
Rania membuka matanya ketika mendengar alarm yang ia pasang di ponselnya. Rania membuka selimut yang menutup tubuhnya, ia perlahan bangun lalu duduk sebentar untuk mengumpulkan nyawa yang masih belum sepenuhnya terkumpul.
Rania bergegas masuk ke dalam kamar mandi, tidak berapa lama Rania sudah ke luar kamar dengan wajah yang terlihat segar.
Mbak Yanti sudah terlihat di ruangan belakang, tepatnya tempat mencuci juga menjemur, Rania menghampiri Mbak Yanti, meskipun uwa nya bilang, kalau itu bukan tugas nya, tapi Rania tetap membantu, karena ia merasa tugas nya masih belum saatnya ia lakukan, apalagi kalau bukan membangunkan tuan arogan.
"Mbak, aku yang jemur ya."ucap Rania
"Tidak usah Ran, ini kan tugas mbak,"Mbak Yanti menoleh pada Rania.
"Sudah tidak apa-apa, tugas aku kan masih nanti mbak, jam segini pasti tuan sadisnya belum bangun. "Rania mengambil pakaian yang sudah mbak Yanti cuci
"Tadi kamu bilang tuan apa Ran? "mbak Yanti menatap Rania yang sudah mulai menjemur pakaian
"Euh, tadi aku bilang tua Lucas nya belum bangun,mbak."jawab Rania
"dasar mulut, pake keceplosan segala. "batin Rania
"Oh, mba kira apa tadi, rasanya gimana Ran, bisa membangunkan tuan Lucas, pasti senang nya bisa melihat orang tampan bangun tidur? "tanya mbak Yanti
"Rasa, ya biasa aja, emang mbak mau banget ya lihat tuan Lucas kalau baru bangun tidur? "Rania balik nanya
"Mau banget Ran, pasti cuma orang bodoh yang menolak pesona tuan Lucas, kamu beruntung bisa dekat tuan Lucas, meskipun cuma jadi pembantunya. "jawab mba Yanti
"ikh, mereka belum tahu saja,gimana kelakuan tuan sadis itu, aku mending nyuci, beres-beres,daripada bangunin singa galak."
"Rania, kenapa malah melamun, pasti kamu membayangkan tua Lucas bangun tidur. "ucapan mbak Yanti membuyarkan lamunan Rania
__ADS_1
"Hah, engga lah mbak, kalau tukeran tugas mau ga mbak? "tanya Rania
"Maksudnya gimana Ran, mbak ga ngerti? "tanya mbak Yanti
"Ya, maksud aku, mbak yang bangunin tuan Lucas, aku yang beres-beres sama yang lain nya,gimana?"tanya Rania
Rania berharap banget mbak Yanti bersedia, untuk berganti tugas nya, ia bisa melihat kalau mbak Yanti sangat menyukai si tuan sadis.
"Engga Ran, itu kan udah tugas bibi, terus turun sama kamu, tuan Lucas pasti bakal nolak, waktu dulu juga pernah ada yang gantiin bibi, pas bibi pulang kampung, eh tuan Lucas marah, ia bilang tidak sopan, ia juga bilang kalau ia tidak akan bisa menerima orang lain yang mengurusnya, selain bibi. "Papar mbak Yanti
Ucapan mbak Yanti membuat senyum Rania pudar, padahal ia sudah berharap mbak Yanti bersedia bertukar tugas dengan dirinya.
"Ya udah mbak, saya bantu wa Tuti dulu ya, nih keranjang cucian nya sudah kosong, "Rania memberikan keranjang bekas wadah cucian yang telah selesai ia jemur.
Rania masuk ke dapur, ia melihat bik Tuti lagi sibuk dengan peralatan masak, Rania mengendap-ngendap,berniat mengagetkan uwa kesayangan nya itu.
"Yah, ko uwa tahu, pasti punya indra ke sembilan ya? "Rania kecewa karena niat jahilnya tidak kesampaian
"Uwa lihat nya pakai Indra anak nya mang jojo, bukan inda ke sembilan. "ucap bik Tuti
"Mana bisa, paling Inda anak nya mang jojo sudah di sawah kalau jam segini,"Rania berdiri di samping bik Tuti.Rania memperhatikan bik Tuti yang sedang membuat omelette sandwich untuk sarapan majikan nya.
"Nanti,kalau uwa sudah ke Bandung, kamu harus bisa bikin yang kaya gini, ini kesukaan den Lucas,kalau bu Renata sama pak Bambang, ia lebih suka sarapan sereal, untuk sarapan." bik Tuti sekilas menoleh pada Rania.
"Wa, kalau bikin kaya gitu mah gampang, cuma di tumpang-tumpang kan, orang kaya mah aneh, kalau aku sarapan tuh lebih enak nasi satu piring, gorengan satu piring, baru kenyang, kalau makan kaya gini mana kenyang wa. "ucap Rania
"Kalau itu rakus, mereka bertiga sarapan, kalau kamu makan."papar bik Tuti
__ADS_1
"Apa bedanya, sama-sama masuk perut, oh iya wa, uwa yang bangunin tuan Lucas ya, aku takut salah lagi. "Rania memegang ujung baju bik Tuti yang sudah selesai membuat sarapan untuk majikan nya.
"Engga, kamu harus terbiasa, den Lucas baik ko, dulu kamu sering minta gendong sama dia. "ucap bik tuti
"Huh,dalam mimpi pun, aku tidak akan mau minta gendong, apalagi nyata, uwa jangan ngada-ngada, aku di Bandung sedangkan si tuan sadis itu kan di Jakarta. "Rania bergidik mendengar bik Tuti bilang ia sering minta gendong sama Lucas
"Dulu kamu pernah ke sini, waktu masih kecil, emang sudah lama, pasti kamu ga inget, kayanya bu Rena sama pak Bambang juga lupa kalau kamu pernah uwa bawa. "terang bik Tuti
"Uwa, pasti bohong kan, kalaupun benar, aku tidak peduli wa, pokonya dia itu galak,suka ngancam."ucap Rania
"Sudah-sudah,sana cepat naik, nanti telat, kamu yang repot."bik Tuti mendorong bahu Rania untuk keluar dari dapur
"Yakin wa, ga uwa aja yang bangunin, ga sayang nih ponakan nya,berduaan di kamar sama laki-laki tua."Rania masih mencoba merayu bik Tuti.
"Engga, uwa senang kamu berduaan sama laki-laki tua, apalagi kalau sudah nikah, bakal cepat nyumbang cucu. "bik Tuti menggerakkan tangannya mengusir Rania.
Dasar uwa jahat,bisa-bisanya senang ponakan nya sama laki-laki tua, galak lagi.
Rania, akhirnya menaiki anak tangga menuju kamar Lucas, mulutnya komat kamit seperti bah dukun sedang membaca mantra,dengan segelas air putih lalu pasien di sembur. (deng malah nyanyi)
Rani perlahan membuka pintu, matanya fokus ke dalam kamar.
tiba-tiba.....
like, komen, vote nya di tunggu ya, supaya saya semangat nulisnya๐๐
๐บ๐บ๐บ
__ADS_1