Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 123


__ADS_3

"Itu, sebenarnya mama sama papa itu, buat perjanjian gitu, kalau anak kamu lahir perempuan, maka papah akan memberikan mama modal buat bikin cabang butik, atau cabang toko roti. tapi kalau lahirnya laki-laki, maka mama yang harus memberi modal sama papa buat bikin villa di puncak, tapi harus dari uang mama, gak boleh yang dikasih sama papa,"jelas bu Renata.


"Ada-ada aja ma, kenapa sampai kaya gitu?"tanya Rania.


"Ya itu, karena kita senang akan dapat cucu, mama udah gak sabar mau nimang cucu, apalagi perempuan, wah mama udah menghayal mau dipakein jepit-jepit yang lucu, baju lucu,"sahut bu Renata.


Setelah selesai dari store baby, bu Renata mengajak Rania belanja utuk kebutuhan mereka berdua, katanya mungpung masih bisa keluar jadi harus dimanfaatkan, ia tahu kalau sudah hamil besar apalagi mendekati lahiran, akan sangat sulit untuk bisa jalan-jalan, atau keluar rumah dengan gerakan bebas.


Seperti biasa, Rania langsung diajak belanja baju-baju cantik, padahal di lemari masih sangat banyak yang belum terpakai, apalagi sekarang sudah susah untuk menggunakan baju-baju lucu, karena perutnya sudah lumayan besar menginjak kehamilan tujuh bulan, biasanya Rania menggunakan daster atau dress yang khusus untuk ibu hamil demi kenyamanan.


"Ran, kamu udah naik berapa kilo selama hamil?"tanya bu Renata, begitu masuk ke dalam toko.


"15 kilo ma, gak tau nanti bakal naik berapa kilo lagi,"sahut Rania.


"Sedikit itu, dulu mama sampai 21kg, tapi setelah lahiran kecil lagi kok,"


"Aku baru tujuh bulan ma, masih ada dua bulan lagi buat nambah kan, mama tau sendiri aku suka makan setelah hamil,"


Keduanya asyik bercerita sambil memilih baju, Rania memilih dress ibu hamil sementara bu Renata memilih baju-baju yang elegant, tapi terlihat simpel.


"Tante, apa kabar? kita ketemu lagi,"tanya seorang perempuan.


"Baik, ngapain kamu di sini? bikin mata buram tau gak!"ketus bu Renata.


"Lah, ini kan tempat umum tante, wajar kalau saya ada di sini, kabar Lucas bagaimana tante?"tanya perempuan itu.


Rania melirik mama mertua sama perempuan di depannya itu bergantian," siapa dia? kenapa mama mertuanya kelihatan tak suka,"batin Rania bertanya-tanya.


"Baik, sudah ya, saya masih sibuk. gak ada waktu buat ngobrol sama perempuan kaya kamu!"Bu Renata masih bicara dengan nada yang ketus.


"Ma,"


Rania merasa tak enak sama perempuan itu karena ucapan mama mertuanya.


"Biarkan saja, kita langsung pulang aja Ran, mama udah gak ada selera buat belanja,"ucap bu Renta. ia segera menarik tangan Rania meninggalkan perempuan tadi.


"Tante, saya pasti akan menemui anak tante, perasaan buat dia tak pernah berubah,"teriak perempuan itu.

__ADS_1


"Ma, perempuan tadi siapa?"tanya Rania. bu Renata melirik sekilas lalu kembali berjalan tanpa menjawab pertanyaan Rania.


Setelah berada di luar supermarket, bu Renata segera memesan taksi tanpa menunggu sopir sesuai permintaannya tadi.


Di dalam mobil, Rania masih heran melihat ibu mertuanya yang terlihat sangat kesal, padahal waktu sebelum ketemu perempuan tadi masih sangat ceria, apalagi saat melihat beberapa model baju yang katanya sama seperti yang ada di butiknya.


"Ran, kamu percaya sama mama,kan?"tanyanya. setelah agak lama.


"Percaya mah sama Tuhan atuh mah, kenapa nanya gitu?"Rania malah balik naya, membuat bu Renata berdecak.


"Mama serius, kamu percaya sama mama kan?"Bu Renata bertanya lagi.


"Iya, mama kenapa sih? yang tadi siapa emangnya, selingkuhan papa?"


"CK, amit-amit, kalau sampai papa kamu selingkuh, mama akan buat hidupnya tidak tenang, bahkan lari ke sarang semut pun, akan mama buat papa menderita!"ucap bu Renata. ia memukul tangan menantunya itu dengan perasaan gemas sekaligus jengkel.


