
Rupanya kedatangan bu Renata, sudah di tunggu sama ibu-ibu sosialita, teman bu Renata, terbukti ketika bu Renata masuk,langsung di sambut hangat sama pemilik rumah juga ibu yang lain nya.
"Kita, kira jeng Rena tidak akan datang, kami sudah dari nunggu,eh bawa siapa nih jeng, cantik banget. "Ibu berbaju biru tua itu langsung menuntun bu Renata menuju yang lain nya.
"Datang dong, tadi ada keperluan dulu, kenalkan ini Rania, dia keponakan nya bik Tuti, ia baru datang kemarin. "Bu Renata mengenalkan Rania pada semua teman-teman nya.
"Wah, ga nyangka ya bik Tuti punya ponakan cantik banget kaya gini, eh mau ga kamu jadi mantu saya? "Tanya ibu-ibu lain.
"Eh jeng, anak jeng kan sudah punya pacar, masa mau di jodohkan,mending Rania buat anak saya saja,dia masih jomblo kasin. "Ucap ibu satu lagi, Rania melihat ibu-ibu yang berjumlah 8 orang itu heboh sekali.
Rania menyalami satu persatu teman bu Renata dengan sopan, sesekali mereka menggoda Rania dengan candaan nya.
Bu Renata cuma tersenyum melihat teman-teman nya heboh memperebutkan Rania, ia tidak memungkiri kalau Rania benar-benar cantik, meskipun tidak dandan berlebihan bahkan terlihat natural banget.
Mereka semua ngobrol,juga melakukan arisan seperti kebanyakan perkumpulan sosialita lain nya, Rania cuma menyimak karena tidak mengerti dengan obrolan mereka.
Tidak terasa sudah lama mereka berkumpul, karena suasana yang rame Rania tidak merasa bosan, meskipun ia tidak mengerti dengan apa yang mereka bahas.
Semuanya membubarkan diri karena acaranya sudah selesai,termasuk bu Renata,ia mengajak Rania langsung pulang karena suaminya pasti sudah menunggu di rumah.
"Tadi kamu ga bosan kan Ran?"Tanya bu Renata, membuka percakapan yang tadinya hening.
"Engga bu, seru malah,teman-teman ibu ramah semua. "Jawab Rania, awalnya ia takut kalau orang-orang yang tadi berkumpul,akan melihat sebelah mata pada dirinya, karena ia cuma seorang pembantu.
"Ya itu udah peraturan kita semua Rani,jadi kita tidak pernah memandang orang dengan sebelah mata, kita sering melakukan kegiatan amal bersama,kapan-kapan ibu ajak kamu. "Jelas bu Renata.
__ADS_1
"Aku kira peraturan itu cuma ada di sekolah bu,rupanya kumpul-kumpul kaya gitu juga ada peraturan nya ya. "Ucap Rania.
"Pasti papa, sudah nunggu tuh, kita perginya terlalu lama ya tadi, ibu sampai lupa waktu kalau sudah ngumpul kaya tadi tuh. "Bu Renata melihat suaminya sudah berdiri di teras rumah begitu mobil bu Renata memasuki garasi rumahnya.
Bu Renata juga Rania turun dari dalam mobil, bu Renata dengan cepat menghampiri suaminya yang sudah berdiri menyambutnya.
"Papa, pasti sudah kangen sama mama ya. "Bu Renata berusaha supaya suaminya tidak marah karena ia pergi terlalu lama, ia langsung memeluk suaminya dengan mesra, tidak peduli mereka masih di luar rumah.
"Mama kebiasaan kalau pergi suka lupa waktu, papa di tinggal sendirian. "Pak Bambang merajuk,tapi ia tetap membalas pelukan istrinya tak kalah erat.
"Maaf ya pa, nanti malam,mama tebus dengan cara lain gimana? "Bu Renata mengedipkan matanya genit.
Rania yang melihat kedua majikan nya sedang bermesraan,ia merasa malu sendiri, Rania merasa serba salah melihat pemandangan itu, mau pergi tidak enak kalau langsung pergi tanpa pamit, kalau tetap berdiri menyaksikan pemandangan di depan nya." pak,bu hargai saya yang jomblo dong, ya ampun, kenapa harus terjebak di sini sih, ngenes banget kan. "batin Rania.
"Ma, kita masuk dulu, kasian Rania berdiri dari tadi menyaksikan kita, bahaya kalau ia terus melihat kita, diakan masih polos. "Ajak pak Bambang.
"Euh, iya tidak apa-apa bu."Ucap Rania.
"Maklum ibu harus meluluhkan bapa dulu Ran, kalau tidak bisa panjang urusan nya,sepanjang tel kereta."Bu Renata berbisik di telinga Rania.
"Mama bisikin Rania apaan, jangan meracuni otak perawan ma, bahaya. "Pak Bambang menarik tangan istrinya untuk mendekat ke arahnya.
"Mana ada pa, tadi mama bilang,makasih karena sudah mau nemenin mama tadi. "Bu Renata berkelit.
"Kami masuk duluan ya Ran, sekali lagi makasih sudah nemenin ibu ya. "Ucap bu Renata, setelah itu ia masuk bersama suaminya.
__ADS_1
Setelah kedua majikan nya masuk, Rania masuk lewat pintu samping, yang langsung mengarah ke dapur.
Rania langsung mencari uwa nya di dapur tapi tak menemukan nya, akhirnya ia langsung masuk ke kamar nya, lalu meletakan baju yang tadi ia pakai ke dalam keranjang pakaian kotor, dan sekarang tujuan utama nya adalah kamar mandi, ia merasa badan nya sedikit lengket.
Setelah selesai membersihkan badan, Rania keluar hanya menggunakan handuk yang sangat pendek.
"Ran, **** banget kamu, kenapa ga pakai baju di kamar mandi saja."entah sejak kapan uwa nya itu berada di kamarnya.
"Emang kenapa, uwa tidak akan ngiler kan lihat badan aku yang seperti gitar spanyol ini. "Rania berlenggak lenggok di depan bik Tuti.
"Haduh, kalau mimpi nanti ya, sekarang masih terang loh, masa sudah mimpi. "Bik Tuti pura-pura mau muntah melihat tingkah Rania.
"Aku bukan sedang mimpi wa, tega banget punya uwa ngatain aku lagi mimpi, padahal kan aku lagi menghayal. "Rania memanyunkan bibirnya.
"Itu sebelas,dua belas Oneng, cepat sana pakai baju, nanti masuk angin, di sini ga ada minyak nyong-nyong Ran. "Ucap bik Tuti.
"Minyak nyong-nyong buat apa lagi. "Tanya Rania, ia lalu memilih baju yang akan ia kenakan.
"Ya buat kerok punggung kamu lah, biasanya kan kamu suka di kerokin sama ibu kamu, kalau masuk angin tuh, udah ga ada bedanya kaya tulang kambing."Jelas bik Tuti.
"Kan biasanya keroknya pakai jelantah wa supaya licin, di sini ada kan jelantah? "Tanya Rania,
"Ada, bekas goreng terasi Ran. "Jawab bik Tuti.
Rania tidak menyahut lagi ucapan uwa nya, ia fokus memakai baju, supaya tidak salah memasukan kancing, kebiasaan nya kalau pakai baju tidak fokus kancing nya suka salah masuk.
__ADS_1
Setelah memastikan bajunya terpasang rapi di badan nya, Rania menghampiri bik Tuti yang sedang duduk di atas tempat tidurnya.