Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 129


__ADS_3

Setelah libur dua hari, Lucas kembali ke kantor. seperti biasa pagi-pagi istrinya sudah cekatan menyiapkan segala keperluannya. meskipun dengan perut yang sudah besar, Rania tetap menyiapkan semuanya, termasuk membantu bibi membuat sarapan.


"Udah, biar bibi aja non, tinggal membawa ke atas meja kan ini?"tanya bibi.


"Gak papa bi, aku bantu bawain ke sana, lagian suami aku masih mandi kayanya,"ucap Rania.


Ia membawa mangkuk berisi sup ayam ke ruang makan, lalu menata semua masakan yang telah ia buat bersama bibi tadi. setelah itu ia langsung melihat suaminya di dalam kamar.


Lucas tersenyum melihat istrinya masuk kamar, ia baru saja keluar dari dalam kamar mandi, Lucas melilitkan handuk pada pinggang, air menetes dari rambut mengenai badan yang bertelanjang dada.


"Sayang, nanti aku pulangnya mau ke rumah mama dulu, kamu mau ikut gak?"tanya Lucas.


Rania menggeleng sambil membantu mengeringkan rambut basah suaminya, Lucas menatap wajah Rania dari pantulan cermin, istrinya itu terlihat sangat cantik walau tak memakai riasan apa-pun. apalagi selama hamil Rania jarang sekali memakai berbagai skincare, paling kalau lagi keluar itu juga cuma memakai pelembab bibir sama bedak tipis-tipis.


Ah sayang, aku makin tergila-gila sama kamu.


"Kenapa?"tanya Rania.


"Kamu, cantik yang,"sahut Lucas. matanya masih menatap wajah istrinya dari pantulan cermin.


"Gombal, kamu mau apa sih, perasaan muji terus dari kemarin,"


"Gak mau apa-apa, aku cuma takut kamu ninggalin aku, apalagi dosen kamu itu tidak bisa move on kayanya dari kamu,"


"Huh, kenapa malah mikirin dia, palingan itu dulu, kalau sekarang lihat aku udah jelek kaya gini, pasti dia berubah pikiran sayang,"Rania mencebik.


"Kata siapa jelek, malah tambah seksi sekarang, tambah cantik juga,"


"Iyalah, terserah kamu, eh kamu ngapain ke rumah mama yang?"


"Ya mau mastiin yanng kemarin, gimana mau ikut gak?"


"Nggak, aku di rumah aja,"


"Ya udah, aku gak lama kok di rumah mama, yang,"


Rania membantu Lucas memakai dasi, setelah dirasa penampilan suaminya itu rapi. keduanya langsung keluar dari dalam kamar menuju ruang makan.


"Tumben ada sup ayam pagi-pagi?"tanya Lucas. Rania tersenyum sambil mengisi piring untuk suaminya.


"Eum, lagi pengen aja, kayanya enak buat nambah tenaga, semalam aku lemes banget soalnya,"Rania memberikan piring yang sudah terisi makanan itu ke depan Lucas.


"Maaf, yang,"lirih Lucas.

__ADS_1


"Kenapa minta maaf? aku seneng kok, cuma sekarang gampang capek aja,"ucap Rania.


"Jadi, nanti boleh lagi ya yang?"tanya Lucas. ia menaik turunkan alisnya.


"Gak ada, kemarin kan udah, itu jatah buat satu bulan loh,"sahut Rania.


"Masa tega banget yang, bisa beku nanti kalau dibiarkan satu bulan,"Lucas memeluk Rania dari samping.


"Ekhemmm... aden, non, ini air minumnya ya,"


Rania mendorong suaminya, ia sangat malu karena tingkah suaminya itu terlihat sama bibi, apalagi kalau bibi dengar obrolan absurd mereka pasti lebih malu lagi.


"Makasih bibi, udah sarapan belum?"tanya Rania. wajahnya memerah karena malu.


"Udah, tadi bibi sarapan di belakang non,"bibi tersenyum melihat Rania yang terlihat malu, sementara Lucas wajahnya datar tak ada ekspresi apalagi kalau malu.


"Oh, ya udah, kita makan dulu ya bi,"ucap Rania, ia langsung memasukan nasi sama sup ayam itu ke dalam mulutnya.


"Iya non, bibi kebelakang dulu ya, kalau butuh apa-apa panggil aja ya non,"


"Kamu, malu kan sama bibi yang,"Rania cemberut menatap suaminya.


