Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Adik


__ADS_3

Selamat pagi semesta, aku awali pagi ini dengan segenap limpahan rasa syukurku tiada tara pada ilahi. Tepat hari ini ada kabar yang sangat membahagiakan aku dapat, ya hari ini beasiswaku cair teman-teman alhamdulilah.


Pagi yang berbeda ini membuat langkah kaki ku terasa lebih ringan dari sebelumnya, ini pengalaman pertamaku memegang uang dalam jumlah banyak. Beasiswa cair paralel untuk enam bulan ke depan, tiap satu bulan penerima beasiswa bidik misi mendapat tunjangan sebesar 600 ribu. Hidup di Malang mengajarkan ku untuk selalu merasa cukup, karena jika bukan diri kita sendiri yang belajar mencukupkan dari sega hal maka kita tidak akan pernah merasa cukup.


Aku berencana ingin membeli peralatan makan, mencuci dan mengisi beberapa barang di kamar kos ku. Selama ini aku memakai peralatan makan yang ada di dapur umum sisa dari kakak-kakak alumni yang tidak di bawa pulang.


Kebetulan hari ini senin jadi sepertinya tidak akan terlalu rame jika ingin belanja ke Sardo swalayan. Nanti setelah semua kuliah selesai dan persiapan PKM selesai aku mau ke sana.


Kelas pertama dimulai, hari ini kita belajar tentang pemasaran hasil pertanian 3 sks. Pemasaran hasil pertanian merupakan kegiatan-kegiatan yang terjadi diantara usaha tani dan konsumen, di sini banyak mempelajari sebab akibat mengapa petani sering merugi saat musin panen tiba. Harga dari komoditi pertanian cenderung akan mengalami penurunan saat musim panen, sedangkan saat tidak musim harga melambung sangat tinggi.


***


Sesampainya di kos aku mulai mengganti bajuku dengan kaos panjang biar lebih santai saat berbelanja. Aku berangkat sendiri, jarak antara kos ku dengan Sardo swalayan lumayan dekat, tapi tidak dekat-dekat banget. Biaya ongkos naik angkot ke Sardo 2500 untuk sekali jalan. Aku memutuskan untuk jalan kaki saja, karena kalau naik angkot pulang pergi membutuhkan uang 5 ribu kan sayang bisa buat beli sayur besok. Jalan kaki juga bagus untuk kesehatan.


Sesampainya di Sardo aku langsung naik ke lantai tiga untuk melihat beberapa peralatan makan dan kebutuhan kos lainnya, aku memilih piring, gelas, sendok, mangkok beserta teman-temannya yang kiranya penting. Tidak lupa juga membeli kertas HVS dan bolpoin biru persiapan untuk mengerjakan laporan.


Lelah berkeliling di lantai tiga aku langsung ke lantai satu untuk mencari mie instan, kecap, caos dan beberapa bala-bala yang dapat memberikan pertolongan saat lapar tiba, tidak lupa aku membeli beberapa sachet kopi untuk teman begadang saat mengerjakan laporan praktikum.


Rasanya senang sekali bisa berbelanja begini, melihat isi keranjang sudah mulai full aku memutuskan untuk lekas menyudahi belanja ini. Aku tidak belanja banyak, hanya membeli barang-barang yang memang benar-benar di butuhkan. Aku ingin sekali suatu saat nanti jika mau belanja tingal ambil-ambil sesuai yang aku mau tanpa melihat harganya.


Sesampainya di kasir aku langsung mengantri untuk membayar, seperti dugaanku hari senin Sardo swalayan tampak sepi, tidak terlalu banyak yang berbelanja, lebih banyak sales yang mulai mengisi beberapa rak toko yang mulai kosong.


Aku bergegas untuk keluar Sardo dan berjalan menuju kos, ternyata berat juga nih bawa’an. Meski berat tap jalan tetap terasa ringan sih karena hari ini aku senang. Aku mulai melangkahkan kakiku.


“Tin tin tin” terdengar suara klakson sepeda motor di belakangku.


“Kamu mau ke mana”


Rupanya pangeran berkuda besiku yang datang. Aku tunjukan senyum termanis untuk menyambut kedatangannya.


“Mau pulang dong mas, mau kemana lagi coba”


“Ayo tak anter” tawarnya


“Tidak usah mas trimakasih, udah deket kok”


“Deket apa’an baru aja keluar Sardo kos kamu no masih juah kalau jalan kaki, lagian panas juga”

__ADS_1


“Ayo, aku tidak suka di tolak lagian searah juga” terang mas Andika yang mulai sedikit bawel.


