Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Awal yang meresahkan


__ADS_3

Rahayu dan Dania mengikuti langkah teman-teman sekelasnya untuk meninggalkan ruang kelas tersebut.


“Dania kamu tinggal di mana?”.


“Aku kos mbak di daerah Sigura-Gura”.


“Sibuk gak hari ini?,


“Ah ngak mbak, santai seperti di pantai”.


“Main yuk, aku traktir”. Ajak Rahayu dengan menaikan kedua alisnya.


“Wah mau banget mbak gratis pula”.


Wajah Dania tampak berbinar-binar mendengar tawaran Rahayu.


Rahayu mengajak Dania bukan tanpa alasan, dia ingin benar-benar kembali hidup, memulai kehidupan yang baru mulai ingin menyibukkan diri dengan segala aktivitas yang ada.


Rahayu ingin banyak aktivitas, ingin lelah karena saat dia kelelahan nanti di rumah tinggal tidur. Rahayu tidak akan sibuk memikirkan Reno maupun angan-angan yang tak sampai.


Rahayu ingin menikmati hidup begitulah.


Pagi menuju siang tersebut dua wanita beda usia sedikit sedang menikmati jalan-jalannya hanya berdua. Sepanjang perjalanan Rahayu di buat tertawa tiada hentinya oleh lelucon dari dania.


“Ternyata kamu asyik ya orangnya”. Ujar Rahayu pada Dania dengan mengemudikan mobilnya.


Dania bercerita banyak hal tentang keluarganya, sahabatnya dan asmaranya. Bagi Rahayu kisahnya lucu dan unik sehingga membuat sepanjang perjalanan mereka tertawa tiada hentinya.


“Mbak jangan tertawa terus nanti pasti nangis”. Ujar dania menggoda Rahayu.


“Ah asal ada kamu di sampingku, tangisku pasti cuma hanya lewat saja”.


Rahayu dan Dania memilih untuk jalan-jalan di mall saja, mereka berdua mengelilingi mall dari jung ke ujung tak tau apa yang sedang di cari karena mereka memang tak berniat mencari apa-apa hanya sekedar jalan-jalan saja.


Beberapa kali mereka berhenti di salah satu toko tas maupun sepatu, mereka berdua melihat-lihat semua barang yang ada di sana. Sayangnya dari sekian banyak tas maupun sepatu yang ada tak ada yang membuat Rahayu tertarik.


Bukan tak tertarik wanita kalau lihat barang bagus dan lucu ya pasti pengen, hanya saja Rahayu memikirkan fungsi dan kebermanfaatannya. Rahayu tak terbiasa untuk berfoya-foya, dia akan membeli jika memang benar-benar di butuhkan saja. Padahal uang Rahayu banyak terlebih fasilitas yang diberikan ayah dan bundanya Reno rasanya sangat lebih-lebih jika hanya di gunakan untuk membeli tas dan sepatu saja.


Berbeda dengan Dania, Dania yang tadinya hanya ingin sekedar jalan-jalan dan melihat-lihat saja nyatanya harus kecantol dengan beberapa pasang sepatu, tas dan beberapa aksesoris lucu lainnya.


Ya Dania keluar dari salah satu toko tersebut dengan menenteng tiga kantong plastik berisi barang belanjaannya.


“Mbak nonton aja yuk”.


‘Ayok”.


Lelah dengan keliling mall mereka memilik untuk menonton di bioskop yang ada di mall tersebut. Kali ini Dania yang berkesempatan untuk memilih film dan Dania memilih film horor.

__ADS_1


Keduanya tampak begitu asyik menikmati setiap adegan yang ada, terkadang tertawa, terkadang ikut menangis dan tak jarang mereka berdua teriak-teriak ketakutan sepanjang film tersebut di putar.


“Nia aku haus sekali dari tadi teriak-teriak di dalam, kita cari makan yuk”.


“Ayo mbak aku jga lapar sekali”.


Dania memiliki bentuk tubuh yang subur dan lebih berisi membuatnya mudah lapar ketika menjalankan aktivitas.


Mereka berdua memilih makan di food cord mall tersebut. Rahayu dengan makanan kesukaannya lalapan ayam goreng di temani segelas minuman coklat dingin. Sedangkan Dania memilih nasi goreng dengan porsi jumbo tak lupa dengan segelas es teh serta coklat dingin.


Menurut Dania tidak afdol rasanya jika setelah makan tidak minum es teh kurang berr.