"Malu kenapa? kita suami istri sayang, bibi juga pasti ngerti kok,"ucap Lucas dengan santai.


Setelah sarapan selesai, Rania mengantar suaminya ke depan, ia membawa tas kerja Lucas.


"Kamu, hati-hati di rumah ya, kalau ada apa-apa langsung telpon aku,"Lucas memeluk tubuh istrinya sebelum memasuki mobil.


"Iya, lagian ada bibi kan, kamu gak usah khawatir yang,"Rania membalas pelukan suaminya.


"Hemm, jangan capek-capek juga ya, kalau butuh apa-apa minta tolong bibi,"


"Iya, tiap mau berangkat kamu bilang gitu, aku udah hafal sayang, tenang saja,"


"Bagus, nanti mau dibawain apa?"


"Eum, ayam bakar yang dekat rumah mama, boleh gak?"


"Boleh dong, kalau aku bisa memenuhi permintaan kamu, pasti aku usahakan sayang,"Lucas mencubit pipi Rania.


"Makasih, udah ah sana berangkat, nanti kesiangan loh, kamu harus jadi contoh buat karyawan kamu,""Rania melepaskan pelukkannya.


Setelah suaminya berangkat, Rania masuk kembali ke dalam rumah, ia belum beres-beres kamar tidurnya, untuk area itu Rania selalu membereskannya sendiri tanpa minta bantuan bibi, menurutnya udah terlalu banyak kerjaan yang bibi lakukan.

__ADS_1


****


Lucas langsung masuk ke dalam ruang kerjanya, dibelakangnya Hendrik mengikuti dirinya sambil fokus menatap layar ponsel. wajahnya terlihat resah.


"Wajah lo pagi-pagi udah kusut bro, kenapa lo, baru putus cinta?"tanya Lucas.


"CK, putus cinta sama setan, gue lagi pusing nih,"Hendrik berdecak mendengar ucapan Lucas.


"Siapa tahu, lo udah macarin anak orang, terus dia nyesel dan mutusin lo,"ucap Lucas.


"Enak aja, gak akan ada cewek yang nyesel kalau yang dipacarinya cowok setampan gue!"kata Hendrik dengan sombong.


"Ngaca maneh, tampan darimana, kalau dibandingkan sama satpam komplek rumah gue, lebih tampan dia, serius gue,"


"Kurang ajar! bandingiin gue sama Nick bateman, Jon herrmann, atau Julian Gabriel kek, malah sama satpam komplek, sialan banget,"gerutu Hendrik


"Hahaha gak sadar diri lo, emang kenapa sih? buruan ngomong, kita harus meeting perkembangan kemarin, katanya pak Hari datang ke sini,"Lucas melempar jadwal yang sudah tersimpan rapi di atas meja kerjanya.


"Adik gue, katanya mau liburan ke sini, pusingkan kepala gue?"


"Si Herlin?"tanya Lucas.


"Iya, kalau David gue gak akan pusing, nah coba yang datang malah si Herlin!"


"Kenapa pusing, mungkin saja sekarang sudah berubah, apalagi tau kalau gue udah nikah, pasti gak akan kaya dulu,"


"Pokoknya nanti, bakal gue kurung dia, kalau masalah lo gue gak akan pusing, tapi kata mami, dia sukanya dugem, balapan, bikin kepala pusing,"Hendrik terlihat frustasi.


"Sabar, gitu-gitu juga adik lo, kelakuan lo dulu juga gitu bro, sebelum insyaf,"Lucas menyeringai.


"Wajar, gue laki-laki, nah dia perempuan, mau nolak, papi malah nyuruh gue balik ke sana, malas banget, banyak aturan,"


"Gini aja, nanti biarkan dia tinggal sama mama gue, selama dia di sini, jadi bakal terkontrol sama mama kegiatan apa saja yang dilakukan adik lo itu,"ucap Lucas memberi saran.


Bicara tentang mamanya, ia jadi ingin cepat-cepat ke sana. dirinya sangat penasaran dengan cerita istrinya kemarin, kalau sampai beneran terjadi, ia tak akan memaafkan papanya, ia bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan mamanya ketika diselingkuhi.


"Malah melamun, tuh sekertaris lo udah nungguin,"Hendrik memukul meja kerja Lucas.


"Oh, udah datang pak Harinya?"


"Lo gak dengar dia bicara apa?"


Lucas menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2