
"Gila ya,Loe masih jadi pemandangan terindah buat karyawan, padahal menurut gue, lebih tampan gue ke mana-mana,"
"Ga usah mimpi,"setelah mengatakan itu, Lucas langsung masuk ke dalam mobilnya.
Waktu terasa begitu cepat, dua minggu sejak di tetapkan nya hari pernikahan Lucas sama Rania, akhirnya tiba. acara akan di laksanakan malam hari, acara itu di akan di langsungkan secara sederhana sesuai kesepakatan bersama.
Bik Tuti sama bu Lilis sudah datang dua hari sebelumnya, bu Renata sengaja meminta calon besan sama mantan asisten rumahtangganya untuk datang lebih awal, bahkan bu Renata mengirimkan sopir pribadinya untuk menjemputnya ke kota Bandung, tempat tinggal mereka berdua.
Kerabat bu Rena sama pak Bambang sebagian sudah datang, tapi sebagian lagi akan datang ketika acara akan di mulai, kebanyakan mereka sibuk jadi cuma punya waktunya malam hari.
Sedangkan Lucas, ia masih seperti biasa pergi ke kantor, padahal sedari malamnya bu Rena sudah melarang kerja, tapi Lucas tetap pergi dengan alasan ada meeting penting.
Semuanya sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan Rania sama Lucas.
"Kamu, gak boleh bantuin, calon pengantin diam aja di kamar nak,"bu Renata melarang perempuan yang sebentar lagi sah menjadi istri dari anak satu-satunya itu.
Ibunya Rania berkali-kali meneteskan air matanya, melihat gimana baiknya, sayangnya calon besannya itu sama anak gadisnya. air mata kebahagiaan, kesedihan itu selalu membanjiri pipinya. bahagian melihat kehidupan putrinya, tapi sedih mengingat sebentar lagi anak gadisnya itu akan jadi istri dari seseorang, itu artinya waktu Rania akan lebih banyak bersama keluarga barunya.
"Tapi bu, aku bosan di kamar terus, masa gak boleh bantuin sih,"ucapnya dengan mimik wajah yang terlihat lucu.
"Gak boleh, siapkan tenaga buat nanti aja Ran,"tantenya Lucas ikut nimbrung, ternyata keluarga bu Renata baik terus ramah, cepat akrab padahal baru dua hari mereka bertemu.
"Ah tante, emang nanti bakal ngapain, pake harus menyiapkan tenaga segala,"ucap Rania.
"Ya tenaga buat melayani Lucas Ran, apalagi badannya yang tinggi berotot itu, wah kamu harus siap-siap tuh menyiapkan tenaga extra,"tantenya Lucas yang bernama Lidya itu terus menggoda Rania.
Mana ada malam pertama, kita nikah kan karena ada kepentingan masing-masing,kata tuan Lucas aku bukan seleranya, begitu juga sebaliknya, ikh kalau gak terpaksa ogah banget nikah sama orang galak, tukang nindas orang.
"Jangan melamun, nanti malam bakal ngalamin ko Ran, ingat kata tante ya, sakitnya cuma sekali selebihnya mantap,"tante Lidya mengusap kepala calon keponakannya. sambil tertawa
Ucapan tante Lidya sontak mengundang gelak tawa semua orang yang ada di ruangan itu. sedangkan Rania, ia cuma diam karena bingung harus bereaksi seperti apa.
__ADS_1
"Sudah, kasian calon manten, jangan di goda terus. mukanya udah merah tuh lihat,"bik Tuti menatap Rania yang wajahnya sudah memerah karena malu terus di goda setiap orang yang ada di sana.
Kegiatan mereka telah selesai, karena cuma ngerjain yang ringan-ringan, buat perjamuan bu Renata sudah mempercayakan sama saudaranya yang punya usaha catering.
"Kak, gimana reaksi ibu, waktu kaka ngasih tahu kalau Lucas akan menikah,"tante Lidya menatap kakaknya, mereka lagi di kamar bu Renata jadi bebas gak ada yang gangguin.
"Ya, biasa ibu marah-marah, banyak tanya,"bu Renata menarik napas panjang.
"Udahlah kak, biarkan aja, tapi aku yakin, oma bakal cepat pulang deh, apalagi kan Lucas cucu kesayangannya ibu,"tante Lidya berusaha menenangkan kakaknya.
