Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Hari Pernikahan


__ADS_3

Tibalah hari yang telah dijanjikan oleh orang tua Andika, pagi-pagi sekali sang mama membangunkan anak lelakinya yang tak lagi remaja. Berkali-kali sang mama mengguncang-guncangkan pundak Andika dengan pelan hingga mode cepat namun tak ada pergerakan sama sekali. Andika masih terlelap dalam tidurnya, rasanya mata enggan untuk membuka dan menyambut pagi hari ini.


“Dik, bangun nak, ini sudah siang tidak biasanya kamu bangu terlambat”.


“Dik bangun, katanya mau kasih mama mantu”.


Andika diam saja tak bergeming, jiwanya sudah bangun hanya saja matanya enggan untuk terbuka.


“Dik, mama tahu kamu sudah bangun, ayolah jangan seperti anak kecil yang mangkir dari tanggung jawab seperti ini, bagaiman pun kamu harus menjaga nama baik papamu, mama tunggu di bawah lekas bersiaplah satu jam lagi kita berangkat ke sana”. Mama meninggalkan kamar Dika dengan menggeleng-gelengkan kepalnya melihat tingkah sang anak yang begitu posesifnya memeluk guling.


Satu jam kemudian, Andika tak kunjung keluar dari kamarnya, mama kembali menjemput sang anak untuk lekas berangkat menuju rumah temannya.


“Astaga Dik, belum mandi juga kamu”.


“Ayo calon manten gak boleh malas, cepat bersiaplah. Mungkin ini menjadi saatnya kamu menunjukan rasa baktimu pada mama dan papa nak”. Mama menepuk-nepuk punggung Dika, sedang Dika masih diam seribu bahasa tapi raut wajahnya sudah cukup mewakili segenap isi hatinya.


Sepeninggalan mama, Andika meraih ponselnya, tangannya menggeser galeri foto-foto yang ada di album ponsel tersebut. Matanya kembali nanar kala melihat deretan foto Rahayu di album ponsel miliknya. Tangannya berkali-keli membelai wajah ayu dalam foto tersebut. Hatinya kembali berdenyut ngilu tak kala menunjukan kenyataan tak dapat bersanding dengan kekasih pujaan hatinya.


Lama sekali Andika berselancar dengan ponselnya, membaca kembali setiap detail pesan Wa yang terkirim dari Rahayu untuknya. Ya Andika tak pernah menghapus semua pesan Rahayu sejak mereka kembali di pertemukan hampir dua tahun yang lalu, sesekali wajahnya tersenyum kala membaca satu persatu pesan tersebut, tak jarang beberapa detik kemudian Andika kembali bersedih bahkan matanya sudah berembun.


Andika mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.


“Argggg kenapa semuanya harus seperti ini? Apakah tidak ada kesempatanku untuk bahagia dengannya?”.


Andika kembali tertunduk lesu, terduduk di lantai dan bersandar pada kasurnya.

__ADS_1


“Ayo Dik, cepetan kita semua sudah siap”. Teriak sang mama dari balik pintu kamarnya.


Andika lekas bersiap untuk membersihkan diri.


Sebelum berangkat semua keluarga berkumpul untuk sarapan bersama terlebih dahulu di ruang tengah.


“Loh kok sudah banyak orang”. Ucap Andika yang baru saja turun dari kamarnya, kali ini menggunakan baju koko dan sarung warna biru.


“Ya kan, mau nganterin kamu nikahan Dik, itu kenapa pakai bajunya seperti itu”. Salah satu keluarga dari Andika menunjuk pakaiannya yang mereka anggap tidak cocok untuk acara pernikahan.


“Kamu mau pengajian?”, celetuk salah satu sepupu Andika.


“Kan cuma ketemu saja kenalan kenapa harus ribet”, jawabnya dengan meraih salah satu piring yang ada di depannya.


“Siapa bilang, orang kamu mau sekalian di nikahan nanti”. Ucap bude Andika dengan santainya sambil mengunyah rendang yang ada di mulutnya.


Sedang semua orang yang ada di meja makan tersebut secara bersamaan menertawakannya.


