Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 44


__ADS_3

Rania membuka laptop yang ibu mertuanya belikan, sambil menunggu dosen masuk Rania memeriksa kembali materi yang kemarin ia pelajari.


"Hai, boleh duduk disini kan?"tiba-tiba seseorang duduk di samping Rania.


"Iya, silahkan,"ucap Rania ramah.


"Boleh kenalan?"perempuan berkulit sawo matang itu mengulurkan tangannya pada Rania.


"Rania!"Rania tersenyum.


"Aku, Firda, kita berteman ya, soalnya aku belum punya temen,"ucap Fira.


"Boleh, aku juga belum punya,"Rania menutup laptopnya.


Rania juga Fira sudah akrab meski baru bertemu, Rania yang cerita sangat cocok dengan Fira yang ramah. sampai akhirnya obrolan mereka terhenti karena dosen sudah masuk.


Sedangkan di perusahaan, Lucas berusaha tenang memantau pergerakan saham perusahaan, tak bisa di pungkiri akibat perusahaan pak Hendra menarik saham yang mereka tanam di perusahaannya itu lumayan berdampak. tapi Lucas berusaha tenang menghadapinya. kejadian seperti ini sudah biasa dalam perusahaan, dirinya sudah beberapa kali menghadapi kejadian seperti sekarang.


Apalagi Hendrik dengan gesit membantunya. itu membuat Lucas lebih tenang menghadapinya.


Lucas menyerahkan pekerjaannya sama Lucas, ia tak mau mengingkari janjinya sama Rania, apalagi ia baru memperbaiki hubungannya sama sang istri. dirinya tak mau di sebut cuma mempermainkan perasaan istrinya. apalagi Rania sampai berpikir dirinya pembohong. weuh jangan sampai itu terjadi.


Pukul 14.30 Lucas baru sampai di depan kampus Rania, terlihat Rania sedang berdiri di gerbang kampus bersama seorang laki-laki, hatinya mendadak panas.


Tuh bocah ngapain sih ngobrol sama laki-laki, gak ingat apa kalau udah punya suami.


Rani melihat mobil suaminya sudah datang, dirinya pamit sama laki-laki yang tadi menemaninya menunggu Lucas.


"Tuan, kenapa lama? tadinya aku pikir gak jadi, untung aku belum pulang,"Rania duduk di samping Lucas, sambil nyerocos.


"Tuan lagi?"Lucas terlihat kesal.


"Hehehe sayang,"Rania nyengir mengingat kesalahannya.


"Tadi siapa yang ngobrol sama kamu, akrab banget kelihatannya,"Lucas melajukan mobilnya tanpa melirik Rania sedikitpun.


"Cemburu?"Rania menaik turunkan alisnya menggoda Lucas.


"Enggak! nanya aja, saya kan sudah bilang, jangan berteman sembarangan apalagi sama laki-laki,"ucap Lucas.


"Enggak sembarangan, tadi dia yang nyamperin aku pas lagi nunggu tuan,"


"Tuan lagi!"suara Lucas sedikit meninggi.


Ya ampun, mulut udah kebiasaan manggil tuan, jadi susah kan.

__ADS_1


"Kebiasaan sayang, mulutnya bandel ya,"Rania memukul mulutnya sendiri.


"Jangan, nanti mulut kamu sakit,"Lucas meraih tangan Rania yang tadi memukul mulutnya.


Tangan Rania masih dalam genggaman tangan Lucas, entah lupa atau sengaja, hal itu membuat Rania bingung.


"Sayang, emang mama udah ngizinin kita pindah ke apartemen?"tanya Rania.


"Awalnya enggak, katanya mama takut aku nyiksa kamu, kalau jauh dari mama,"jelas Lucas. matanya fokus ke jalanan sedangkan satu tangannya masih menggenggam tangan Rania.


"Mama bener, jangan-jangan, nanti di sana aku bakal kamu tindas kaya sebelumnya,"selidik Rania.


"CK, emang kapan aku pernah nindas kamu?"Lucas berdecak mendengar ucapan istrinya.


"Wah, pura-pura lupa dia, kebangetan sayang kamu tuh!"Rania memalingkan wajahnya.


"Hahaha tambah lucu kalau ngambek, aku beneran gak pernah ada niatan buat nindas kamu,"Lucas melepaskan tangannya yang tadi memegang tangan Rania, lalu berpindah mengacak rambut Rania.


"Jangan dong, nanti rambut aku rusak,"Rania menepis tangan suaminya.


"Nanti aku ajak ke salon, sayang,"Lucas mengerling.


"Lebay, masa cuma gitu pake ke salon segala,dasar orang kaya,"Rania mencibir.


"Memang, dan kekayaan itu buat kamu,"ucap Lucas.


