
Rania melepaskan tangan Lucas yang melilit pinggangnya dengan hati-hati, Rania tahu kalau Lucas tidur sudah larut malam karena menyelesaikan pekerjaannya.
Belum sempat Rania berhasil melepaskan tangan Lucas, terlihat suaminya itu sudah membuka mata.
"Mau, kemana?"tanya Lucas. suaranya serak khas orang bangun tidur.
"Kamar mandi, udah kebelet sayang,"Rania turun dari tempat tidur.
"Aku, ikut sayang,"Lucas juga turun dari tempat tidur mengikuti Rania.
"Hah, masa ikut. enggaklah malu yang,"Lucas menepuk jidatnya mendengar ucapan Rania.
"Maksud aku, itu...itu sayang,"
"Apaan sih? kamu gak jelas banget, aku udah gak tahan sayang,"Rania hendak masuk ke dalam kamar mandi, tapi Lucas langsung menahan tangannya.
"Kamu, coba ini ya, kemarin mama nyuruh aku buat ngasih ini sama kamu,"Lucas memberikan testpack sama Rania.
Rania menerima benda itu, terus langsung langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Lucas menatap pintu kamar mandi yang baru saja tertutup, perasaannya benar-benar tak tenang, apalagi melihat Rania seperti itu. pikirannya sudah berpikir yang tidak-tidak.
Setelah beberapa menit menunggu sambil mondar mandir, akhirnya pintu kamar mandi terbuka Rania keluar terus menghampiri suaminya.
"Gimana sayang?"Lucas menatap mata Rania dengan dalam.
Rania memberikan alat itu ke tangan Lucas, tanpa bicara apapun.
Lucas menerima benda itu dengan gemetar, matanya melihat garis dua dengan sangat jelas."Maaf, aku gak tahu bakal kaya gini,"ucapnya. wajahnya menunduk masih memandangi benda di tangannya.
"Kenapa, minta maaf sayang?"Rania mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Gara-gara aku sering ngelakuin itu, kamu jadi hamil. aku tahu kamu pasti belum siapkan, apalagi usia kamu baru 19 tahun,terus masih kuliah,"Lucas masih menunduk tak berani menatap wajah Rania.
"Hey, kok kamu mikirnya gitu sih? aku senang bisa mengandung buah cinta kita yang. aku sama sekali tidak menyesal, justru aku takut kamu tidak bisa menerima karena selama ini kita tak ada pembicaraan masalah anak,"ucap Rania panjang lebar.
Mendengar ucapan Rania, Lucas langsung memeluk tubuh Rania dengan sangat erat. ucapan terima kasih berulang kali ia ucapkan, tak lupa kecupan berkali-kali di pucuk kepala Rania.
Lucas membaringkan Rania di atas tempat tidur, tangannya mengusap perut rata sang istri.
"Kamu, senang sayang?"Rania menatap Lucas yang masih asyik mengusap perutnya sesekali menciumnya dengan lembut.
"Iya, aku senang banget. makasih karena udah mau mengandung anakku,"Lucas merebahkan dirinya di samping Rania.
"Jangan, bilang gitu. ini juga anak aku yang, emang kamu bisa bikin anak sendirian,"Rania memiringkan tubuhnya berhadapan sama Lucas.
__ADS_1
"Lucas tertawa mendengar ucapan Rania. tangannya terulur merapihkan rambut yang menutupi wajah cantik itu.
"Jadi, kemarin gak enak badan tuh gara-gara ini?"
"Iya, waktu di apartemen aku udah ingat sih,"
"Ingat apa? kamu, tahu, kemarin aku terus kepikiran kamu, aku sampai nyusul kamu ke kampus,"
"Ingat telat datang bulan sayang, tapi aku gak yakin. makanya langsung nanya sama mama, terus kamu tahu dari mana kalau aku pulang ke sini?"Rania mengusap pipi Lucas yang sangat mulus.
"Teman kamu yang sering main ke sini yang, untungnya dia baru keluar kelas kayanya, aku gak sabar lihat perut kamu buncit yang, pasti lucu,"Lucas mengusap kembali perut Rania yang masih rata.
"Maksudnya Firda yang?"
"Iya kayanya, aku lupa nama. cuma inga wajahnya aja,"
Saat keduanya sedang asyik mengobrol sambil berpelukan di atas tempat tidur, terdengar pintu kamarnya diketuk dari luar. Lucas mencegah saat Rania akan membuka pintu. ia bergegas membuka pintu.
"Mba siapa?"Lucas tak mengenal orang yang sedang berdiri di depan kamarnya. perempuan yang kira-kira usianya tidak jauh dari Rania itu menunduk.
"Saya, Nadia tuan, pembantu baru di sini,"sahutnya, wajahnya mendongak menatap Lucas yang menjulang tinggi.
"Oh, ada apa?"
"Ya, saya sebentar lagi turun sama istri saya,"Lucas langsung menutup pintu kamar sebelum pembantu baru itu mengucapkan sesuatu.
Lucas tersenyum melihat Rania masih begelung dibawah selimut tebalnya.
