
Sementara itu di parkiran yang sama Andika menatap Rahayu dari kejauhan, tampak seperti sedang kebingungan. Andika memberanikan diri untuk menemuinya.
“Ada apa Yu?”.
“Eh pak Dika”.
“Mas saja Yu, aku lebih suka di panggil mas lebih muda”. Andika mencoba membuat gurauan di antara mereka sayangnya itu tak lucu.
“Eh iya mas, ini bannya kempes”.
Andika memperhatikan kondisi mobil tersebut.
“Kok bisa kempes semua?”.
“Ini tadi aku buru-buru mau ngumpulin tugas, jadi aku parkir asal deh”.
Andika menari nafas dalam.
“Ini karena ulahku yang mengerjainya jadi Rahayu dalam kesulitan”. Ucapnya dalam hati.
“Hem bagaimana kalau pulangnya sama aku saja, biar mobilnya di sini nanti aku suruh orang isi angin”.
“Eh tidak usah mas merepotkan saja”.
“Tidak aku sedang tidak sibuk, kamu tinggal di mana?”.
“Di permata Jingga mas”.
“Ya dah sekalian saja, kebetulan juga searah tempat tinggal kita”.
“Apakah tidak merepotkan mas?”.
“Tentu saja tidak, tapi tunggu apa tidak apa jika aku antar?”.
“Tidak papa mas”.
“Tunggu di sini sebentar”.
Andika lekas menuju pos satpam terdekat tadi, menyuruh meraka untuk membereskan mobil tersebut sekaligus mengantarkan ke rumah Rahayu nanti ketika sudah selesai, tak lupa Andika memberi beberapa lembar pahlawan warna biru pada mereka sebagai tips.
Rahayu dan Andika lekas berjalan bersama menuju mobil.
Seperti laki-laki pada mamanya Andika lekas membukakan pintu untuk Rahayu dan mempersilahkan untuk mask terlebih dahulu.
Kini keduanya sedang berada di dalam mobil.
__ADS_1
Hening.
Hening begitulah kira-kira tak ada obrolan dalam mobil tersebut, keduanya begitu canggung dengan keadaan yang ada.
Andika sibuk dengan pemikirannya begitu pula Rahayu. Meski diantara mereka banyak hal yang ingin di tanyakan sat sama lain. Tapi sayangnya kedua orang tersebut saling diam dan membisu.
“Mas di blok F itu belok kira”. Rahayu mengarahkan tangannya menunjukan pada Andika di mana rumahnya.
“Itu mas yang cat warna putih”. Rahayu kembali mengarahkan tangannya menunjuk sala satu rumah megah yang berjajar di perumahan elit tersebut.
Andika lekas menghentikan mobilnya.
“Mampir dulu mas”. Tawar Rahayu bosa-basi.
“Tidak usah kapan-kapan saja, aku permisi dulu ya, salam ke orang rumah”. Pamit Andika dengan kembali menjalankan mobilnya.
Rahayu menganggukkan kepalanya saja, kemudian tangannya melambaikan pada Andika begitu juga Andika yang membalas lambaian tangan tersebut.
Rahayu lekas masuk ke dalam rumah tersebut.
***
POV Andika Putra Maharaja.
Beberapa minggu ini aku semakin frustasi akan hidupku, belum sirna rasa sakit hatiku kehilangan kekasih hati yang lama aku cintai dengan sepenuh hati, tapi papa dan mama menyodorkan aku seorang gadis untuk lekas menikahinya.
Kali ini papa dan mama akan menjodohkan aku dengan anak temannya, aku tak tau anak teman mama papa yang mana lagi yang akan di jodohkan sama aku. Kata papa dan mama dia anak yang cantik, baik hati dan pinter pokoknya sangat cocoklah kala di jadikan istri. Tapi sayangnya aku tak berminat aku jga enggan untuk mengenalnya, bahkan untuk melihat fotonya saja aku malas.
Papa dan mama memberikan aku waktu satu tahun ke depan, jika dalam waktu satu tahun ke depan aku tak mampu membawa seorang gadis untuk ku nikahi maka aku harus berlapang dada untuk menerima perjodohan ini.
Bagaimana bisa aku membawa gadis baru untuk aku nikahi sedang hatiku masih bertaut pada sang pujaan hati. Ya walaupun ku tahu cinta padanya sudah kandas dan tak mungkin bersambut lagi.
Satu minggu yang lalu, aku kembali menjalankan rutinitas seperi biasa aku akan mengajar, sebenarnya tak ada yang istimewa dalam hal ini tapi aku sedikit merasa kesal dengan kelas pertamaku, ya aku telat dan di tinggal mahasiswaku, sedang aku sudah berusaha untuk datang meskipun telat.
