
Lucas keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan badan, ia langsung mengambil baju di dalam lemari yang memang sengaja ia tinggalkan di rumah mamanya buat kalau sesekali menginap di rumah itu.
Setelah selesai ia bergegas keluar dari kamar menuju lantai bawah, mamanya sudah duduk di atas sofa menunggu dirinya, terlihat di atas meja pesanan istrinya ada dua wadah.
"Ma, kenapa ada dua?"tanya Lucas.
"Sengaja, biar mantu mama kenyang makannya, jadi mama beli dua,"sahut bu Renata.
"Ya sudah, aku langsung pulang ya ma, kasian pasti udah nungguin,"pamit Lucas.
"Buru-buru banget, gak mau makan dulu di sini?"
"Nggak, nanti aja di rumah, biar sama istri aku ma,"
"Baiklah, eh itu nanti kalau cucu mama sudah lahir, kamu jangan cari baby sitter ya,"ucap bu Renata tiba-tiba.
"Kenapa? kasian istri aku ngurus baby sendirian ma, terus kalau nanti dia kuliah lagi gimana, masa bawa baby?"Lucas melirik mamanya yang berdiri di sampingnya.
"Kata mbak Yanti, Nadia bisa jadi baby sitter, dia sudah biasa ngurus adiknya dulu dikampung Luc, daripada nyari orang baru yang belum kita kenal,"jelas bu Renata.
"Nadia siapa?"tanya Lucas. ia bukan tipe orang yang selalu mengingat orang yang menurutnya tidak penting.
"Masa kamu lupa, perasaan mama pernah ngenalin dia sama kamu juga Rania, dia teman mbak dikampung,"bu Renata berdecak mendengar pertanyaan Lucas.
"Gak tau, lupa mungkin ma, aku gak pernah mengingat orang yang gak penting, kecuali kalau udah lama kenal kaya mbak Yanti,"
"CK, jadi gimana menurut kamu?"
"Orangnya yang tadi?"
"Iya, tadi bertubrukan sama kamu di atas, dia habis menyalakan lampu di atas,"
"Oh dia, nggak ah ma, udah ya, aku pulang dulu mama,"pamit Lucas, ia langsung memeluk mamanya sebelum masuk ke dalam mobil.
"Dasar anak itu, selalu kaya gitu,"gerutu bu Renata.
"Mama tuh, ada-ada saja, lagian kayanya dia punya niat lain,"batin Lucas.
Jalanan lumayan lenggang saat mobilnya mulai melaju di jalan raya, itu membuat Lucas melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, ia sudah tak sabar sampai rumah, Rania yang semakin manja membuatnya bahagia. 30 menit kemudian, mobilnya sudah terparkir rapih di garasi rumahnya, ia langsung turun sambil menenteng kantung berisi ayam bakar, sementara tas kerjanya ia biarkan di dalam mobil.
Di dalam rumah, Rania mendengar suara mobil suaminya, ia buru-buru sembunyi di belakang pintu matanya sedikit mengintip dari celah gorden yang sudah tertutup. niatnya mau mengejutkan suaminya, tapi ia telat, Lucas membuka pintu sedikit lebar sehingga jidat Rania kena karena sudah maju.
__ADS_1
"Aww, sayang sakit tau!"sentak Rania. Lucas kaget begitu mendengar suara istrinya di belakang pintu.
"Maaf maaf, aku gak sengaja sayang,"Lucas langsung menutup pintu lalu menarik tubuh istrinya yang sedang mengusap keningnya yang memerah kena pintu.
"Sakit banget?"tanya Lucas. ia mencium kening yang memerah lalu meniupnya berkali-kali.
Bibi tersenyum melihat kelakuan majikannya, tadi Rania melarang dirinya untuk bersuara karena berniat mengagetkan suaminya, siapa yang tahu malah jadi senjata makan tuan, Rania yang kaget sekaligus sakit karena terkena pintu.
"Kenapa ada di belakang pintu?"tanya Lucas.
Rania merengut tidak menjawab, keningnya masih terasa sakit.
"Bibi, malah ngetawain aku!"ucap Rania.
"Maaf, non, habisnya non Rani lucu,"bibi berusaha menahan tawa .
"Kenapa bi?"tanya Lucas. ia tak mengerti sama dua orang di depannya itu.
"Hehe.... tadi non Rania niatnya mau menjahili aden, tapi malah dia yang kena,"Bibi kembali tertawa ketika mengingat momen barusan.
