Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 63


__ADS_3

"Enggak, biasanya juga dia seperti itu, kalian aja yang terlalu berlebihan,"kata oma Ratna, hatinya jadi bimbang antara menyatukan Serly atau membiarkan rumah tangga cucunya itu.


"Itu, terserah ibu. yang penting, saya mohon sama ibu jangan selalu menghina Rania,"ucap pak Bambang.


Oma Ratna berdecak mendengar ucapan menantunya. ia lalu melenggang keluar dari dalam ruang kerja pak Bambang.


Bu Renata masuk ke dalam ruang kerja suaminya setelah melihat oma Ratna keluar sambil manyun.


"Pah, gimana? kenapa ibu malah manyun keluar dari sini,"tanya bu Renata. ia menjatuhkan bokongnya di samping sang suami.


"Ibu, kan keras kepala ma, biarkan ajalah. yang penting papa sudah bicara,"ucap pak Bambang.


"Semoga Rania bisa meluluhkan ibu ya pa, kaya papa sampai bisa diterima sama ibu,"bu Renata menerawang jauh ke masa lalu.


"Semoga ma, Rania itu tanggung jawab kita. bik Tuti banyak jasanya buat keluarga kita, terutama buat Lucas,"pak Bambang menarik napas panjang.


Suasana langsung hening pasangan suami istri itu larut dalam pikiran masing-masing. baru saja mereka bahagia karena bisa melihat anak semata wayangnya ceria kembali setelah menikahi Rania, tapi sekarang ada cobaan buat pasangan baru itu.


Sedangkan di lain tempat, Lucas tidak bisa fokus bekerja. pikirannya terus mengingat Rania, ia takut kalau oma dan Serly akan melakukan hal yang membahayakan buat Rania.


Lucas melihat jam tangan yang melingkar ditangannya, ia memastikan kalau Rania sudah selesai mengikuti kelasnya.


Lucas menyambar kunci mobilnya dari atas meja, ia melenggang pergi keluar dari ruangannya.


"Win, kalau ada yang menanyakan saya, bilang saja kalau saya ada keperluan sebentar,"Lucas bicara sama sekertaris nya.


"Tapi, pak, sebentar lagi ada meeting sama perusahaan yang akan kemarin mengajukan kerja sama,"papar Wina.


"Kamu batalkan saja, atau undur waktunya!"ucap Lucas dengan enteng.


"Tapi...


"Sudah, saya mau jemput istri saya dulu, kalau ada apa-apa, bilang saja sama Hendrik,"setelah mengatakan itu, Lucas bergegas pergi dari hadapan Wina.


Dasar bos dingin, apa lebihnya sih wanita yang jadi istrinya pak Lucas itu, emang lebih cantik dari aku, tapi aku lebih seksi dan menggoda.


Mata Wina terus menatap Lucas sampai hilang dari pandangan matanya.


"Kerja, malah bengong. mau makan gaji buta,"ketus Lucas, ia melewati Wina begitu saja.


Kenapa harus ganteng sih, jadi mau benci juga susah, tapi satupun tak ada yang tertarik padaku.


Wina menghentakan kakinya menuju meja kerjanya.


"Lucas, kemana?"tanya Hendrik tanpa ekspresi.


"Keluar pak, katanya mau jemput istrinya,"Wina menjawab tanpa menatap Hendrik.


"Kalau orang lagi ngomong tuh lihat mukanya, bukannya sok sibuk!"


"CK, iya bapak Hendrik yang terhormat, kenapa?"Wina mengangkat wajahnya melihat wajah Hendrik.

__ADS_1


"Gak jadi, keburu enek saya lihat wajah kamu, kaya tante-tante,"Hendrik berlalu dari hadapan Wina lalu masuk kembali kedalam ruangannya.


"Astaga, dosa apa yang akan aku lakukan di masa depan. sampai harus berhadapan sama orang-orang yang nyebelin melebihi mantan,"Wina membanting berkas yang ada di atas meja kerjanya.


****


Lucas menepikan mobilnya di pinggir jalan dekat kampus tempat sang istri kesayangan belajar. matanya elangnya menelisik satu-satu persatu orang yang keluar masuk ke dalam area kampus.


Rania menyipitkan matanya ketika baru keluar dari gerbang, matanya sudah menangkap mobil yang sangat ia kenali. langkahnya semakin dekat pada mobil mewah itu tiba-tiba Lucas membuka pintu mobil lalu keluar menyambut istri kesayangannya.


"Sayang, kenapa kamu yang jemput?"tanya Rania begitu Lucas berada di depannya.


"Kangen, yu masuk. gak enak banyak yang lihatin,"Lucas membuka pintu supaya Rania masuk.


Rania melihat sekeliling banyak mahasiswa yang melihat ke arah mobil suaminya.


"Kamu udah lama nunggunya?"tanya Rania begitu Lucas duduk di sampingnya.