Pertemuan kedua aku semakin kesal karena salah satu mahasiswa yang menghubungiku minggu lalu tidak masuk tanpa alasan yang jelas. Timbullah satu ide untuk mengerjainya.
Aku membuka no wa nya dengan profil kucing putih yang lucu dan mengemaskan. Jujur dalam hatiku yang terdalam aku berharap dia selucu dan semenggemaskan kucing tersebut.
Karena dia tak mengikuti kelas keduaku, maka aku berniat untuk mengerjainya dengan memberikan tugas yang diluar kapasitasnya, sengaja memang biar tidak bisa mengerjakan.
Seperti dugaanku dia tak mampu mengerjakan tugas tersebut, bahkan sebelum mencobanya. Aku juga memberikan tawaran yang tak masuk akal untuk membantu memikirkan hidupku yang berat.
Dia memberikan komen yang panjang lebar tentang tawaran tak masuk akal yang aku berikan padanya, sayangnya aku tak peduli, aku semakin ingin tertawa di buatnya.
Ya aku kembali tertawa dengan terpingkal-pingkal kala membaca pesan wa nya yang mengatakan kesulitan dan tak mask akal, aku serasa menemukan mainan baru dan sejenak terhibur dengan masalah yang aku hadapi.
__ADS_1
Keesokan harinya tibalah saat yang di tunggu-tunggu bertemu dengan kucing, sungguh sepanjang perjalanan menuju kampus aku berharap kucingku kali ini adalah sosok yamg cantik, baik hati dan memiliki wajah yang teduh yang paling penting masih muda dan belum memiliki pasangan.
Sepanjang perjalanan aku berangan ini jalan menemukan jodoh dnegan tanpa sengaja. Sesampainya di kampus aku kembali membaca pesan dari kucingku yang mengatakan akan telat tidak dapat mengumpulkan tugas tepat waktu, aku semakin semangat uuntuk mengerjainya.
Benar saja dia terlambat enam menit dari waktu yang telah kami sepakati sebelumnya.
Dia berlari dengan begitu cepatnya terlihat dari suara naasnya yang ngos-ngosan ketika sampai ruanganku.
Inginku menertawakannya tapi ku tahan sekuat tenaga, aku ingin terlihat cool di depannya.
Aku juga menolak tugas yang dia serahkan tanpa memandang wajahnya, hanay saja dia terus memaksaku untuk menerima tugas tersebut. Dia merengek dengan begitu manjanya. Hatiku tertegun mendengar suara itu. Suara yang tak asing di telingaku seperti sudah familiar mendengarnya.
Ya itu seperti suara Rahayu kekasih tak sampai ku.
Hanya saja aku menampik dengan sekuat tenaga dan hati, mungkin ini hanya halusinasi saja karena semalam aku kembali mengenangnya. Beberapa kali aku menampik hal itu tapi.
Suara itu memanggil dengan namaku.
“Mas Andika”.
Deg hatiku berdetak sangat cepat kala mendengar panggilan itu, ku beranikan mengangkat kepala dan menatap sumber suara. Betapa terkejutnya aku kala mendapatinya ada di depanku.
Rahayu ada didepan mataku.
Tak ada yang berubah darinya masih sama cantiknya.
Beberapa detik aku terlena dengannya yang ada di depan mataku, kemudian aku tersadar pada kenyataan.
“Ya Allah istri orang cantiknya”.
Ya Alla kenapa enggak mempertemukan kami kembali di saat hatiku masih sangat rapuh, bagaimana bisa aku menjalani hari-hari jika setiap hari harus bertemu dengannya.
Ya Alla kenapa engka permainkan takdirku seperti ini, bagaimana bisa aku sanggup untuk menyaksikan kebersamaan dengan pasangannya.
Sepeninggalan dia dari ruanganku, aku kembali melihatnya berada di parkiran dan tampak kebingungan, aku kembali menawarkan bantuan untuknya, bakan aku mengantarkannya untuk pulang. Rupanya dia tinggal di Permata Jingga kawasan ruma elit yang ada di Malang, akupun mengatakan jika rumahku serah dengannya anya karena ingin tahu rumahnya.
Kalian tahu rumahku di mana?.
Rumahku di kawasan Ijen dan itu berlawanan dengan arah dengan Permata Jingga hanya saja aku ingin mengetahui tempat tinggalnya.
Aku berpamitan padanya, terlihat lambaian tangannya padaku.
Ah andai saja dia istriku saat ini.
Aku kembali menangis, bagaimana bisa akan bertemu dengannya setiap hari.
__ADS_1