“Bener nih gak papa”


“Dih gak papa lah, emang kenapa coba kamu tuh sudah kayak adikku sendiri, jadi tenang aku tidak akan minta ongkos”jawabnya.


Deg deg duel rasanya.


“Adek ya” jawabku dengan sedikit linglung.


“Iya adikku, adek Rahayu ayo cepet naik”


Omongan mas Andika sungguh memporak-parikan hatiku, seperti mempertegas hubungan kami, ternyata dia menganggap cuma sebagai adiknya. Kebaikan dia selaman ini sebatas kebaikan antara kakak dan adik gak lebih. Aku aja yang terlalu berharap lebih. Oh iya lagian dia juga sudah punya pacar. Pacarnya juga cantik sekali. Aku mah apa atuh, hanya sekedar rontokan rengginang.


“Iya-iya ini aku naik”. Dengan wajah yang sedikit kesel aku naik sepeda mas Andika.


Sepanjang perjalanan aku terus menatap punggung lebar mas Andika, mas aku menyukaimu bahkan aku mencintaimu dari awal kita bertemu. Segala kebaikanmu selama ini membuatku semakin mencintaimu.


Sesampainya di depan kos aku langsung turun dan mengucapkan trimakasih atas tumpangannya. Aku lekas berpamitan untuk segera masuk ke kamar, aku ingin segera menetralkan perasaanku.


“Yu taruh dulu belanjaan kamu, aku tunggu di sini”


“Emang mau ngapain mas? Tamu cowok kan tidak boleh masuk”


“Siapa juga yang mau masuk, yang ada seluruh penghuni kos kamu nanti akan terpesona melihatku”


“Percaya diri banget mas” jawab ku ketus, tak menampik sih semua wanita normal pasti terpesona dengan segenap karisma yang ada pada mas Andika.


“Sudah cepat masuk, trus balek lagi sini, kamu belum bayar ongkosnya”


“Katanya tadi gratis? Tau gitu mending aku jalan kaki aja”


“Udah buruan”


Aku bergegas masuk kedalam kos dan meletakkan belanjaanku, lantas kembali turun menemui mas Andika.


“Nih mas ongkosnya” Aku berikan uang 10 ribu pada mas Andika, dalam hati berkata ya allah mahal kali, tau gitu tadi aku naik angkot 5 ribu sudah pulang-pergi. Ini ongkos pulang aja 10 ribu.

__ADS_1


“Siapa juga yang suruh bayar pakai uang, nih simpen aja”


“Terus bayar pakai apa to mas kalau tidak uang, daun gimana?”


“Emang aku hatu di bayar pake daun”


“Terus? Mau nya apa?”


Kalau tanya yang lembut dong jangan sewot gitu. Gini ya aku asih contoh


“Terus maunya di bayar pake apa mas Andika yang ganteng?”


“Dih ogah, tar ada yang marah” jawabku.


“Siapa yang marah? Kamu kan adek ku, coba sini bilang siapa nanti yang marah” jawaban mas Andika semakin meledek.


“Iya mas Andika yang ganteng tapi selalu memaksa mau nya apa?”


“Temani makan yok” ajak mas Andika.


“Makan dimana?” Perasaan ini orang ngajak makan mulu, banyak banget uangnya bayarin aku terus.


“Biasah bakso atau me ayam aja di deket ATM BNI aja gimana?”


“Oke yok berangkat, kali ini aku yang traktir ya” tawarku pada mas Andika.


“Oh tidak pantang seorang cowok makan yang bayar ceweknya”


Jadi sebenarnya aku ini ceweknya apa adiknya? Hurt


“Aku habis dapat rezki mas, boleh lah sekali-kali berbagi”


“Tidak usah trimakasih, simpan saja uangnya untuk keperluan kamu”


Sesampainya di tempat makan, mas Andika lekas memilik mie ayam sedangkan aku bakso dan dua es teh manis. Aku dan mas Andika memilih duduk di bawah agar lebih khusuk saat makan. Tiba-tiba saat baru habis setengah poris makanan suara HP mas Andika berbunyi.


Tring tring tring

__ADS_1


“Assalamualaikum iya yang ada apa”


“Apa?” Dengan wajah yang kaget.


__ADS_2