
Setelah selesai sarapan, pak Bambang mengantar bu Renata pulang, sedangkan Lucas seperti biasa mengantar istrinya ke kampus sekalian dirinya pergi ke kantor.
Sepanjang jalan, Lucas sesekali melirik sama Rania yang duduk di sampingnya. bahkan tangan Rania dari tadi terus berada dalam genggaman tangan suaminya. Lucas menyetir hanya dengan menggunakan satu tangan.
"Sayang, kenapa sih, dari tadi kaya aneh banget,"tanya Rania. ia merasa ada yang beda dari suaminya.
"Aneh gimana sih sayang?"Lucas mencium tangan Rania dengan lembut.
"Kenapa melirik aku terus dari tadi?"Rania memperhatikan Lucas dari samping.
"Gak apa-apa, kamu kan istri aku, wajar lah aku liatin, daripada lihatin cewek lain kan,"ucap Lucas. dari bibirnya tercipta senyum manis membuat Rania meleleh.
"Ikh, dasar kamu tuh. aku serius sayang,"Rania memalingkan mukanya ke luar jendela, mengamati lalu lintas yang sangat padat.
"Oh iya, sayang, nanti aku pulang ke rumah mama, kamu jemput di sana aja ya,"ucap Rania.
"Ngapain pulang ke sana sayang? mama nyuruh kamu ke sana?"tanya Lucas.
"Enggak, aku, itu ada barang yang ketinggalan di rumah mama,"jawab Rania.
"Barang apaan?"Lucas melirik Rania sekilas, lalu kembali fokus ke jalan di depannya.
"Boneka, aku gak nyenyak tidurnya kalau gak peluk dia,"jawab Rania.
"Boneka jelek! mending dibuang aja yang, nanti aku beliin yang bagus,"ucap Lucas ketus.
"Iya, emang itu boneka jelek, tapi sampai kapan pun aku gak akan aku buang sayang,"tiba-tiba suara Rania berubah sendu.
"Kenapa? pasti dari mantan kamu ya?"Lucas menatap tajam Rania.
"Boneka itu sangat berarti buat aku, karena, ibu harus kerja sampai beliau sakit gara-gara mau ngumpulin uang buat beliin aku boneka pas ulang tahun,"Rania mengusap matanya yang tiba-tiba basah.
Mendengar ucapan Rania. Lucas merasa iba, padahal tadi dirinya sudah berpikir yang tidak-tidak tentang boneka Rania.
"Aku gak seberuntung anak lain, kehidupan aku sama ibu sangat kekurangan. ibu harus banting tulang mencari nafkah buat aku,"
Lucas menggenggam tangan Rania seolah memberi kekuatan, ia sedikitpun tidak menyela.
"Aku masih ingat, waktu itu, ibu sampai jatuh karena takut kesiangan kerja di ladangnya pak Santo. ibu lari dari rumah pas sudah dekat malah jatuh, padahal ibu sudah punya hutang sama pak Santo,"papar Rania.
__ADS_1
"Uangnya ibu belikan boneka?"tanya Lucas.
"Iya, padahal aku gak minta, tapi ibu tetep beliin, mungkin ibu melihat anak tetangga. aku ngerti gimana kondisi ibu yang harus kerja tiap hari demi sesuap nasi,"Rania mengusap air mata yang meleleh di pipinya.
"Kamu anak yang kuat sayang, aku salut sama kamu juga sama ibu,"Lucas mengusap pipi istrinya dengan lembut.
Aku janji akan membahagiakan kamu sayang, tak akan ku biarkan siapapun menyakiti kamu, sekalipun itu omah.
"Sayang, nanti pulangnya ke kantor aja ya, jadi kita sama-sama pulangnya,"ucap Lucas.
"Tapi, aku kan gak tahu alamat kantornya sayang, gimana?"Rania menatap Lucas, keningnya mengerut.
"Nanti naik taksi aja ke sana, atau aku suruh supir kantor buat jemput kamu,"jawab Lucas.
"Oh oke sayang, tapi, emang gak akan kenapa-napa kalau aku ke sana?"tanya Rania.
"Emang bakal kenapa sayang?"kening Lucas mengerut.
"Ya siapa tahu gak boleh, aku kan gak kerja di sana sayang,"jelas Rania.
