
Firda menatap wajah Rania dengan sendu, rasanya ia tak sanggup kalau berpisah sama sahabat yang selama ini selalu mendengarkan keluh kesahnya itu. meskipun bisa saja ia bertemu Rania di luar kampus untuk sekedar melepas kangen, tapi rasanya akan berbeda karena tak bisa sering-sering seperti waktu masih di kampus.
"Kamu, serius Ran? udah gak berubah pikiran kah?"sudah beberapa kali Firda bertanya seperti itu pada Rania, ia berharap Rania berubah pikiran terus masih kuliah sama-sama.
"Firda cantik, kamu gak bosan tanya seperti itu dari tadi?"Rania melirik Firda yang sedari tadi cuma mengaduk makanan yang ada di hadapannya.
"Gak, sebelum kamu memutuskan untuk membatalkan cuti kamu,"kata Firda.
"Gak bisa, aku gak mungkin membatalkan semua itu Fir, papa sama oma yang minta soalnya,"Rania menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, ia terlihat santai padahal hatinya sedih karena harus berpisah sama teman sebaik Firda.
"Tapi, kamu masih mau bertemu aku kalau di luar, atau aku main ke rumah kamu Ran?"tanya Firda.
"Ya iyalah, udah jangan terlalu dipikirin Firda, mending makan,"
Akhirnya Firda menikmati makanannya, meskipun ia merasa sedih karena mungkin sekarang terakhir bisa makan berdua sama Rania di kantin kampus.
Akhirnya Lucas memutuskan tak masuk kantor dihari pertama Rania cuti kuliah. Ia tak mau kalau sampai Rania merasa kesepian.
Saat pagi menjelang kedua pasutri muda itu masih bergelung di bawah selimut tebal sambil berpelukan memberi kehangatan satu sama lain.
Mereka berdua terpaksa bangun ketika terdengar pintu kamarnya ada yang mengetuk beberapa kali.
"Sayang, kamu duluan aja ke kamar mandi, biar aku lihat siapa yang ngetuk pintu,"Lucas membelai rambut Rania, lalu ia berdiri menuju pintu kamar.
"Kenapa?"tanya Lucas dingin, mata wanita itu berbinar menatap badan Lucas yang bertelanjang dada.
"Ah...eum...itu....ibu menyuruh tuan sama mba Rania buat turun sarapan,"Nadia menjawab dengan gagap, mungkin karena terkesima sama Lucas.
"Hemmm...."Lucas cuma menjawab dengan gumaman sambil menutup pintu tanpa memperdulikan Nadia yang masih berdiri di depan pintu.
__ADS_1
Untung ganteng, kalau enggak. udah aku minta mbah Tri buat menyantet laki-laki sombong itu.
Nadia meninggalkan tempat itu dengan kaki yang ia hentak-hentakan ke atas lantai.
Sementara Lucas, ia langsung menyusul Rania yang masih di kamar mandi.niat hati mau mandi bareng tak jadi, ternyata Rania cuma menggosok gigi sama mencuci wajah aja.
Rania keluar terlebih dulu dari kamar mandi, ia mengganti bajunya tidur kesukaan suaminya itu dengan baju sehari-hari yang lebih tertutup.
Keduanya turun dari lantai dua menuju ruang makan, mereka sudah disambut mama, papa juga Oma tak ketinggalan Serly yang menatap pasutri itu dengan senyum di bibirnya.
"Tumben, harus dipanggil dulu,"tanya bu Renata.
"Kesiangan ma, lagian Rania udah gak ngampus lagi kan, jadi nyantai lah"papar Lucas.
Semuanya mangut-mangut mendengar ucapan Lucas, biasanya Rania yang bangun lebih dulu, apalagi sebelum dirinya hamil, Rania selalu membantu menyiapkan sarapan, tapi semenjak halim semuanya melarang Rania melakukannya lagi.
"Kamu, gak ke kantor Luc?"tanya Oma.
"Kerjaan kamu bagaimana?"pak Bambang menatap Lucas.
"Udah di tangani Hendrik pah, papa tenang aja,"ujarnya.
"Kebetulan kalau gitu, kamu anterin kita shopping Luc, Oma mau belanja dulu sebelum pulang lagi ke Belanda,"pinta oma Ratna.
"Oma, jadi pulang ke sana?"tanya Lucas, ia berharap Oma akan menetap di Indonesia, apalagi sekarang hubungannya sama Rania sudah membaik bahkan kelihatan kalau Oma sayang banget sama Rania
"Jadi, Oma kamu udah bawel, tiap hari nanyain kapan balik lagi ke sana, sampai malas Oma angkat telpon dari dia,"Oma Ratna berdecak mengingat seringnya Oma Mawar menanyakan dirinya kembali.
"Terus, kapan oma balik lagi ke sini?"tanya Rania.
__ADS_1
"Belum tahu, menurut Oma mending kalian nanti ke sana, sekalian baby moon,"ujar Oma Ratna.
"Lihat nanti lah Oma, kalau Lucas gak sibuk, kita usahakan ke sana,"Lucas menyahut.
"Kamu tuh, kerjaan terus yang dipikirkan, sesekali kebahagiaan istri pikirkan,"Oma Ratna mendelik.
"Iya, siap ndoro, nanti saya pikirkan kalau gak sibuk,"Lucas menyatukan tangannya di depan dada.
"Dasar bocah edan!"Oma Ratna melempar Lucas dengan gulungan tisu mengenai jidatnya.
Semua orang tertawa melihat kelakuan dua orang beda generasi itu, apalagi Rania ia merasa sangat bahagia melihat sikap hangat yang Oma tunjukan, jika biasanya Oma Ratna akan berkata dengan sinis juga kata-kata yang menusuk hati, sekarang sudah berubah 180derajat.
Seperti yang tadi Oma ucapkan, sekarang mereka berempat sudah berada di pusat perbelanjaan, sedangkan Serly tak ikut karena masih ada kerjaan yang belum ia selesaikan di kantor Lucas.
Lucas berjalan sambil merangkul pinggang Rani, lalu di depan keduanya Oma sama bu Renata berjalan berdampingan.
"Lucas, pokonya kamu ikutin kemanapun kita melangkah ya, kasian istri kamu kalau nanti kecapean,"ujar oma Ratna, ia memalingkan wajahnya ke belakang.
"Siap, pokonya jangan khawatir,"
Oma Ratna mengajak mereka ke toko pakaian bayi, mata Rania langsung berbinar begitu melihat pernak-pernik bayi yang sangat lucu-lucu.
"Ibu, kita mau ngapain masuk ke sini?"bu Renata menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke samping dimana Oma Ratna ikut menghentikan langkahnya.
"Ya, untuk beli pakaian bayi, ngapain lagi,"kata Oma Ratna.
"Ibu, bukannya gak boleh beli baju dulu, kandungan Rania baru sepuluh minggu, katanya pamali,"ucap bu Renata.
"Iya, ibu lupa Rena, tadinya Oma mau belikan buat cicit Oma, gak jadi deh,"Oma Ratna langsung tak bersemangat.
__ADS_1
Maaf sedikit ya up nya, apakah ada yang tahu obat lambung yang ampuh apa ya? yang tahu jawab ya, terima kasih jangan lupa komen, like ya sayangku