Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 64


__ADS_3

Lucas menggandeng Rania memasuki loby perusahaan satu tangannya menenteng kantung berisi makanan yang tadi ia beli. semua mata menatap dua sejoli itu dengan berbagai perasaan, ada yang bahagia, iri juga benci karena tak bisa mendapatkan seorang Lucas yang mereka kagumi sejak lama.


Sedangkan Rania dari mulai turun dari mobil. ia sudah menundukkan wajahnya, dirinya merasa malu juga risih karena semua mata menatapnya.


"Kenapa, dari tadi menunduk terus?"tanya Lucas. saat ini mereka sudah berada di dalam lift menuju ruang kerja Lucas.


"Malu, kenapa semuanya melihat kita, padahal kita bukan aktris kan?"Rania menetap Lucas dari samping.


"Mereka kagum lihat aku yang tampan sayang, jadi jangan geer,"ledek Lucas.


"Sombong!"cibir Rania sambil memalingkan wajahnya.


"Itu, kenyataan yang, sebelum nikah mereka selalu menatapku, sekarang pasti mereka iri sama kamu,"kata Lucas. wajahnya angkuhnya dibuat-buat membuat Rania berdecak.


"Udahlah, aku malas kalau kamu udah sombong juga narsis,"Rania keluar terlebih dulu dari dalam lift, meninggalkan suaminya yang tertawa karena melihat istrinya jengkel.


"Itu, bukan sombong sayang, tapi..."ucapannya terpotong karena Hendrik menghampirinya.


"Bos, malah ngebucin di sini,"Hendrik mendengus mendengar ucapan Lucas.


"Dasar jomblo, pacarin Serly biar gak ganggu gue terus!"Lucas berjalan menyusul Rania yang sudah lebih dulu masuk ke ruangannya.


"Mending jomblo selamanya, daripada pacaran sama cewek gatal macam dia,"


"Kenapa, malah ikut ke ruangan gue?"alis tebal Lucas bertaut melihat Hendrik mengikutinya.


"Bos, mesra-mesraannya nanti aja, kita keruang meeting sekarang pak Wirawan sama asistennya sudah menunggu,"papar Lucas.


"CK, tadi gue udah bilang undurkan,"decak Lucas. tangannya mengambil laptop di atas meja kerja.


"Sayang, kamu tunggu sebentar ya. aku gak lama ko,"Lucas mencium kening Rania sebelum keluar.


Dasar tidak tahu tempat!


Rania menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kerja Lucas. matanya menatap sekeliling ruangan itu.


tok tok tok


"Masuk!"ucap Rania.


"Bu, saya disuruh pak Lucas buat nemenin ibu,"Wina masuk, matanya tak lepas menatap wajah Rania.


"Mba, gak ikut meeting sama suami saya?"Rania ingat kalau Lucas memberitahu kalau perempuan yang sedang menatap dirinya itu sekertaris di kantor.


"Enggak bu, pak Lucas meeting sama pak Hendrik,"jawab Wina.


"Oh, kita duduk di sofa saja mba, panggil saya Rania. jangan ibu,"Rania bangkit dari kursi tempat suaminya kerja.


"Maaf bu, itu gak sopan, bagaimanapun ibu adalah istri dari atasan saya,"Wina mengikuti Rania menuju sofa yang tersedia di sana.


"Saya masih muda mba, panggil Rania saja,"ucap Rania dengan ramah.


"I-ya Rania,"Wina sedikit canggung.


"Mba, udah lama kerja di sini?"tanya Rania.

__ADS_1


"Baru dua tabun bu, eh Rania. aku panggil mba aja ya,"Wina menggaruk tengkuknya.


"Iya, terserah mba Wina aja,"kata Rania.


"Kamu masih kuliah atau gimana?"Wina mulai kepo dengan kehidupan istri bosnya itu. masalahnya selama ini tak ada berita atau gosip tentang pacar Lucas, tapi kenyataan langsung menggemparkan saat Lucas membawa seorang wanita juga mengakuinya sebagai istri.


"Iya, aku masih kuliah mba,"jawab Rania.


"Kamu pacaran sama pak Lucas berapa lama? terus keluarga kamu dari perusahaan mana?"Wina langsung meluapkan rasa penasarannya pada Rania.


"Aku, enggak pacaran mba, aku juga bukan anak pengusaha ko, cuma orang kampung yang miskin"Rania terkekeh melihat wajah Wina yang terlihat syok mendengar jawabannya.


"Maksudnya, langsung nikah? terus ko pak Lucas mau?"Wina semakin penasaran dengan kehidupan Rania.


Rania pun menceritakan semua kisah rumah tangganya bersama Lucas sama Wina, tak ada yang ia tutupi. ia merasa kalau Wina itu orang baik meski sedikit jutek.


"Jadi gitu mba, aku juga gak pernah nyangka kalau bakal nikah sama pengusaha, tapi memang impianku menikah sama orang kaya sih hehehe...."Rania terkekeh mengingat dari dulu ia ingin menikah sama orang kaya.


"Jadi, kamu sudah gak punya ayah?"tanya Wina.


"Iya, kata ibu aku, bapak sudah meninggal pas aku usia dua tahunan lah,"wajah Rania berubah sendu.


Kenapa gue gak jadi pembantu aja ya, percuma jadi sekertaris tapi gak pernah dilirik sedikitpun.


"Mba, kenapa melamun?"Rania mengibaskan tangannya di depan wajah Wina.


"Hah, apa tadi, kamu nanya apa?"Wina gelagapan mendengar ucapan Rania.


"Kenapa, melamun mba, mikirin apa?"Rania bertanya kembali.


"Ah, enggak enggak ko, tadi aku ingat pekerjaan, nah iya pekerjaan,"jawab Wina.