"Wah, mama kejam juga ya, lagian kalau papa sembunyi di sarang semut, emang gak akan tenang ma, apalagi sarang semut rang-rang, beuh bahaya tuh, bakal panas, gatal, sakit, komplit kan, jadi mama diam aja,"Rania malah membuat mood mama mertuanya itu lebih buruk.


"Kenapa, harus diam aja?"tanya bu Renata. meski jengkel tapi ia penasaran.


"Ya, karena papa gak akan tenang ma, kan digigitin semut rang-rang,"sahut Rania.


"Ikh, mama, jangan sampai lah, nih ya ma, kalau sampai Lucas selingkuh, aku bakal ninggalin dia, gak akan mengijinkan dia ketemu sama anaknya sampai kapan-pun, terus kalau masih kekeh nemuin anaknya, kita kerja sama ya dek, mama bagian potong, kamu bagian bakar, oke nak?"Rania mengusap perutnya dengan lembut, tak disangka anak dalam perutnya itu menendang tangannya.


"Wah! kamu merespon nak, jadi kamu setuju dengan ide mama, keren lah!"Rania antusias sekali karena merasa ada teman.


"Serius, dia nendang Ran?"tanya bu Renata. ia mengusap perut menantunya itu, berharap cucunya akan merespon.


"Nak, coba tendang nenek, biar beliau percaya kalau kamu mendukung mama,"ucap Rania.


Bayi itu seakan mengerti ucapan ibunya, terasa gerakan pada tangan bu Renata.


"Gimana ma, percaya kan sekarang?"Rania menaik turunkan alisnya.


"Iya, kamu hebat ternyata, apalagi nanti kalau udah lahir, tapi nanti kalau mama mau bawa sesekali boleh ya Ran?"Bu Renata memuji menantunya.


"Beres, wani piro ma?"tanya Rania.

__ADS_1


Bu Renata tak menjawab, melainkan kembali menempelkan tangannya pada perut sang menantu.


"Eh, tapi mama belum jawab pertanyaan aku tadi, siapa perempuan tadi ma?"tanya Rania. ia tiba-tiba ingat obrolan awalnya sama mama mertua


"Maaf, bu, mbak, kita sudah sampai, benarkan ke sini?"tanya sopir taksi.


Bu Renata yang sudah membuka mulut akan menjawab pertanyaan Rania, seketika menutup kembali, ia menatap sekeliling tempat itu.


"Ran, beneran ini kosannya Firda?"tanya bu Renata.


"Iya, kayanya ma, kita turun dulu ma,"ajak Rania.


Setelah membayar ongkos taksi, Rania mengirim pesan sama Firda. untungnya bu Renata sudah meminta orang untuk mengirim belanjaan tadi ke rumah Lucas, meskipun mereka cuma belanja sedikit tapi tak apa, yang penting peralatan bayi sudah mereka beli tadi.


Setelah menunggu beberapa saat, sebuah mobil berhenti di depan mereka. mata Rania membola ketika Firda turun dari mobil, disusul Daniel yang turun dari bagian kemudi.


"Daniel! kamu Daniel kan?"tanya bu Renata. ia memang sudah kenal sama temennya Lucas itu.


"Iya, tante masih ingat ternyata,"Daniel segera mencium punggung tangan bu Renata.


"Ingat lah, kemana aja kamu, kenapa gak pernah main lagi ke rumah nak?"


Rania masih tak percaya kalau sahabatnya itu sudah dekat sama seorang laki-laki, apa ia yang ketinggalan berita.


"Firda, kamu hutang penjelasan sama aku ya,"bisik Rania.


Firda hanya meringis, ia menggaruk kepala yang tak gatal. padahal tadi ia tak sengaja bertemu bos di tempatnya bekerja, Firda yang baru keluar dari mini market berpapasan sama Daniel yang akan masuk, akhirnya sampailah berakhir seperti sekarang.


"Maaf, tante saya duluan, soalnya masih ada keperluan lain,"pamit Daniel dengan sopan.


"Oh iya, lain kali main ke rumah ya Daniel, salam buat ibu,"ucap bu Renata.


"Iya, tante, nanti saya sampaikan sama ibu, mari tante, Rania, kamu, saya duluan,"ujarnya.


"Cie, ada yang lagi jatuh cinta nih, ternyata diam-diam sudah dekat ternyata,"ledek Rania.


"Iya, tante gak nyangka loh, kamu bisa mendapatkan temannya Lucas, tante kasih tau ya, jangan sampai kamu melepaskan Daniel, dia anak baik Firda,"bu Renata ikut meledek Firda.

__ADS_1


"Aduh tante, kita gak ada hubungan apa-apa, tadi itu gak sengaja ketemu, terus pak Daniel mengantarkan pulang, karena dompet aku jatuh,"jelas Firda.


__ADS_2