
Part ini mengandung sedikit adegan ... ππ buat anak di bawah umur harap minggat ya.
Maaf kalau typo, nanti aku revisi.
"Sayang,"Lucas mengangkat wajahnya melihat sang istri, yang wajahnya sudah memerah.
"Eum, aku takut sayang,"ucap Rania, lalu ia memalingkan wajahnya.karena malu sama suaminya.
"Aku akan pelan-pelan,"ujar Lucas.ia mulai mencium kening istrinya.
Lucas kembali mencium bibir istrinya, tangannya berusaha membuka kancing baju Rania.
Mendengar ucapan suaminya, Rania membuang muka, bisa-bisanya Lucas menggodanya, tak melihat wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus, entah karena malu atau yang lain.
Kini baju Rania sudah berhasil Lucas buka, lalu ia melemparnya ke sembarang arah, mata Lucas tak berkedip melihat pemandangan di depannya. kulit mulus serta aset istrinya yang masih tertutupi kain berwarna pink, sungguh membuat tenggorokannya seketika terasa kering. ia berlama-lama menatap pemandangan indah di depannya.
"Sangat indah!"ucapnya.
Rania langsung menyilangkan tangan di atas d**anya, ketika mendengar ucapan suaminya.
"Jangan dilihatin, malu,"Rania menatap Lucas yang juga sedang memperhatikannya.
Tangan Lucas menarik tangan istrinya yang masih menutupi sesuatu yang sangat indah menurutnya, ia menyatukan kedua tangan Rania, lalu menggenggamnya di atas kepala sang istri.
Keduanya kembali berciuman, entah sejak kapan keduanya sudah tak mengenakan sehelai benangpun, suara keduanya memecah keheningan malam yang semakin larut.
Lucas semakin bermain dengan mulutnya di atas d**a sang istri, meskipun baru pertama kali melakukannya tapi entah dorongan dari mana, Lucas selalu bisa membuat Rania serasa melayang dengan segala sentuhannya.
Lucas terus mencumbu Rania, sementara tangannya dengan gencar bermain di bawah sana. memberikan kenikmatan yang membuat Rania terasa pening.
Sampai akhirnya, cengkraman tangannya pada rambut Lucas sangat kencang guna menyalurkan sesuatu, yang baru pertama kali ia rasakan, rasa yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
Nafasnya terengah-engah setelah mendapatkan pelepasannya. tubuhnya terasa sangat ringan tak bertenaga.
"Enak ya?"Lucas mengangkat mengangkat wajahnya. ia tersenyum puas melihat wajah istrinya.
Ia bersiap-siap untuk melakukan penyatuan dengan orang yang paling dicintainya.
"Eum, sayang, itu apa bakal muat?"Rania membuang pandangannya ke samping.
"Muat sayang,"Lucas mulai melakukan penyatuannya dengan sang istri.
Sampai akhirnya jeritan Rania menandakan sesuatu yang sangat berharga sudah berhasil suaminya dapatkan, air matanya mengalir menahan sakit yang teramat sangat pada inti tubuhnya.
__ADS_1
Kata maaf, terus Lucas bisikan di telinga istrinya, bukannya tidak kasian melihat istrinya kesakitan, tapi tak mungkin ia berhenti. dirinya juga merasa ngilu tapi kenikmatan lebih mendominasi.
Entah berapa kali kedua insan itu menyelami nikmatnya surga dunia, tangisan Rania berubah jadi suara yang terasa sangat indah didengar Lucas. keduanya mencapai puncak bersama. sampai akhirnya tubuh Lucas ambruk di atas tubuh istrinya.
"Terima kasih cintaku,"Lucas mencium kening istrinya sebelum menggulingkan tubuhnya kesamping Rania, lalu menarik tubuh istrinya untuk bersandar di atas dadanya yang masih mengkilat karena keringat.
Rania langsung tertidur karena kelelahan, begitu juga Lucas langsung menyusul sang istri menuju alam mimpi.
πΊπΊπΊ
Keesokan siangnya, Lucas yang pertama membuka mata, tangannya terasa kebas karena Rania tidur berbantal tangannya.
Senyumnya langsung terbit, begitu pandangannya tertuju pada wajah yang masih tertidur dengan nyenyak, wanita yang tadi malam telah menyerahkan mahkota berharga buat dirinya.
Bibirnya hendak mendaratkan sebuah ciuman di atas kepala sang pengisi hati dan pikirannya, tapi tak jadi ketika suara ribut-ribut di luar kamarnya mengusik indra pendengarannya.
Dengan hati-hati, ia memindahkan kepala istrinya ke atas bantal. setelah memastikan kalau istrinya tak terganggu, Lucas turun dari tempat tidur lalu memungut pakaian yang tadi malam ia campakkan seenaknya.
