jam segini belum keluar kamar? Apa kamu sedang sakit?”. Tanya ibu yang berada di luar pintu dan meminta izin untuk masuk ke dalam.
“Tidak bu, aku baik-baik saja hanya saja semalam aku begadang melihat drama korea”. Ucapku pada ibu yang tampak khawatir dengan keadaanku.
Maafkan anakmu bu yang berbohong dengan alasan menonton drama korea saja, sebenarnya anakmu sedang membayangkan drama dalam kehidupannya sendiri yang tak kunjung menemui episode tamatnya.
“Nak hari ini Dewi menikah, kita datang berdua ya kebetulan bapak mu sedang garap sawah nunggu orang kerja”.
“Dewi siapa bu?”. Jawabku dengan mengumpulkan segenap nyawa setelah berlayar di pulau kapuk beberapa jam yang lalu.
“Dewi teman kecil kamu anaknya pak Yanto masak sudah lupa?”. Ucap ibu dengan merapikan selimut yang sedang aku gunakan.
“Bu biar Rahayu bersihkan sendiri”. Rahayu merebut sprei dan melihatnya kemudian menyimpan di bawah bantal.
“Ayo siap-siap nanti ibu ambil melati punya Dewi biar kamu ketularan cepat nikah”.Ucap ibu seraya meninggalkan kamar tidurku.
“Ah ibu aku belum menikah bukan karena tidak laku, hanya saja aku sedang menunggu seseorang”.
“Walah nduk kenapa harus menunggu yang tidak pasti ngerti Gersik Surabaya”.
“Maksudnya buk?”.
__ADS_1
“Gersik Surabaya kalah disek ojo ngersulo gitu ae, siapa yang datang lebih dulu ya itu jodohmu”. Ucap ibu dengan berjalan menuju dapur.
Beberapa jam kemudian aku dan ibu benar-benar berangkat menuju rumah Dewi untuk menghadiri undangan pernikahannya. Benar saja sesuai dengan apa yang dikatakan ibu mengambil beberapa melati yang menjuntai di hiasan kepala Dewi dan memintaku untuk memasukan ke saku.
“Bismilah ya nduk setelah ini nemu jodoh”. Bisik ibu padaku seraya meyerahkan melati padaku.
“Aamiin”. aku menjawab dengan datar begitu saja urusan jodoh sepenuhnya aku masih gelambyar.
Saat resepsi pernikahan aku bertemu dengan banyak orang sanak saudara dan kerabat jauh ibu juga hadir di sana, maklum Dewi dan pak Yanto masih ada bau-bau saudara dengan ibu.
Pertanyaan kapan nikah sudah ku makan dari awal memasuki tenda pernikahan dan bersalaman dengan orang. Rasanya cuma ada satu pertanyaan itu yang belum bisa memastikan jawabnya.
“Oh ini Rahayu yang dulu ya masyallah sekarang tambah cantik saja kamu nak? Mana pasangan kamu?”.
“Pasangannya masih di simpen bu”. jawabku datar.
“Ga baik lo nak anak gadi melajang terlalu lama, jadi kapan kamu nyusul Dewi?”.
Menjelang tengah hari acara resepsi pernikahan tak kunjung selesai. Aku lekas bergegas pamit pulang terlebih dahulu karena ada banyak hal yang akan aku lakukan untuk persiapan temu alumni besok.
“Bu Rahayu ijin pulang dulu ya ada beberapa hal yang harus Rahayu lakukan, doain ya bu semoga lancar”. Aku pamit pada ibu dan beberapa ibu-ibu yang ada di sana.
“Lo mau kemana nduk acaranya kan belum selesai”.
“Pamit pulang dulu bu penting urusan pekerjaan”, jawabku dan segera meninggalkan tempat itu, jika alsan yang kupakai adalah pekerjaan maka semua akan berjalan dengan mulus. Orang-orang tidak akan ada yang berani melarangnya.
“Sayang dimana? Bisakah kita bertemu aku rindu sekali denganmu”. Pesan dari mas Reno.
“Maaf mas aku repot sekali hari ini ada saudaraku sedang hajatan aku baru saja pulang dari sana ingin istirahat”.
__ADS_1
“Wah gitu ya kalau begitu besok ya Yu aku jemput kita jalan-jalan sekitar tempat tinggalmu”.
“Besok aku mau istirahat mas lelah sekali rasanya badan ini mumpung ada cuti, aku ingin menghabiskan hari-hariku rebahan di atas kasur saja”.
Ah aku sungguh benar-benar jahat pada mas Reno, nanti hari senin saat sudah masuk kerja aku akan segera memberi kejelasan pada mas Reno agar tidak berharap lebih pada hubungan ini. Aku benar-benar merasa bersalah padanya. Mas Reno sepertinya sangat tulus sekali mencintaiku tapi sayangnya hatiku tak bergetar sedikitpun saat bersamanya.
Sesungguhnya aku tidak capek dan aku juga tidak beristirahat aku pulang dan meninggalkan tempat resepsi terlebih dahulu karena aku ingin melakukan perawatan tubuh. Aku begitu heboh sendiri mempersiapkan temu alumni besok, aku hanya ingin terlihat berbeda di mata mas Andika dari seorang Rahayu yang dulu.
Sepertinya aku harus melakukan perawatan.
Untuk tubuhku aku melakukan lulur dan pijat di spa kecantikan ternyata rasanya enak sekali begitu nyaman, pantas saja dulu mbak Eki suka sekali dengan rangkaian perawatan begini. Untuk kuku aku juga melakukan perawatan dan mengecatnya.
Aku benar-benar melakukan perawatan tubuh secara menyeluruh dari ujung rambut hingga ujung kaku. Senarnya perawatan rambut tidak terlalu penting karena aku memakai hijab tapi aku ingin sesekali memanjakan tubuhku sendiri.
Tak lupa aku membeli baju lengkap dengan hijab dan sandalnya, karana memang aku benar-benar ingin menjadi seseorang yang istimewa di mata mas Dika setelah hampir tujuh tahun tak bertemu.
***
Hari yang di tunggu-tunggu telah tiba, aku berangkat pagi-pagi sekali menuju Malang tentu saja dengan alasan pekerjaan aku ke sana. Aku memilih untuk menginap di salah satu hotel yang letaknya tak jauh dari tempat acara nanti malam.
Pagi harinya ku habiskan untuk bernostalgia jalan-jalan di kampus. menikmati dan mengenang dinginnya Malang.
Acara dimulai pukul tujuh malam namun pukul enam aku sudah siap. Aku memakai makeup natural yang tipis dan sederhana namun tetap terlihat fresh tak lupa menggunakan baju yang sudah aku beli kemarin.
Beberapa kali aku melihat pantulan tubuhku dalam cermin mencoba mencari-cari apa yang kurang di sana?.
Manusia mana ada puasnya ucapku dalam hati.
Perjalanan menuju tempat temu alumni hanya sekitar sepuluh menit dari hotel tempatku menginap. Berada di Malang setelah tujuh tahun tak menginjakan kaki di sini berasa ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata.
__ADS_1
Wahai hati bersiaplah bertemu dengan pujaan hati yang hanya tinggal menghitung menit.