"Oh, jadi niatnya gitu sayang, makanya jangan jail sama suami, jadi kamu yang kena kan,"
"Udah dong, kenapa malah ikut ketawa sama bibi?"Rania mendongak menatap suaminya.
"Habisnya, kamu lucu banget, ngapain ngagetin segala, jadi kamu yang kena sayang,"Lucas kembali mencium kening istrinya.
Rania tidak menjawab, ia cuma mengeratkan pelukannya pada tubuh Lucas.
"bi, tolong panaskan dulu ayam bakarnya, yang satu buat bibi sama pak satpam ya,"Lucas menunjuk ayam bakar yang tadi ia bawa sama bibi.
"Wah, makasih banyak den, kalau gitu bibi ke belakang dulu ya,"ucap bibi. ia langsung berlalu sambil membawa dua kantung ayam bakar.
"Kamu, sudah mandi yang?"tanya Rania.
"Sudah, sebelum pulang aku mandi dulu tadi,"sahut Lucas.
"Pantesan, bajunya udah beda dari yang tadi pagi,"
"Iya, soalnya gerah banget tadi,"
"Eh, terus kamu udah nanya sama mama soal selingkuhan papa?"tanya Rania.
__ADS_1
Lucas menelan saliva, mendengar pertanyaan istrinya, bukannya ia berniat akan kembali sama mantannya itu, tapi ia takut kalau masalah itu akan menjadi pikiran Rania, tapi kalau tidak bicara juga bukan solusi yang baik, ia takut akan menjadi masalah dikemudian hari karena tidak berkata jujur.
"Sayang, kenapa malah melamun?"Rania menggoyangkan tangan Lucas.
"Eh, nggak sayang, aku gak melamun kok,"Lucas mengerjapkan matanya berkali-kali.
Ia harus mencari kata-kata yang tepat buat menjelaskan masalah itu, jangan sampai menjadi pikiran atau ketakutan buat istrinya, apalagi sedang mengandung dimana hal itu akan berakibat sama janin dikandungannya.
"Jadi gima-
"Aden, non Rani, ayam bakarnya sudah bibi panaskan,"bibi langsung memotong ucapan Rania.
"Kita bahas nanti sayang, sekarang kita makan dulu yu, kamu belum makan dari siang,"ajak Lucas. ia membantu istrinya untuk berdiri.
Lucas merangkul pundak Rania sambil berjalan menuju ruang makan, begitu sampai mata Rania langsung berbinar melihat ayam bakar kesukaannya ditambah sambal sama lalapan yang menggiurkan.
Rania langsung duduk di atas kursi, setelah itu ia mengambil piring terus mengisinya dengan nasi serta ayam bakar sama sambal.
"Sayang, pelan-pelan, itu masih banyak loh,"Lucas tersenyum menatap istrinya yang langsung lahap makan ayam bakar, sampai-sampai ia lupa untuk mengisi piring untuk suami yang biasa ia lakukan.
"Iya, habisnya enak banget sayang, kamu tau gak, dulu sebelum kita nikah, aku sering beli ayam bakar di sana sama Uwa, tapi cuma sepotong,"ucapnya.
"Kenapa, kan bisa beli satu ekor sayang?"Lucas menghentikan tangan yang hendak mengambil potongan ayam dari atas piring.
"Eum, karena sayang uangnya, jadi kalau aku dapat uang dari mama, pasti aku tabung buat dikirimkan sama ibu, makanya kalau gak dibeliin sama Uwa, aku gak pernah jajan,"jelas Rania.
Air mata Lucas menggenang di pelupuk matanya, ia tak tahu kalau setelah Rania berada di rumah orang tuanya masih harus ngirit, padahal dirinya tak pernah kekurangan apa-pun.
"Maafkan aku sayang, aku gak tau kalau kamu kekurangan saat di rumah mama,"Lucas memeluk istrinya.
"Bukan salah kamu, waktu itu aku masih jadi pembantu yang, wajar saja kan kalau aku ngirit, tapi sekarang aku sudah jadi Cinderella,"Rania tersenyum manis, terlihat kebahagiaan dimatanya.
"Aku, akan membahagiakan kamu sampai kapanpun sayang, aku janji!"ucap Lucas.
"Iya, selama ini kan kamu udah bikin aku bahagia sayang, sekarang mending makan, mau aku suapin gak?"
Lucas mengangguk sebagai jawaban, jarang-jarang ia makan disuapi sama istrinya itu.
Segini dulu ya kaka-kaka, baca juga karya aku yang lain dong, sedih bet gak ada yang baca, itu juga uwuww banget kok, biar aku semangat, terima kasih semuanya
__ADS_1