Lucas langsung keluar dari kamarnya setelah mengenakan pakaian dengan lengkap.
"Ma, ngapain sih pagi-pagi udah rame di rumah orang?"Lucas melihat mama sama beberapa orang yang sedang mengatur beberapa perabot rumah.
"Pagi palamu copot, ini sudah siang, mama kira kamu ke kantor,"ujar bu Renata. ia tak menyangka kalau anaknya ada di apartemennya.
"Emang sekarang jam berapa?"tanya Lucas.
"Masa jam 10 ma, mama ngadi-ngadi nih pasti,"Lucas langsung melihat jam yang menempel di tembok.
"Ngadi-ngadi apaan sih,kamu kenapa gak jawab pertanyaan mama?"bu Renata sedikit kesal karena Lucas tak menjawabnya.
"Emang mama nanya apaan,"
"Istri kamu kuliah enggak?"
"Enggak, masih tidur ma di kamar,"jelas Lucas.
"Hah, kalian begadang? kamu tuh ya, baru sehari pindah udah ngajarin yang gak bener sama istri polos kamu,"
"Ma, ngajarin gak bener apaan sih?"Lucas mendelik sama mamanya.
"Ya itu, istri kamu bolos kuliah, padahal baru sehari pindah dari rumah mama,"kata bu Renata.
"CK, dia kecapean ma,"gumam Lucas.suaranya pelan, tapi bu Renata mendengarnya dengan jelas.
__ADS_1
"Hem, pindah rumah berasa bebas ya kamu, sampai buat mantu mama kecapean, tapi mama seneng kamu akan segera ngasih mama cucu kan?"bu Renata menaik turunkan alisnya.
"Rania masih kecil ma, kasian kalau hamil sekarang,"ucap Lucas.
"Iya juga sih, tidak apa-apa lah, mama akan sabar menunggu,"ujar bu Renata.
"Mama pulang dulu, bilangin sama mantu mama yang cantik, jangan lupa makan, kamu juga harus lebih perhatian sama dia, kalau sampai dia nangis gara-gara kamu, mama akan bawa dia pergi,"setelah mengatakan kata-kata itu, bu Renata mengambil tasnya lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Itu lehernya sampai merah, kena cakar ya,"bu Renata menyembulkan kepalanya dari luar apartemen.
"Mama!"teriak Lucas. tapi bu Renata langsung menutup pintu ketika Lucas akan menghampirinya.
Lucas mengusap lehernya, sekarang baru terasa sedikit perih, mungkin semalam karena terlalu nikmat jadi tidak terasa ketika istrinya mencakar lehernya.
Para pekerja yang mamanya suruh buat mengantar sekaligus menata perabotan yang bu Renata beli sudah pada pulang,
Lucas bergegas ke dapur, ia mengambil minum lalu membawanya ke dalam kamar, tak lupa dirinya memesan makanan buat mereka berdua.
Lucas membuka pintu kamar, senyumnya kembali tersungging ketika melihat istrinya masih terlelap tanpa terganggu orang-orang yang tadi.
Apa dia sangat lelah, sampai tak bangun padahal dari tadi rame banget.
"Sayang, bangun, udah siang hey,"Lucas mengusap kepala istrinya.
Taka ada reaksi dari sang istri, tidurnya terlihat sangat lelap. tapi Lucas tak habis akal, kepalanya masuk kedalam selimut, lalu dengan rakus ia meraup sesuatu yang sangat menggiurkan.
Cara itu terbukti sangat ampuh buat membangunkan Rania, terdengar lenguhan dari mulut kecilnya. matanya mulai terbuka menyesuaikan cahaya.
"Sayang, ngapain sih, geli tahu!"Rania menatap suaminya yang masih bermain di atas d**anya.
"Habisnya, susah banget bangunin kamu,"Lucas mengangkat wajahnya lalu duduk di samping Rania.
"Udah pagi ya, aku ada kelas sayang, jam 09,"jelas Rania.
"Ini udah siang yang, bukan pagi,"ucap Lucas dengan santai.
"Hah, kenapa gak bangunin aku,"reflek Rania bangun terus duduk, ia merasa tak nyaman di bawah sana, terasa ada yang mengganjal juga sedikit perih, mungkin efek semalam pikirnya.
"Kenapa, masih sakit?"Lucas kaget melihat istrinya meringis.
"Sedikit tidak nyaman, tapi gak papa ko sayang,"Rania meyakinkan Lucas.
"Kalau gitu, lagi ya,"Lucas menyeringai langsung membopong istrinya ke dalam kamar mandi. mereka mengulangi kegiatan semalam.
__ADS_1
Udah ya, aku cuma bisa bikin kaya gitu, novel ini sudah di kontrak, jadi gak bisa nulis panas, harus di sana kalau mau yang hot.
Jangan lupa like, komen,votenya juga, terima kasih