
"Lucas, kamu beneran Lucas kan?"tanya wanita dengan setelan kantor itu.
"Iya, kamu Meryana bener kan?"Lucas tersenyum.
"Maaf, apa nostalgia nya, bisa dilanjukan nanti setelah meeting?"tanya laki-laki yang masih berdiri di samping Meryana.
"Oh, maaf, maaf pak, silahkan duduk,"Lucas mempersilahkan kliennya duduk, ia sampai lupa karena bertemu teman lama.
Akhirnya meeting di mulai, untungnya Pak Santos dengan cepat menyetujui kerja samanya dengan perusahaan Lucas. Meryana sangat kagum melihat Lucas yang sangat apik dalam menyampaikan visi misi perusahaannya. tak lupa keuntungan-keuntungan lainya juga.
"Baiklah, sebagai perayaan kesepakatan kerja sama kita, saya yang bayar semua makanan ini,"celetuk pak Santos.
"Baik, terima kasih banyak pak,"sahut Lucas.
Setelah selesai meeting Pak Santos pulang sama sekretarisnya yaitu Meryana. mereka bertukar no ponsel untuk berkomunikasi.
"Woy, ngedip tuh mata, ingat dia udah punya suami,"Lucas memukul tangan Hendrik yang terus menatap Meryana.
"Iya bos, gue juga tau. tapi kenapa sih, gue selalu gak beruntung ya,"Hendrik membuang napas kasar.
"Jangan gila, lo beneran naksir dia Hen?"tanya Lucas.
"Yoi, kayanya dia cewek smart Luc, gue suka tapi sayang udah ada pawang anj...,"jelas Hendrik.
"Sabar, mungkin jodoh lo, baru dilahirkan sama emaknya,"ucap Lucas.
"Sialan, keburu karatan barang gue, masa harus nunggu berapa puluh tahun lagi kalau gitu!"
"Hahaha... gampang kalau karatan, nanti tinggal rendam pakai air panas,"ujar Lucas.
"Gilak! emang apaan bego, mentang-mentang udah ada sarang,"Hendrik mendengus mendengar ledekan Lucas.
__ADS_1
Hendrik meraih ponselnya karena ada panggilan masuk dari pak Hendra. dia mengabarkan kalau sudah sampai di tempat itu.
Tak lama kemudian terlihat pak Hendra masuk ke dalam restoran itu di belakangnya Alinda mengikuti langkah ayahnya.
"Selamat siang pak Lucas, pak Hendrik,"sapa pak Hendra.
"Siang juga pak, silahkan duduk,"Hendrik yang menjawab, sedangkan Lucas cuma menatap ayah dan anak itu tanpa bersuara.
"Pak Lucas apa kabar? saya dengar kemarin lagi pergi liburan,"tanyanya basa basi.
"Saya baik, bagaimana kabar anda pak?"Lucas balik nanya, ia tak menjawab perihal liburan yang disebut, menurutnya itu bukan hal yang harus dibicarakan sama orang luar.
"Saya juga baik, kita langsung aja pada permasalahan kita, mungkin pak Bambang atau pak Hendrik sudah menjelaskan pada anda, jadi menurut anda bagaimana baiknya pak?"pak Hendra bicara panjang lebar.
"Bagaimana baiknya, maksudnya apa ya"tanya Lucas.
"Alinda bilang kalau anda yang memutuskan kerja sama itu secara sepihak, terus sekarang perusahaan saya lagi diambang pintu, kalau anda tidak bertanggung jawab terpaksa saya akan membawa kasus ini ke jalur hukum,"sahut pak Hendra.
"Sebelum bicara yang tidak-tidak, mending anda lihat semua ini, baru nanti saya yang akan bicara,"Lucas menggeser layar laptopnya ke hadapan pak Hendra.