"Iya, kaka juga gak mikirin itu, yang penting Lucas mau menikahi Rania. kaka usah bahagia, masalah ibu, bisa di urus belakangan,"ucap bu Renata.
"Kayanya, kaka sayang banget sama anak itu, apa istimewanya, ya maksudnya selain cantik,"tanya tante Lidya.
"Banyak, kaka sayang banget sama dia, bahkan dari kecil,"
"Maksudnya gimana? dari kecil, kaka sudah tahu Rania dari kecil?"
"Hah, masa anak lucu itu kak, sekarang sudah berubah bentuk ya, aku gak nyangka sama sekali, pantas Lucas mau. dia yang ngasuh dulu kan,"setelah mengingat-ngingat akhirnya tante Lidya mengingat kembali waktu beberapa tahun kebelakang.
"Kamu tuh, masa berubah bentuk, kaya apa aja pake berubah bentuk segala, tapi, selain itu, dia anak yang mandiri juga pintar,"
kaka beradik itu larut dalam obrolan, jarang sekali mereka punya waktu ngobrol seperti sekarang, dua-duanya punya kesibukan masing-masing.
Waktu sudah menunjukan pukul enam sore, tapi Lucas belum menampakan batang hidungnya, padahal sebelum berangkat, bu Renata sudah mewanti-wanti agar pulang lebih cepat.
"Pa, anakmu itu loh, gimana sih, masa jam segini belum pulang, dia mau nikah kan, jangan-jangan kenapa-napa lagi di jalan,"bu Renata mondar mandir di dalam kamar, sementara pak Bambang duduk santai sambil memperhatikan istrinya.
"Papa, ko diam aja sih, gimana ke cari anaknya, jangan-jangan dia kabur lagi, ayo dong pa, lakukan sesuatu,"bu Renata mengguncangkan tubuh suaminya.
"Ma, mama bisa sabar gak, papa pusing liat mama mondar mandir kaya gitu, paling sebentar lagi Lucas pulang,"pak Bambang berusaha menenangkan istrinya.
__ADS_1
"CK, papa gak ngerti sih perasaan mama, makanya bisa bilang begitu, papa kan gak terlalu peduli,"sungut bu Renata.
"Loh, kenapa malah nyalahin papa, kata siapa papa gak peduli, mama jangan sembarangan kalau bicara,"decak pak Bambang.
Dirinya tak menerima bila di salahkan bahkan di bilang gak peduli, sebagai seorang ayah dirinya jelas peduli sama Lucas, apalagi Lucas itu anak satu-satunya, cuma dirinya gak terlalu menunjukan kepeduliannya seperti sang istri.
"Emang benar kan, buktinya, sekarang papa malah diam aja kan, gak ngelakuin apa-apa,"ucap bu Renata ketus.
"Ya, terus....
Tok...tok...tok
"Ma, pa, aku boleh masuk?"ketukan pintu dari luar menghentikan pertengkaran pasutri itu.
Mendengar suara anaknya,bu Renata langsung berlari membukakan pintu untuk anaknya.
"Kamu dari mana aja sih, mama udah jantungan tadi,"bu Renata langsung memeriksa badan anaknya, takutnya kenapa-napa sampai pulangnya telat.
"Tadi macet ma, mama kenapa sih? kaya panik banget kaya gitu,"Lucas mengerutkan keningnya, ia memperhatikan mamanya yang sedang memutari tubuhnya.
"Iya, sampai tadi mama bertengkar sama papa, dan semua itu gara-gara kamu,"ketus bu Renata.
"Aku baru pulang ma, kenapa bisa gara-gara aku sih,"Lucas menggaruk kepalanya tidak gatal.
"Sudah ah, sana kamu siap-siap, sebentar lagi kan acaranya di mulai,"bu Renata mendorong anaknya supaya siap-siap.
"Ma,itu Arya sama yang lainnya udah datang, aku sampai lupa, maksud nyari mama mau bilang itu,"setelah mengatakan itu, Lucas langsung pergi menuju kamarnya.
**Aku up,jangan lupa like,komen,vote nya ya,masukan favorit juga dong.
Sebenarnya cerita aku menarik ga sih,kalau engga aku gak bakal terusin lagi,mau stop sampai sini ajaðŸ˜ðŸ˜**
__ADS_1