Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 122


__ADS_3

Begitu sampai di pusat perbelanjaan, mereka bertiga langsung keluar dari mobil, bu Renata menyuruh sopirnya pulang dulu. ia yakin mereka akan pergi lama, namanya wanita ya kan.


"Non, bibi langsung belanja bahan dapur aja ya, soalnya bibi ingin cepat pulang aja, gak betah kalau harus masuk tempat kaya gini non,"bisik bibi sama Rania.


"Kenapa bi? aku juga awalnya gitu dulu, tapi karena sering diajak sama mama jadi terbiasa bi,"ucap Rania.


"Engga ah, kalau non Rani kan wajar masih muda, coba bibi, udah gak pantas non, mending anterin bibi ke tempat bahan-bahan dapur, soalnya biasanya bibi belanja di pasar tradisional non,"pinta bibi.


"Ma, kita antar bibi belanja bahan dapur dulu, belanja buat kita nanti aja, gimana ma?"Rania mendekati mama mertuanya.


"Kenapa? maksud mama, belanja buat dapurnya nanti aja terakhir,"sahut bu Renata.


"Bibi gak mau, katanya gak betah, mau cepat pulang ma,"


"Oh, ya udah kalau gitu, kita belanja bahan dapur dulu,"kata bu Renata.


"Ya ampun, di dini enak banget non, segala tersedia ya. tempatnya gak becek kaya di pasar,"bibi Terlihat antusias ketika sampai di tempat bahan sembako dan yang lainnya tentang perdapuran.


"Iyalah bi, makanya kalau aku ajak belanja ke sini, bibi harus mau dong,"Rania terkekeh melihat tingkah bibi, ia jadi ingat masa awal-awal datang ke tempat itu sama majikan yang sekarang jadi mertuanya itu.


"Engga ah non, itu lihat harganya pada mahal-mahal, sayang banget uangnya, mending ditabung buat nanti lahiran dede bayi,"bibi mengusap perut Rania, matanya melotot ketika dapat tendangan dari dalam sana.


"Wah, dedeknya nendang non, berarti dia senang kalau uangnya ditabung buat nanti lahiran ade ya,"bibi kembali mengusap perut Rania.


"Kenapa malah ngobrol, katanya mau belanja ini, mama bingung apa yang mau bibi beli,"ucap bu Renata. ia melihat dua orang yang bermaksud belanja malah asyik tertawa.


"Aduh, malah lupa nyonya, bibi senang banget tadi, dede di perut non Rani nendang nyonya,"bibi antusias.

__ADS_1


"Wah, yang bener bi? coba mama mau nyoba Ran, dia kenal gak sama maminya,"Bu Renata ikut menempelkan tangannya di atas perut Rania.


"Maminya? gak mau dipanggil Oma atau nenek tah ma?"tanya Rania.


"Enggak Ran, mama masih mudah loh, masa sudah dipanggil Oma atau nenek,"decak bu Renata.


"Hehehe... iya deh, terserah mama aja, asal mama bahagia,"Rania terkekeh melihat mertuanya.


"Ya udah, mending kita belanja sekarang yu, mama udah gak sabar buat beli baju bayi yang lucu-lucu,"ajak bu Renata.


Akhirnya belanja untuk kebutuhan dapur sudah selesai, bu Renata mengajak bibi serta Rania untuk makan dulu, meskipun awalnya bibi menolak dengan alasan bisa makan di rumah Lucas, tapi bu Renata tetap memaksa.


Selesai makan, Rania mengantar bibi untuk keluar supermarket untuk mencari taksi yang akan mengantar bibi pulang. sedangkan Rania akan berbelanja dulu sama bu Renata yang sedang menunggu di dalam.


"Pak, saya titip ibu saya ya,"ucap Rania sama sopir taksi.


"Udah, pokoknya bibi hati, uangnya masih ada gak yang tadi, buat bayar taksi?"tanya Rania.


"Masih banyak non, tadi belanjanya dibayarin nyonya kan, jadi uang yang di kasih den Lucas masih utuh,"sahut bibi.


"Baguslah, ya udah bibi masuk, tuh barangnya udah masuk semua kayanya,"Rania menunjuk tempa barang sudah kosong, karena sopir taksinya yang memasukan.


"Iya, non hati-hati, jangan sampai kecapean,"ucap bibi saat mobil mulai melaju.


Rania kembali ke dalam menemui mama mertuanya yang sudah menunggu, keduanya langsung menuju store pakaian bayi sesuai niat awal mereka.


Melihat semua pernak pernik bayi yang lucu-lucu, bu Renata terlihat kalap, ia memasukan semua pakaian juga aksesoris yang menurutnya cantik.

__ADS_1


"Mama, buat apa beli baju-baju perempuan semua?"tanya Rania. ia melihat keranjang itu penuh dengan gaun-gaun bayi yang lucu.


"Ya buat cucu mama nanti, menurut mama ini semua bagus loh, Ran,"tunjuk bu Renata.


"Ma, kitakan belum tau jenis kelamin cucu mama, jadi menurut aku mending pilih yang netral aja dulu, nanti kalau udah jelas baru beli,"jelas Rania.


"Tuh, makanya kata mama juga pas usg itu mau tau jenis kelaminnya, tapi itu suami kamu ngotot gak mau, jadi susah kan,"Bu Renata mengomel sambil menyimpan kembali baju-baju yang sudah ia ambil tadi.


"Kan biar surprise ma,"ucap Rania.


"Iya, tapi mama jadi kesal, gak bisa bebas buat beli semua yang mama mau,"decak bu Renata.


"Nanti, kalau udah lahir mama bebas belanja, jadi aku gak keluar uang ma,"canda Rania.


"Enak aja, mama cuma ngasih, yang banyak tetep harus kamu sama Lucas,"


"Hehe... kirain mau semua sama mama,"Rania tertawa melihat bu Renata.


"Mama berdoa, semoga cucu mama itu perempuan, biar nanti bisa mama ajak shopping, atau jalan-jalan,"ucap bu Renata.


"Terus kalau misalkan nanti laki-laki, apa mama bakal tetep nerima atau sayang sama dia ma?"Rania takut ketika mendengar ucapan mama mertuanya itu, bagaimana kalau anak yang ia kandung itu laki-laki, apa tetep bakal disayang sama kakek neneknya.


"Ya tidak apa-apa, sebenarnya mau laki-laki atau perempuan, buat mama tak masalah, tapi mama gak mau kalah dari papa Ran,"ucap Bu Renata. ia mengganti gaun bayi tadi dengan warna-warna netral, bisa dipakai laki-laki atau perempuan.


"Kalah gimana? emangnya mama sama papa lagi lomba apa?"tanya Rania. keningnya mengerut, ia tak mengerti apa kalah yang dimaksud mama mertuanya itu, terus hubungan sama jenis kelamin anaknya.


"Itu sebenarnya....

__ADS_1


__ADS_2