"Belum sayang, kita makan dulu ya aku lapar,"Lucas melajukan mobilnya di jalan raya yang cukup padat.


"Aku juga belum makan, tadinya mau beli terus makannya di kantor,"ucap Rania.


"Ya udah, kita makannya di kantor aja, biar bisa disuapin,"Lucas mengedipkan matanynya menggoda Rania.


"Apaan sih, kaya anak kecil aja,"Rania membuang muka, karena tiba-tiba wajahnya terasa panas padahal Lucas cuma bilang suapin tapi efeknya lumayan membuat Rania salah tingkah.


"Aku, emang bisa bertingkah kaya anak kecil kalau di depan kamu sayang,"Lucas meraih tangan Rania lalu mengecupnya berkali-kali.


"Aku gak bisa fokus kalau udah deket kamu kaya gini, bawaannya mau nempel terus. kamu punya magnet ya? sampai aku gak mau lepas dari kamu,"gombalan Lucas makin menjadi-jadi.


"Udah, kamu makin aneh tahu,"


"Cie cie pipinya merah,"Lucas melepaskan tangan Rania beralih mengusap pipi Rania.


"Oh iya, oma gimana?"tanya Rania. ia baru ingat tentang oma Ratna.


"Gimana, apanya sayang?"Lucas melirik istrinya sejenak.


"Jadi enggak datang ke kantor?"


"Jadi, udahlah gak usah bahas itu. aku mau fokus sama kita berdua,"tiba-tiba mood Lucas sedikit jelek mengingat ucapan omanya.


Mendengar dan melihat perubahan Lucas, Rania memilih diam. ia mengerti dengan suasana hati suaminya.


Lucas memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran, ia sengaja memilih restoran yang tidak terlalu ramai karena tak mau menunggu lama.


"Sayang, mau turun atau nunggu di mobil?"Lucas menatap Rania.


"Nunggu aja, tapi jangan lama ya,"jawab Rania.


"Enggak, aku gak bisa terlalu lama jauh dari kamu,"

__ADS_1


"Jangan mulai, udah sana pergi,"Rania mengibaskan tangannya di depan Lucas.


Lucas membuka pintu mobil, tapi kemudian menutupnya kembali.


"Kenapa?"kening Rania mengerut diikuti alisnya.


Lucas mendekatkan wajahnya pada wajah Rania. secepat kilat ia mengecup b***r yang sedari tadi menggodanya.


"Dari tadi belum dikasih ciuman sayang,"ucap Lucas. tangannya mengusap bibir Rania.


Rania mengerjapkan matanya ketika Lucas sudah keluar dari mobil, kecupan singkat itu membuat Rania mematung, meskipun bukan pertama kali, tapi Rania selalu dibuat sport jantung dengan tingkah suaminya.


Selalu tiba-tiba, tidak tahu apa kalau jantung anak orang seperti mau keluar dari tempatnya, apa aku udah jatuh cinta ya sama suami aku.


Rania mengambil ponselnya yang terdengar berbunyi dari dalam tasnya. nama Firda sahabatnya terlihat dilayar ponsel mahal yang dibelikan Lucas beberapa waktu lalu. Rania mengusap tombol warna hijau dilayar ponselnya.


"Kenapa fir?"


"Ran, yang tadi jemput kamu siapa?"


"Kenapa, dia suami aku fir,"


"Wah, suami kamu pasti orang kaya, tadi anak-anak pada heboh gara-gara lihat mobil mewah yang jemput kamu,"


"Biarin aja, kamu udah selesai tugasnya?"pasalnya tadi Firda ada tugas dari dosen.


"Udah, kamu udah sampai rumah, kapan-kapan aku boleh main gak ke rumah kamu?"


"Boleh, nanti aku minta izin sama suami aku ya,"


"Oke, udah dulu ya, sopir aku udah datang tuh,"


"Oke, hati-hati Fir,"


"Siapa sayang?"Lucas memberikan makanan yang ia beli kepada Rania, ketika Rania selesai telponan sama Firda Lucas sudah duduk manis di balik kemudi.


"Firda, temen aku di kampus,"


"Perempuan?"tanya Lucas.


"Iya, aku gak punya temen laki-laki, gak tahu nanti,"jawab Rania dengan senyum manisnya.


"Gak boleh, kalau sampai punya temen laki-laki, mending kuliahnya online atau privat di apartemen,"tegas Lucas.


"Gak papa, asal gurunya ganteng, aku mau,"Rania menaik turunkan alisnya.


"Jangan harap, aku bakal nyari guru yang galak buat kamu!"


"Iya lah bapak, mending sekarang kita pergi, aku udah lapar,"Rania mengakhiri perdebatan masalah tak penting itu.


Maaf gak up ya kesyangan, aku ada urusan kemarin jangan lupa like, komen sama vote nya ya, terima kasih🤗

__ADS_1


__ADS_2