Beberapa menit kemudian rombongan keluarga Andika sudah siap bertolak ke rumah calon mempelai wanita, masih tetap dengan kostum Andika sarung dan baju koko. Keluarga Andika membawa lima rombongan mobil lengkap dengan seserahan yang Andika sendiri tak tahu isinya dan tak mau tahu, hatinya terlanjur kacau saat ini.


Sepanjang perjalanan tak ada satu katapun yang dilontarkannya. Sang mama berkali-kali ingin menunjukan foto calon wanita padanya, namun sayangnya tangan mama slalu di tepis olehnya. Andika lebih memilih memalingkan wajahnya untuk memandang ke luar jendela mobil.


***


Kediaman Rahayu.

__ADS_1


Sementara itu di rumah orang tua Rahayu sudah sejak pagi tadi di sibukkan dengan acara persiapan pernikahan, meskipun acara di gelar cukup sederhana namun tetap saja segala keriwehan masih terjadi untuk mempersiapkan segalanya, dari mulai masak memasak hingga membuat dekor ala-ala kadarnya sudah di persiapkan oleh keluarga yang ada.


Rahayu masih terdiam di kamarnya enggan untuk keluar sekilas melihat segala persiapan pernikahannya. Hatinya kacau tidak ada yang bisa di lakukannya selain menangis dan menangis saja beberapa hari ini. Sang ibu tak tega melihat anaknya seperti itu. Tapi ibu menyakini inilah yang terbaik untuk anaknya.


Pagi itu, MUA pilihan dari orang tua Reno sudah datang dan bersiap untuk merias Rahayu, hanya saja Rahayu masih enggan untuk keluar dari kamarnya. Berbeda dengan pernikahannya dengan Reno dulu yang ia turut serta mempersiapkan segalanya, pernikahannya kali ini Rahayu benar-benar angkat tangan.


Tak kunjung mendapat respon yang baik dari sang calon pengantin wanita, maka MUA tersebut tanpa persetujuan Rahayu lekas memoles wajahnya. Rahayu di rias di kamar di dampingi oleh adik-adiknya. Sepanjang perjalanan rias tak henti-hentinya air mata keluar dari sudut matanya, hingga membuat sang MUA kewalahan untuk menempelkan bedak yang ada.


“Mbak, udah dong nangisnya kalau begini terus nanti gak selesai-selesai make up nya, tuh kan bedaknya longsor lagi gak nempel di wajah”. Protes sang MUA yang beberapa kali mengaplikasikan bedak pada wajah Rahayu.


Sedang Rahayu diam saja tak memberikan jawaban sama sekali. Air mata tak di undang masih saja mengalir di pipinya.


Satu jam kemudian, Rahayu sudah siap dengan make up akad nikahnya, kali ini menggunakan hijab modern sederhana dengan busana warna putih dan kerudung yang menjuntai panjang ke bawah. Serta beberapa helai melati yang menambah kesan saklar sang pengantin wanita.


“Wah anak ibu cantik sekali”. Ibu membolak-balikkan tubuh sang anak.


“Lebih cantik lagi jika sedikit tersenyum”. kali ini buda Reno turut andil memberikan komentarnya.


Rahayu tidak bergeming masih terdiam, tak membuka suara dan enggan untuk keluar kamarnya.


Sementara itu rombongan keluarga mempelai pria sudah datang, dengan tetap Andika masih menggunakan sarung dan baju kokonya. Andika enggan untuk berganti baju pengantin yang sudah di siapkan oleh keluarga.


Langkahnya semkin berat kala menuju salah satu rumah yang sudah di hias dengan janur kuning di depannya. Ya Andika seperti anak kecil yang harus berkali-kali di tarik tangannya oleh sang mama dan papa. Maklum ini pertama kali Andika ke rumah Rahayu. Dahulu Andika memang pernah mengirim paket ke sini tapi dia tak tahu persis lokasinya di mana, kegalauan di hatinya juga tak menyadari jika ini rumah dari sang pujaan hati.


Kehadiran keluarga Andika di sambut hangat dengan keluarga Reno, yang semakin membuatnya bingung dan bertanya-tanya.

__ADS_1


Permainan takdir macam apa ini?


__ADS_2