Keduanya tampak asyik menikmati makanan yang sudah tersaji di atas meja sambil bercanda.


***


Sementara itu di belahan bmi yang sama, seorang anak laki-laki dewasa sedang menemani sang mama untuk sarapan di meja makan. Suasana tampak hening tak ada yang bersuara hingga satu ucapan sang mama membuka keheningan di meja makan tersebut.


“Andika Putra Maharaja”.


“Iya ma, pasti ada maunya sampai panggil nama lengkap”. Jawabnya dengan mengambil potongan roti tawar di atas meja.


“Mama pengen punya mantu”.


“Terus ma?”. Ucapnya dengan mengunyah roti yang ada di tangannya.


“Cari di mana ma? Ada di toko sebelah mana? Apa ada di pasar? Biar nanti belikan buat mama”.


“Hem”.


Hanya deheman kesal sang mama untuk menjawab lelucon Dika yang sama sekali tak lucu baginya.


“Bagaimana kala kamu sama Eki saja Dik?”.


“Ma tolong deh, mulai lagi kan?”.


“Terus mana wanita yang katanya kamu lamar beberapa bulan yang lalau, kapan di bawa ke rumah?”. Tanya mama dengan mengintimidasi.


“Sudah jadi istri orang ma”. Jawab Dika dengan lesu dan merana.


“Cup cup jadi anak mama yang ganteng ini sekarang lagi patah hati”.


Mama ganti menggoda anaknya.


“Dik wanita di dunia ini banyak, kamu juga ganteng, pinter pula jadi gampang cari pasangan, jangan kuatir”.


“Mahasiswa kamu gimana? Apa di antara mereka tidak ada yang menarik?”.

__ADS_1


“Mama tunggu ya Dik kabar baiknya, buruan sana cari yang lain di kampus juga banyak sekali bertebaran tinggal pilih saja noh mana yang kamu mau”.


“Mana ada yang bisa nolak kamu”.


Mama mengatakan banyak hal, panjang lebar pada Andika pagi itu hingga tak terasa makanan di depannya sudah habis tak tersisa.


Setelah sarapan Andika tidak langsung berangkat kerja, Andika memilih untuk istirahat sejenak di kamarnya, kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ya beginilah Andika slalu mencoba tegar dan menjawab dengan lelucon ketika di tanya orang tuanya, padahal sebenarnya hatinya ambyar.


Saat di kamar Andika baru akan menjadi seorang Andika yang sesungguhnya. Ya beginilah Andika yang sesungguhnya hatinya hampa sepi dan merana. Menggenggam rindu yang tak pernah tergapai. Beberapa kesempatan bertemu dengan pujaan hati hanya saja takdir tak berpihak pada mereka.


Penantian panjang yang sia-sia, kebodohan di masa lalu serta ketidakberanian untuk mengungkapkan cintanya menjadikan dirinya begitu terluka dan nelangsa.


Andika kembali merebahkan diri di atas kasur menatap langit-langit kamar, mengingat sang pujaan hati yang sudah berbahagia dengan pasangannya. Matanya kembali nanar mengingat itu semuanya.


“Aku bisa apa Yu, jika memang sang kuasa tidak mentakdirkan kita bersama”.


Helaan nafas yang berat mengiringi tidurnya.


Ya Andika kembali tertidur dalam lukanya dan lupa jika hari ini ada jam mengajar.


Satu jam kemudian di terbangun dan begitu syok kala melihat jam menunjukan pukul 09.30 pagi. Andika lekas menancap gas dan berangkat ke kampus.


Menyadari ada pesan masuk dari salah satu mahasiswanya Andika lekas memberikan balasan.


“📩 Tunggu saya terlambat tiga puluh menit”.


***


Sementara itu di mall wanita yang menikmati makannya sedang asyik berbincang banyak hal.


Saking asyiknya berbincang Rahayu tak membuka ponselnya sama sekali sejak keluar dari kelas tadi.


Tangannya meraih benda pipih yang ada di tas tersebut.


“Mati aku”. Rahayu tampak membulatkan matanya.


“Kenapa mbak?”.


📞 15 panggilan tak terjawab atas naman “AP”.


“📩 Kalian di mana? Saya sudah katakan untuk tunggu!”.


🍃


🍃


🍃

__ADS_1


Jangan lupa like komen teman-teman ✌️


__ADS_2