
Firda segera meminta pertolongan sama orang-orang ya tiba-tiba berkerumun melihat keadaan Rania yang sudah jatuh pingsan. beberapa orang langsung mengangkat tubuh Rania kedalam mobil lalu membawanya ke rumah sakit terdekat. selama perjalanan Firda terus memanggil Rania supaya bangun, ia bingung apa kalau sampai sahabatnya itu kenapa-napa.
Dengan tangan gemetar Firda berusaha membuka tas Rania terus mengambil ponsel dari dalamnya.
Lucas yang sedang berada di ruang meeting langsung mengangkat tangan meminta waktu untuk menerima telepon terlebih dulu pas ia melihat nama penelepon yang tertera dilayar ponsel.
"Hallo sayang, udah selesai kelasnya?"
"Kak, tolong segera ke rumah sakit Harapan ya, Rania mau dibawa kesana sekarang,"
Mendengar hal itu Lucas tanpa mengatakan apa-pun ia langsung keluar dari ruang rapat, tak peduli para peserta meeting pada penasaran dengan yang terjadi. Lucas yang biasanya profesional dalam pekerjaan tiba-tiba pergi gitu aja tanpa pamit, semuanya langsung saling pandang.
Lucas dengan panik langsung berlari memasuki lift yang terasa sangat lambat. Hendrik segera menyusul menggunakan lift yang biasanya buat karyawan.
Hendrik langsung mengejar Lucas yang sudah berlari menuju mobilnya.
"Lucas, tunggu!"teriak Hendrik.
Lucas menoleh sebelum masuk ke dalam mobil, ia menunggu Hendrik yang sedang berlari menghampirinya.
"Kenapa Sih? tiba-tiba pergi gitu aja, meeting kali ini penting banget Lucas,"Hendrik menggerutu di depan sahabatnya.
"Gue, buru-buru, lo tangani dulu meeting nya, gue percaya pasti lo bisa,"ucap Lucas, setelah itu ia langsung melajukan mobilnya keluar dari area parkir perusahaan.
Dengan kecepatan di atas rata-rata, Lucas melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat istrinya sekarang, pikirannya sangat kacau karena takut terjadi sesuatu sama istri atau kandungannya.
Setelah menempuh waktu beberapa menit, Lucas sudah sampai di depan rumah sakit. lalu memarkirkan mobilnya dengan sembarangan.
Lucas berlari masuk ke rumah sakit tak peduli apa-pun, sampai-sampai dirinya bingung dimana istrinya berada. ia langsung menghubungi ponsel istrinya yang kemungkinan masih dipegang Firrda.
__ADS_1
Setelah mengetahui keberadaan ruangan istrinya, Lucas langsung berlari menuju ruangan dimana istrinya sedang ditangani sama dokter.
"Mana istri aku, kenapa bisa masuk rumah sakit? sekarang bagaimana keadaanya?"pertanyaan beruntun dari mulut Lucas membuat Firda bingung menjawabnya.
"Kak, tanyanya satu-satu, aku bingung jawabnya,"ucap Firda.
"Ah iya, ceritakan bagaimana bisa Rania bisa masuk rumah sakit?"tanya Lucas, matanya fokus menatap pintu yang berada di depannya, yang belum terbuka.
Firda langsung menceritakan kejadian yang ia ketahui, ia juga meminta maaf karena tak bisa menjaga Rania seperti permintaan tante Renata sama Lucas.
Keduanya langsung berdiri ketika pintu ruang operasi terbuka, lalau keluar dokter yang menangani istrinya di dalam sana.
"Dokter, bagaimana kondisi istri saya?"tanya Lucas, nadanya terdengar khawatir.
"Saya, minta maaf karena tak bisa menyelamatkan kandungan istri anda, untuk kondisi istri anda sekarang masih kritis,sekali lagi saya minta maaf pak,"dokter di depannya itu terlihat sendu. ketika menyampaikan kondisi pasiennya.
"Tidak! itu tidak mungkin,"teriak Lucas, ia tak bisa menerima berita yang baru saja ia terima.
Lucas langsung bangun dari tidurnya, ia buru-buru membuka mata terus memeluk istrinya yang sedang menatapnya dengan raut wajah yang khawatir.
"Sayang, aku tadi mimpi buruk,"pelukan Lucas semakin erat, seperti takut kalau Rania akan pergi.