Pak Hendra melihat apa yang Lucas berikan, matanya membulat ketika melihat semua bukti yang Lucas berikan, termasuk saat Alinda datang ke kantor Lucas dan bicara dengan angkuh kalau Lucas tak mau menikah sama dirinya, Alinda akan menarik semua saham milik ayahnya dari perusahaan Lucas.
"Alinda, apa benar semua itu kelakuan kamu?"tanya pak Hendra. matanya sudah menatap tajam Alinda seperti seekor elang yang hendak menerkam mangsanya.
"Iya, maaf yah, Alinda benar-benar tak sengaja,"lirih Alinda.
"Tak sengaja katamu, setelah semua terjadi dengan entengnya, kamu bilang tak sengaja!"bentak pak Hendra.
"Hen, kayanya sekarang bukan ranah kita, mending kita pamit, kerjaan gue numpuk di kantor,"bisik Lucas pada Hendrik.
"Bener, lagian suasananya jadi aneh kalau kita melihat keluarga berantem,"Hendrik membenarkan ucapan Lucas.
__ADS_1
"Pak! saya mau permisi ke kantor dulu, tadi bapak sudah lihat buktinya kan, jadi saya tegaskan dalam masalah ini perusahaan bapak yang mulai, bukan kita,"Hendrik memotong pertengkaran antara ayah dan anak itu.
"Iya pak Hendrik, saya benar-benar minta maaf, apa kita masih bisa menjalin kerja sama kembali?"tanya Pak Hendra.
"Kalau untuk masalah itu, nanti saya bicarakan lagi sama papa saya, soalnya saya tidak bisa mengambil keputusan seperti kemarin, awalnya saya kira tidak akan panjang sampai sekarang, makanya saya diam,"jelas Lucas. sebenarnya ia sudah muak berurusan sama perusahaan itu.
"Baiklah, semoga pak Bambang bersedia menjalin kembali kerja sama dengan saya,"
"Iya pak, kalau gitu kita permisi dulu,"pamit Hendrik. keduanya berlalu dari hadapan pak Hendra.
"Puas kamu Alinda, sekarang bisnis yang ayah bangun dengan susah payah hampir bangkrut, laki-laki lain masih banyak Alinda, jangan jadi wanita bodoh yang menghalalkan segala cara!"bentak pak Hendra.
Hendrik saling lorik sama Lucas. keduanya bisa mendengar bentakan pak Bambang saking kencangnya, mungkin dia lupa kalau masih ditempat umum.
"Ngeri bos, lagian anaknya sok-sokan mau ngurus perusahaan, belum tau dia ngurus perusahaan itu bukan cuma butuh dandan, otak sama tenaga dipakai juga,"celetuk Hendrik.
"Apa hubungannya bego, dandan sama perusahaan?"Lucas meninju bahu Hendrik.
"Mata elu buka dong, gak lihat tadi mukanya menor banget kaya mau dangdutan,"sahut Hendrik.
"Hahahaha...gue gak merhatiin, lagian buat apa, sebentar lagi anak gue lahir, gue gak ada waktu buat natap cewek lain, selain istri gue!"
Keduanya sampai di kantor dengan selamat, sepenjang perjalan mereka ngomongin masalah tadi.
Lucas kembali tenggelam dengan kerjaannya, sampai-sampai Hendrik pamit pun tak terlalu ia respon. pikirannya masih fokus pada berkas-berkas di depannya.
Pukul sembilan malam Lucas baru saja menyelesaikan pekerjaannya. ia melihat ke arah kaca langit sudah gelap, cuma lampu-lampu yang menjadi alat penerangan malam yang gelap gulita. ia meregangkan otot-otot yang terasa kaku.
"Mampus, ternyata sudah malam, pasti Rania khawatir,"Lucas langsung menyambar jas serta ponselnya dari atas meja.
Lucas mengemudikan,mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. ia takut kalau istrinya itu sudah menunggu dirinya untuk pulang, apalagi seharian Lucas tak memegang ponsel karema sinuk.
__ADS_1