"Pokoknya, nanti aku suruh supir kantor jemput ya, mana ponsel kamu, perasaan aku belum punya deh no kamu,"Lucas mengulurkan tangannya pada Rania.
"Nih sayang,"Rania meletakan ponselnya di atas telapak tangan Lucas.
"Hah, ponsel jaman apa ini sayang,"Lucas terbahak melihat penampilan ponsel Rania yang kelewat jadul itu.
"Ya zaman pas aku beli lah sayang, jangan ketawa dong,"Rania merengut melihat Lucas menertawakan ponselnya.
"Sudah harus di buang sayang, masa ponsel kelewat jadul masih disimpan,"Lucas menghentikan tawanya karena melihat Rania cemebrut.
"Enak aja, aku sampai gak jajan tiga bulan loh sampai bisa beli ponsel itu,"Rania merebut ponselnya dari tangan Lucas.
"Nanti aku beliin. kenapa gak minta sih, terus kenapa mama gak beliin?"tanya Lucas.
"Aku malu sayang, dibeliin laptop aja udah seneng banget aku, mama juga tanya mau ponsel baru apa enggak, tapi aku bilang belum butuh,"papar Rania.
"Punya mertua kaya kenapa gak di manfaatin sayang,"
Mobil Lucas sudah sampai di depan gerbang kampus Rania. Lucas langsung menghentikan mobilnya.
__ADS_1
"Aku masuk dulu ya, kamu hati-hati nyetirnya,"Rania meraih tangan Lucas terus mencium punggung tangannya.
"Iya, belajar yang bener, jangan deket-deket sama laki-laki lain,"ucap Lucas garang. setelah itu satu ciuman mendarat di pipi kirinya.
"Pinter deh kalau urusan itu, belajar dari mana sih?"Lucas langsung tersenyum begitu mendapatkan kecupan.
"Dari kamulah, udah ah nanti aku ketinggalan kelas sayang,"Rani membuka pintu mobil Lucas, lalau keluar.
Lucas memperhatikan istrinya yang sedang berjalan. tapi tiba-tiba orang yang kemarin ia lihat sedang bersama Rania mendekati istrinya, terus berjalan berdampingan masuk ke dalam kampus.
Kurang ajar, siapa sih laki-laki itu?
Lucas memukul setir mobil dengan keras. setelah memastikan Rania masuk, ia melajukan mobilnya menuju perusahaan meskipun dengan hati dongkol.
Suasana hatinya tiba-tiba saja buruk, begitu dirinya melihat laki-laki yang mendekati istrinya itu. bahkan sampai di perusahaan pun ia masih merasa jengkel.
Lucas mengabaikan karyawan yang menyapa dengan ramah, tak ada sedikitpun senyum yang keluar dari bibirnya, yang ada hanya raut wajah yang menakutkan.
Sampai di ruangannya, Lucas langsung membuka laptopnya memulai pekerjaan yang sempat tertunda.
Lucas bahkan mengabaikan sekertaris yang membawa berkas-berkas berharga ke hadapannya. hatinya masih kesel karena ada yang mendekati sang istri, meskipun Rania tidak menganggap laki-laki itu, tapi matanya bisa melihat kalau laki-laki tadi ada rasa ketertarikan sama istrinya.
"Bos, ada meeting di restoran pelangi,"tiba-tiba Hendrik duduk dihadapannya.
"Sama pak Bagus, dari perusahaan air mineral itu?"Lucas menghentikan tangannya yang sedang mengetik di atas keyboard.
"Iya, kata sekertaris loe, tadi gak bisa diganggu, sampai gue mau masuk dilarang,"
"CK, jam berapa meeting nya?"Lucas mengabaikan ucapan Hendrik yang menurutnya tidak penting.
"Sekarang, makanya gue ke sini,"jawab Hendrik. ia sudah tahu sifat Lucas, memilih tak ingin tahu lebih baik daripada kena marah.
"Oh iya, suruh supir kantor jemput istri gue, terus bawa ke sini,"ucap Lucas. setelah memakai jasnya ia keluar dari ruangannya.
"Maksud loe Rania?"Hendrik mengejar Lucas yang sudah lebih dulu keluar.
"Iya, istri gue cuma satu sampai kapanpun,"jawab Lucas.
"Oh oke,"Hendrik mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi supir kantor.
__ADS_1