"Mimpi apa? tadi kamu sampai teriak-teriak loh yang,"Rania membalas pelukan suaminya sambil mengusap punggung Lucas.
"Enggak, mimpi buruk gak boleh dibilang-bilang yang, pokonya kamu harus hati-hati ya, di manapun, atau sama siapapun,"ucap Lucas, ia masih memeluk erat tubuh istrinya itu.
"Iya, sekarang kamu bangun, terus mandi yang,"Lucas menarik tubuhnya dari dekapan Lucas.
"Jam berapa?"tanyanya.
__ADS_1
"Udah jam tujuh pagi, aku mau siap-siap dulu,"Rania turun dari atas tempat tidur, Lucas melihat istrinya masih menggunakan bathrobe.
Lucas ikut turun dari atas tempat tidur, tapi bukannya masuk ke kamar mandi sesuai perintah istrinya itu, Lucas malah memeluk Rania dari belakang. tak bisa dipungkiri dirinya masih terbayang mimpi yang baru saja ia alami.
"Kenapa?"tanya Rania, ia merasakan pelukan Lucas beda dari biasanya.
"Kamu, hati-hati ya di kampus, apalagi sama musuh kamu yang namanya Viola itu,"papar Lucas, Rania sudah menceritakan semaunya masalahnya termasuk Viola yang sering mengganggunya.
"Iya, aku bakal hati-hati sayang, apalagi sekarang kan aku lagi hamil, jadi harus ekstra hati-hati malah,"Rania mengusap rambut Lucas.
"Kalau dia macam-macam, kamu harus bilang sama aku,"
"Iya, pasti sayang, lagian sekarang aku akan melawan kalau dia menghina aku, kalau dulu aku selalu diam karena dia selalu memakai senjata kalau aku anak janda miskin, tapi, sekarang aku kan sudah menikah sama orang kaya,"Rania terkekeh geli, ia hanya menggoda suaminya.
"Aku setuju yang, gunakan semua kekuasaan yang kamu punya buat membungkam mulut orang seperti itu,"Lucas malah mendukung ucapan istrinya, padahal Rania cuma bercanda, ia memang sangat bersyukur bisa menikah sama Lucas selain kaya, dia juga laki-laki yang baik banget plus penuh kasih sayang, membuat Rania merasa punya pelindung.
"Kamu gak marah? kalau aku memanfaatkan kamu sama harta kamu?"tanya Rania, ia membalikan tubuhnya menghadap suaminya.
"Buat apa marah, semua yang aku miliki itu milik kamu juga yang, aku malah senang kalau dimanfaatkan sama kamu, asal balasannya setimpal aja,"Lucas mengedipkan matanya.
"Dasar, suami mesum,"Rania langsung berbalik, entah kenapa wajahnya terasa hangat. ia sangat tahu mengenai balasan yang Lucas sebutkan.
"Cuma sama kamu yang, apalagi sekarang kamu tambah seksi tahu gak, bikin aku bergairah terus,"tangannya meremas d**a Rania dengan lembut.
"Ikh, dasar, udah sana mandi,"satu cubitan Rania berikan ditangan Lucas yang masih berada di atas d**anya.
Lucas mencium kilat pipi Rania setelah itu ia langsung lari memasuki kamar mandi sambil tertawa ketika mendengar teriakan istrinya, pasti Rania kesal karena ia sedikit m******t pipi istrinya.
Rania meneruskan kegiatan yang sempat terganggu tadi, pikirannya tiba-tiba teringat dengan ucapan Lucas tentang ia harus lebih hati-hati. sebenarnya dirinya was-was tentang Viola, ia takut anak itu akan mencelakai dirinya, apalagi sekarang dirinya sering melawan , bahkan Rania sempat membawa buku nikah ke kampus karena Viola terus bilang kalau dirinya cuma jadi simpanan laki-laki hidung belang.
__ADS_1
Kini Rania sudah rapi dan siap untuk berangkat ke kampus, ia menyiapkan pakaian kerja untuk Lucas kenakan.
Halllo semuanya, maafkan aku prank ya kemarin huhu, Rania itu wania lucu, kuat jadi tenang aja ya jangan takut, terima kasih yang sudah like, komen aku sayang kalian banyak-banyak😘😘