"Iya, kalau gitu aku kembali ke ruangan aku dulu ya. kalau butuh apa-apa bilang saja,"Wina bangkit lalu berjalan menuju pintu keluar dari ruangan atasannya.


Tak menyangka selera pak Lucas ternyata pembantu, padahal yang naksir dia orang-orang kelas atas semua, termasuk gue. cantik sih tapi orang miskin.


Wina tersenyum pada Rania sebelum menutup pintu ruangan itu.


Sepeninggalnya Wina, Rania merebahkan tubuhnya di atas sofa. pikirannya menerawang kejadian semalam, meskipun di depan suami sama mertua ia bersikap kuat juga seolah tak apa-apa, tapi hatinya sangat sakit mendengar ucapan oma yang terus menghina dirinya. tapi ia harus bisa menyembunyikan semuanya seperti dulu tanpa harus membebani orang lain.


Air matanya menetes saat ia mengingat ucapan oma Ratna tentang dirinya.


"Apa aku tak pantas untuk bahagia, baru saja merasa ada yang melindungi. sekarang sudah ada lagi halangan,"gumam Rania. matanya menatap langit-langit ruangan suaminya.


Matanya kembali mengeluarkan lelehan air mata sampai akhirnya ia tertidur.


Di ruang meeting Lucas baru saja mencapai kesepakatan dengan perusahaan air mineral yang akan bekerja sama dengan perusahaannya. setelah selesai ia bergegas kembali ke ruang kerjanya, ia menyerahkan berkas-berkas sama laptopnya sama Hendrik.


"Istri saya mana? kenapa kamu malah di sini?"mata Lucas menyipit melihat Wina sedang berkutat dengan komputer di depannya.


"Bu Rania di ruangan bapak, tadi saya menyelesaikan laporan ini dulu pak,"Wina menunjuk komputernya.


"CK, ya sudahlah,"Lucas berdecak sambil berjalan menuju ruangannya.


Lucas tersenyum melihat Rania terlelap di atas sofa. Lucas menutup pintu dengan sangat pelan supaya tak menganggu tidur sang istri. ia mendekat kearah Rania dan langsung jongkok di samping Rania.

__ADS_1


Kening Lucas mengerut ketika matanya melihat air mata disudut mata sang istri. ia mendekatkan wajahnya untuk meyakinkan kalau Rania baru menangis.


Apa dia mimpi buruk atau kenapa? jangan-jangan Wina yang bikin dia nangis.


"Bos! ini berkas-berkasnya,"Hendrik mengecilkan suaranya ketika melihat Rania tertidur.


"Ya, thank you, lo udah makan?"Lucas menerima berkas yang Hendrik sodorkan padanya.


"Belum, adik gue sampai ketiduran,"Hendrik mendekati sofa tempat Rania tidur.


"Mau, ngapain lo, jangan coba-coba deketin istri orang,"Lucas langsung menghadang Hendrik dengan tangannya.


"Cemburuan banget, gue nganggap dia sebagai adik gue, gak usah cemburu!"Hendrik mendengus melihat Lucas sangat posesif pada Rania.


"Mending makan, tadi gue beli makanan,"Lucas menunjuk makanan di atas meja yang masih terbungkus rapi.


"Nah, gitu dong baik,"Hendrik dengan semangat mengambil makanan yang diberikan Lucas.


"Mau, ngapain lo?"tanya Lucas.


"Makan, tadi kan lo nyuruh gue makan,"jawab Hendrik tanpa melihat Lucas.


"CK, sana bawa ke ruangan lo. kalau disini, nanti Rania bangun,"Lucas mengusir Hendrik.


"Iya, dasar pelit, bilang aja gak mau keganggu,"Hendrik membawa makanan keluar dari ruangan Lucas.


"Jagain adik gue, awas kalau si wanita gatal gangguin adik gue!"Hendrik menunjuk Lucas. ia baru ingat sama Serly.


"Iya, gue lebih tahu yang terbaik buat istri gue. sono pergi!"suara Lucas sedikit meninggi karena kesel Hendrik banyak bicara.


Rania mengerjapkan matanya. suara Lucas membuat ia terjaga dari lelapnya.


"Sayang, udah selesai meeting nya?" Rania merenggangkan badannya.


"Sudah, maaf ya,suara aku ganggu tidur kamu,"Lucas duduk di samping Rania.


"Enggak, makanannya mana? aku lapar,"Rania menengok kanan kiri mencari makanan yang tadi Lucas beli.


"Kita pulang aja yu, makannya di rumah,"ajak Lucas.


"Kerjaan kamu?"


"Udah, gak ada yang penting banget ko,"jelas Lucas.


"Pulangnya, kerumahnya mama ya,"ucap Rania.


"Enggak, aku malas harus denger oma ngomel-ngomel sama kamu,"


"Sebentar sayang, ada barang-barang aku di sana, setelah itu, kita langsung pulang,"ucap Rania dengan wajah memohon.


"Iya, tapi gak lama. kalau oma marah-marah kita langsung pulang,"akhirnya Lucas luluh.


singkat cerita mereka berdua sudah sampai di rumah orang tuanya Lucas. keduanya turun dari dalam mobil lalu masuk kedalam rumah sambil bergandengan tangan.


"Bener-bener bawa pengaruh buruk, jam segini sudah pulang. biasanya kamu rajin kerja Luc, tapi sekarang,"baru masuk Lucas sama Rania sudah mendengar ucapan pedas dari oma Ratna.

__ADS_1


"Pasti perempuan kampung tuh yang minta,"Serly menimpali ucapan oma.


Rania mengeratkan tangannya pada tangan Lucas, ia tak mau kalau suaminya memarahi oma.


__ADS_2