"Nih, ambil yang mana kamu mau,"Lucas memberikan dompetnya pada Rania.


"Wah, seriusan sayang,"mata Rania berbinar melihat jejeran kartu di dompet suaminya.


"Serius, ambil aja yang mana,"Lucas tersenyum sekilas.


"Tapi kan, uang aku udah banyak,"ucap Rania.


"Banyak darimana?"kening Lucas mengerut mendengar ucapan istrinya.


"Kan pas pertama masuk kuliah di kasih sama mama, katanya buat pegangan,"jawab Rania.


Mama, harusnya aku yang ngasih uang, malah aku lupa, apalagi dia gak pernah minta, apa dia gak ada kebutuhan selama ini, kita nikah udah dua bulan.


"ko malah ngelamun, kenapa sih, maaf ya,waktu itu aku udah nolak. tapi mama maksa,"ucap Rania, ia takut suaminya marah, karena tidak mendengarkannya. pasalnya waktu itu Lucas sudah melarang Rania buat menerima uang dari mamanya, karena menurutnya Rania sudah menjadi tanggung jawabnya.


"Ga papa, itu bukti kasih sayang mama buat kamu,"ucap Lucas.


"Kamu gak marah?"Rania mendongak menatap Lucas dari samping.

__ADS_1


"Enggak, kenapa harus marah,"jawab Lucas.


Rania mangut-mangut mendengar ucapan Lucas, ternyata Lucas tak seseram yang ia pikirkan, tapi kenapa selama ini Lucas itu kejam, pikir Rania.


"Euh, tadi banyak kerjaan ya di kantor? aku pikir gak jadi, aku udah nunggu setengah jam loh,"kata Rania.


"Iya, ada sedikit masalah, tapi sudah di atasi, tinggal sisanya aku serahkan sama Hendrik,"jelas Lucas.


"pantesan, kalau lagi sibuk, bisa lain kali sayang,"Rania merasa tak enak.karena Lucas sampai meninggalkan pekerjaannya.


"Enggak, aku gak mau bikin kamu kecewa, makanya aku tepati janji tadi,"kata Lucas.


Apa dia serius, aku masih belum percaya, dia berubahnya terlalu cepat, aku takut kalau dia terus baik, lembut kaya gini, aku bisa jatuh cinta sama dia gara-gara kebaikannya, terus nanti di tinggalkan.


"Sayang, terpesona ya, baru sadar punya suami tampan,"Lucas mengibaskan tangannya di depan wajah Rania.


"Hah, kenapa narsis sekali sih,"ucap Rania.


"Cuma di depan kamu, lagian emang buktinya gitu kan, aku tampan,"


"Astaga!"Rania menepuk jidatnya.


Mobil Lucas memasuki area pusat perbelanjaan, Lucas memilih parkir di area basement karena lebih sepi.


Lucas membuka pintu mobil untuk Rania, Rania makin bingung dengan perubahan suaminya yang secara tiba-tiba.tapi tak bisa di pungkiri perlakukan kecil Lucas itu, membuat pipi Rania merona.


Begitu di luar mobil, Lucas langung menautkan jari tangannya pada jari Rania, lalu menariknya memasuki tempat perbelanjaan.


"Emang kita mau beli apa dulu?"tanya Rania. saat ini mereka sudah di dalam.


"Bahan makanan, barang-barang sudah ada, tinggal melengkapinya sedikit lagi,"jawab Lucas.


"Oke, emang sejak kapan sayang punya apartemen, kata mama kamu gak pernah tinggal di luar, kecuali pas di kuliah di luar negeri,"tanya Rania.


"Sudah lama, tapi aku biarin kosong, tapi aku bayar orang buat bersihinnya satu minggu dua kali,"jawab Lucas.


Apa apartemen itu buat dia sama pacarnya ya, tapi sekarang di tempati dulu, sebelum pacarnya kembali. hati, kamu gak boleh lemah, nanti kalau kamu di buang sakitnya akan terasa.


"Mikirin apaan sih, dari tadi ditanya gak jawab-jawab?"ucapan Lucas membuyarkan lamunan Rania.


"Euh, nanya apa tadi, maaf aku keenakan ngadem,"Rania gelagapan.


"Ada-ada saja sih, udah yu, kamu yang pilih, kamu sering belanja kan sama mama,"ucap Lucas.


**Apa ada yang nunggu Rania, terima kasih buat yang selalu komen, nyemangatin aku🤗😘😘

__ADS_1


aku terharu bacanya, jadi aku gak mikirin yang bilang cerita aku jelek, atau apalah gak menarik, aku fokus sama komen yang baik2.


like, komen, votenya jangan lupa ya**


__ADS_2