
“Assalamualaikum ibu bapak saya Reno”. Mas Reno tanpa aba-aba dan permisi terlebih dahulu menjawab pertanyaan ibu bapak yang belum sempat aku jawab.
“Saya Reno buk kebetulan saya sekarang pacaran dengan anak bapak ibu, saya serius bu menjalani hubungan ini”. Mas Reno tampak tersenyum.
Kalian tau bagaimana perasaanku?.
Ya aku kesal sekali, bukan tanpa alasan aku tidak ingin bapak dan ibu memiliki harapan lebih dengan hubunganku dan mas Reno karena sampai saat ini perasaanku masih jalan di tempat tidak tau mau ke mana.
“Nak Reno ya namanya, Yu tolong hp nya bawa ke nak Reno, ibu ingin melihatnya, kapan nak Reno di bawah pulang ke rumah? Ibu bapak pengen kenalan sama calon mantu”. Pertanyaan ibu bapak terus saja mengejar ku ke arah hubungan itu.
Mas Reno mulai melambai-lambaikan tangannya menyala ibu yang berada di sebrang sana.
"Saya Bu Reno". sapa mas Reno pada ibu.
"Wah ganteng tenan mantuku".
“Eh iya bu kapan-kapan, mas Reno masih sibuk”. Jawabku pada ibu bapak dengan sedikit malas dan lakas mengarahkan kamera hp ke arahku.
“Wah nak Reno kalau lagi tidak sibuk boleh lo main ke rumah ibu bapak, pintu rumah ibu bapak terbuka lebar untuk calon mantu”.
Ibu tersenyum sumringah saat vidio call denganku seakan bahagia sekali akhirnya aku bisa dekat dengan laki-laki. Maklum ini pertama kalinya orang tuaku mengetahui ada lelaki di dekatku.
“Iya bu nunggu di ajak Rahayu ke sana”. Entah mengapa mas Reno ikut saja menjawab panggilan vidio call ku dengan ibu.
“Yu kamu ini bagaimana sih, tolong kalau libur dan tidak sibuk ajak calon mantu ibu ke rumah”.
Lagi-lagi ibu mengatakan calon mantu seakan menegaskan mas Reno calon mantunya dan membuat dia semakin percaya diri. Jujur aku semakin takut tidak mampu memenuhi ekspektasi mereka.
Bu bagaimana kabar adik-adik? Apa mereka ada yang nakal?”.
“Oh adik-adik kamu baik-baik semua Yu, mereka anak-anak yang baik sama seperti kamu. Hanya saja mereka ingin sekali memiliki sesuatu yang ibu belum bisa memenuhi”.
Jawab ibu dengan senyum.
“Mereka meminta apa bu?”. Aku terkejut khawatir adik-adikku membutuhkan sesuatu yang ibu bapak belum sanggup untuk membelikannya.
__ADS_1
“Adik-adik kamu ingin punya kakak ipar Yu”. Jawab ibu sambil tertawa kecil menggodaku.
“Ah ibu bikin Rahayu kaget saja doakan sajalah bu”. Aku menghela nafas panjang.
“Ya sudah nduk hati-hati ya, anak mantu titip anak ibu ya nak tolong di jaga baik-baik Rahayu”. Ucap ibu dengan suara lebih keras agar mas Reno mampu mendengar dengan jelas ucapan ibu tadi.
“Siap bu dijaga dari rambut samai ujung kuku pasti aman”.
Mas Reno menjawab dengan sangat semangat, berbeda denganku yang hanya tersenyum kecut mendengar obrolan mereka.
Panggilan telfon berakhir aku dan mas Reno masih melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Setelah mendengar perkataan ibu tadi tiba-tiba tangan kiri mas Reno memegang tangan kananku.
Tatapan mas Reno begitu dalam dan mendamba.
“Yu kamu sendiri dengarkan ibu dan bapak kamu saja merestui hubungan kita”. Mas Reno masih menggenggam tanganku kembali.
"Jadi kapan aku boleh ke rumah kamu?".