"Siapa yang?"Rania menatap Lucas yang duduk di pinggir tempat tidur.
"Pembantu baru, namanya bagus banget loh, kamu tahu mama punya pembantu baru?"tangan Lucas mengusap kening Rania.
"Namanya siapa emang?"Rania merengut mendengar Lucas memuji wanita lain padahal cuma muji namanya bagus.
"Nadia, katanya, jangan cemberut. turun yuk, mama nyuruh kita turun,"Lucas menyingkap selimut yang dipakai istrinya.
Dengan malas Rania turun dari atas tempat tidur, lalu mengikuti Lucas yang berjalan di depannya.
Begitu akan keluar dari dalam kamar, Lucas kembali berjalan mengambil testpack yang tadi Rania gunakan.
"Pasti, mama mau naya soal ini sayang,"Lucas merangkul bahu Rania menuju lantai bawah tepatnya ruang makan. Nadia yang sedang menyapu langsung menatap pasangan suami istri yang baru turun dan berjalan bergandengan.
Cantik banget istrinya, sangat serasi sama tuan Lucas. apa mungkin saya bisa punya suami setampan dan kaya seperti tuan Lucas. tapi kata mba Yanti non Rania dulunya pembantu di sini, apa mungkin tuan Lucas bakal kecantol sama saya.
"Heh, kenapa kamu ngelihatin den Lucas, cepat selesaikan nyapu nya,"mba Yanti yang kebetulan habis buang sampah langsung menegur Nadia yang sedang memperhatikan Lucas sama Rania.
__ADS_1
"Mereka serasi banget ya mba, kemarin saya tidak terlalu memperhatikan non Rania. cuma sekilas,"ucapnya dengan kagum.
Mba Yanti cuma geleng-geleng kepala melihat kelakuan pembantu baru itu. Nadia tetangganya di kampung, orang tuanya sangat kekurangan jadi terpaksa Nadia menjadi pembantu, beruntung bu Renata sedang membutuhkan pembantu baru.
Bu Renata tersenyum melihat Lucas sama Rania bergandengan tangan menuju meja makan. Serly belum terlihat mungkin masih di dalam kamarnya.
"Duduk sayang, gimana udah dicoba belum?"bu Renata langsung bangkit lalau menarik kursi buat Rania duduk.
"Udah ma, aku bisa sendiri ma, mama duduk aja,"Rania tak enak karena bu Renata melakukan itu. menurutnya terlalu berlebihan.
"Mana, mama udah gak sabar ini Luc,"bu Renata mengulurkan telapak tangannya.
Lucas memberikan benda yang sedari tadi ia simpan di saku celana pendek yang ia kenakan.
"Wah, ini beneran kan, kamu hamil, mama punya cucu, ya ampun mama senang banget sayang,"bu Renata langsung memeluk, mencium Rania.
"Nanti, kita periksa sama tante Dina ya, kamu hari ini cuti kuliah aja gimana?"tangan bu Renata mengusap perut rata Rania.
"Ma, biar aku aja yang bawa Rania periksa ya, itukan anak hasil bikinan aku,"Lucas melepaskan tangan bu Renata yang masih mengusap perut Rania.
"Heh, kalau mama gak maksa kamu, buat nikah sama mantu mama ini, gak akan ada hasilnya,"bu Renata menggeplak kepala Lucas.
"CK, kalau gak dipaksa juga aku emang udah niat ma, mau nikahin dia,"Lucas memeluk Rania dari samping.
"Bohong, waktu sebelum nikah kamu selalu bilang aku bocah, terus sering bentak-bentak juga,"Rania mencebik waktu mengingat masa-masa itu.
"Sayang, itu cuma buat jaga imeg aja kok. sebenarnya aku udah sayang sama kamu,"Lucas meringis karena sudah mengakui sesuatu yang selama ini ia tutupi dari siapapun, mungkin hanya dirinya sama tuhan yang tahu.
"Pagi, semuanya,"tiba-tiba Serly duduk di samping Lucas tanpa permisi.
Rania menutup mulut sama hidungnya ketika Serly duduk, bau parfum yang sangat menyengat membuatnya mual. ia langsung berlari menuju kamar mandi yang ada di sana.
Lucas bergegas menghampiri istrinya yang sedang muntah-muntah, ia memijit tengkuk Rania dengan lembut.
"Mual sayang, masih mau muntah gak?"tanyanya dengan khawatir.
"Iya, parfum tante Serly bau banget sih,"badannya terasa sangat lemas setelah mengeluarkan isi perut, bahkan tenggorokannya terasa sangat pahit.
"Sekarang, mau gimana? balik lagi ke meja makan atau makan di ruang keluarga,"Lucas membantu memapah Rania keluar dari kamar mandi.
"Aku, makannya nanti aja sayang, sekarang masih mual,"
"Enggak, kamu harus sarapan. ingat sekarang ada anak kita di dalam perut kamu,"
Akhirnya Rania ikut kembali ke ruang makan, jarinya menutup hidung karena takut mencium aroma seperti tadi
__ADS_1