“Iya mas nanti coba aku pikirkan lagi”, aku hanya menjawab dnegan deheman saja.
“Baik mas akan ku coba pikirkan lagi nanti, mas aku mau ambil tisu dulu”.
Aku lekas menarik tanganku dari mas Reno.
Sepertinya mas Reno tidak suka dengan tingkahku yang seenaknya saja seperti tidak menganggap dia adalah kekasihku.
Kemudian kami saling terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing, aku sibuk mencari keberadaan tisu yang memang tidak ada dan beralih bermain ponsel, sedangkan mas Reno menyetir membelah kota Surabaya dalam diam.
Beberapa saat kemudian kami sudah sampai di tepat makan yang sudah di tentukan mas Reno. Mas Reno lekas memarkirkan mobilnya dan seperti biasa mas Reno akan membukakan pintunya.
“Silahkan sayang”, ucapnya dengan lembut.
Jujur aku juga sering berdoa pada yang maha kuasa untuk bisa dibukakan hati sepenuhnya agar bisa mencintai dan menerima keberadaan mas Reno.
“Trimakasih mas tidak usah repot-repot aku masih bisa buka pintu sendiri”.
__ADS_1
“Tidak papa sayang, ayo lekas masuk”. Mas Reno kembali mencoba menggandeng tanganku.
Lagi-lagi aku menampik perlakuan mas Reno tersebut. Seperti biasa mas Reno menghela nafas kecewa dengan perlakuanku.
***
Beberapa hari berlalu sejak vidio call ku dengan ibu dan mas Reno, orang tuaku semakin mendesak untuk lekas meresmikan hubungan kami. Meski tidak harus langsung menikah ibu dan bapak menginginkan aku dan mas Reno untuk bertunangan terlebih dahulu setidaknya ada satu titik untuk melangkah ke depan.
Tentu saja hal ini membawa angin segar bagi mas Reno. Tapi tidak untukku aku semakin gusar untuk mengambil langkah ke depan. Mas Reno tampak antusias sekali bahkan beberapa hari terakhir ini mas Reno berani menghubungi sendiri orang tuaku tanpa aku.
Seperti biasa saat pagi datang mas Reno akan datang ke kos ku untuk menjemput ku berangkat bekerja.
“Sayang minggu depan kan kamu libur panjang, bagaimana kalau aku antar kamu pulang sekalian aku kenalan sama ibu dan bapak”.
Deg deg...
Sudah sejauh inikah langkah ku dan mas Reno aku tidak siap.
“Aku belum tentu dapat jatah libur mas meski ada libur panjang, kan beberapa bulan ini ada peluncuran produk baru jadi jadwalku masih sangat padat”. Aku mencoba mengulur waktu untuk tidak mempertemukan mas Reno dengan orang tuaku terlebih dahulu sebelu aku memastikan hatiku benar-benar utuh hanya untuk mas Reno.
“Begitu ya, rumah kamu kan dekat sayang tidak sampai dua jam dari siji kalau kamu mau pulang kapan saja aku pasti siap untuk mengantar”. Ucapnya dengan senyum tulus.
Entah mengapa aku merasa mas Reno terlalu terobsesi untuk memilikiku padahal aku sudah menunjukan banyak sekali sinyal-sinyal untuk menolaknya secara halus.
“Baik mas kalau waktunya sudah tepat insyaallah aku kenalkan bapak dan ibu tapi aku juga tidak janji mas”, Ucapku pada mas Reno dengan menundukkan kepala.
“Tidak papa sayang aku paham”. Mas Reno menjawab dengan mengelus kepalaku.
"Trimakasih mas untuk semua pengertianmu maafkan aku yang masih belum sepenuhnya bisa menjalani kisah kasih ini".
Ucapku dalam hati yang tak sampai untuk ku ucapkan langsung pada mas Reno.
Aku begitu pengecut.
Duh jadi ingat mas Andika. Mas Dika kamu dimana? Aku maunya sama kamu.
__ADS_1