Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 83


__ADS_3

Waktu terus berlalu, tak terasa kandungan Rania sudah berusia delapan minggu, ia sangat bersyukur karena tak terlalu repot karena mual atau susah makan. paling sesekali ia merasakan mual atau muntah, ibu sama bik Tuti sangat bahagia waktu mama mertuanya memberitahu kalau Rania sudah mengandung.


Lucas makin hari makin perhatian, ia masih ingat waktu istrinya meminta makanan yang menurutnya aneh dan tak baik untuk dimakan itu, langsung mendapat ceramah sepanjang rel kereta api dari mamanya. sampai-sampai ia membeli buku khusus tentang kehamilan supaya menambah ilmu serta pengetahuan, tak jarang juga dirinya berjam-jam membaca artikel di internet tentang kehamilan.


Seperti biasa, Rania disibukan dengan jadwal kuliah, apalagi sebentar lagi ia akan melaksanakan ujian semester.


Pagi-pagi sekali ia sudah siap-siap, Rania tengah menyiapkan baju kerja untuk suaminya yang masih berada di kamar mandi, meskipun Lucas kadang melarang supaya tak usah melakukan itu semenjak Rania hamil dan tak boleh kecapean, tapi Rania selalu melakukannya dengan senang hati.


"Sayang, kamu duduk aja. dari tadi udah kesana-kemari, nanti capek loh,"Lucas keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya, sedangkan tangan memegang handuk kecil yang ia gosokan pada rambut.


"Enggak, cuma buat sarapan sama nyiapin baju kamu aja kok yang,"ujar Rania, tangannya mengambil handuk yang dipegang Lucas, lalu mulai menggosokkan pada rambut Lucas yang masih basah sampai airnya menetes ke atas dada bidang Lucas.


"Kamu, kelasnya pagi ya? perasaan aku gak enak kenapa ya yang,"Lucas menatap wajah Rania yang menurutnya semakin cantik.


"Iya, gak enak gimana sih maksudnya yang, aku gak ngerti,"tanya Rania, tangannya masih terus menggosok rambut Lucas.


"Bingung, ngejelasinnya gimana, kamu, bisa gak kalau izin aja hari ini,"Lucas membenamkan wajahnya di atas d**a sang istri yang nambah empuk semenjak Rania hamil.


"Ikh, masa belum puas sih, kan tadi malam udah sayang,"Rania pura-pura merajuk.


"Gak akan pernah puas yang, kamu nya sih, nambah seksi,"Lucas makin senang menggoda istrinya.


"Apaan sih, udah cepat pakai bajunya, rambut kamu udah kering yang,"Rania merapihkan rambut Lucas dengan jarinya.


"Makasih, tapi beneran yang. perasaan aku gak enak dari tadi, kaya gak tenang gitu yang,"ucap Lucas, tanpa malu ia mengenakan baju di depan Rania, keduanya sudah terbiasa seperti itu akhir-akhir ini.


"Terus, aku harus gimana?"tanya Rania, ia menunggu Lucas yang masih memakai bajunya.


"Kamu, izin aja ya, terus ikut aku ke kantor, gimana?"


"Gak bisa, aku sebentar lagi ujian kan. masa sering izin sih yang,"


"Iya sih, tapi nanti kalau ada apa-apa, langsung kabari aku ya cinta,"Lucas mengandeng tangan Rania keluar dari kamar, lalu menuju ruang makan.


"Iya, kita sarapan dulu,"Rania mengambilkan makanan buat suaminya seperti biasa.


Setelah menempuh waktu 45 menit. mobil Lucas akhirnya sampai di tempat biasa istrinya itu turun. Lucas malah terus memeluk tubuh Rania dengan erat seolah enggan untuk melepaskan, entah kenapa perasaannya tak tenang sejak ia bangun tidur. kecupan bertubi-tubi ia layangkan di pucuk kepala Rania.

__ADS_1


"Sayang, udah dong, aku kesiangan nanti. nanti bisa peluk sepuasnya kalau di rumah,"protes Rania.


"Sebentar lagi sayang, aku masih ingin peluk kamu,"kata Lucas.


Ketika Rania hendak keluar dari mobil, Lucas masih sempat mendaratkan kecupan di pipi Rania. yang dibalas dengan senyum yang sangat manis dari bibir mungil istrinya itu.


Semoga tidak terjadi apa-apa ya tuhan, lindungi orang-orang terkasih hamba.


Lucas melajukan mobilnya meninggalkan area kampus.


Sedangkan Rania dengan langkah tenang ia memasuki kelasnya yang masih agak sepi, baru beberapa mahasiswa yang sudah datang. ia menjatuhkan bobot tubuhnya di atas bangku.


Tangannya membuka tas laptop yang ia bawa, lalu mengeluarkan isinya termasuk beberapa kertas catatan yang sengaja ia simpan.


Setelah beberapa menit akhirnya kelas dimulai, semuanya dikasih tugas, meskipun sekarang cuma latihan tapi Rania mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, ia tak mau mengecewakan orang-orang yang sudah menaruh harapan padanya. termasuk suami tercintanya.


Seperti biasa karena dirinya masih sebagai penanggung jawab kelas. Rania bertugas mengumpulkan tugas semua teman-temannya, awalnya Viola protes karena merasa dirinya sangat pantas untuk menjadi penanggung jawab kelas, hatinya benar-benar tak rela kalau Rania terus dekat sama Kevin. apalagi sikap perhatian Kevin sama Rania sangat terlihat, hal itu membuat dirinya cemburu. tapi sedikitpun Kevin tak memperdulikan protes yang Viola lakukan.


Kevin menerima pertunangan dengan Viola hanya karena orang tuanya, hati dan perasaannya dari dulu cuma buat Rania. ketika dirinya menyampaikan tentang perasaan untuk Rania, orang tuanya sangat menentang keras, mereka tak menyetujui karena menurut mereka Rania cuma anak janda miskin yang tak akan pernah pantas buat bersanding sama Kevin yang berasal dari keluarga kaya raya.


"Rania, nanti tugasnya seperti biasa antar ke ruangan saya,"ucap Kevin, setelah itu ia keluar dari kelasnya.


"Makasih Fir, kamu emang paling ngerti aku,"


"Emang, pantas kalian berdua, yang satu orang miskin simpanan om-om, yang satu pasti gak jauh bedakan,"ejek Viola dengan lantang.


Semua orang belum bubar itu langsung memperhatikan mereka. memang sudah beberapa kali Viola bilang kalau Rania itu simpanan om-om, bukan tanpa alasan dirinya bilang seperti itu, ia sudah beberapa kali melihat Rania dijemput mobil mewah pas pulang dari kampus. apalagi Rania bisa kuliah di kampus yang sangat mahal, Viola sangat tahu bagaimana kehidupan Rania waktu di kampung, bahkan waktu sekolah juga sering telat bayar bulanan.


"Heh, jaga ya mulut lo, atau nanti akan menyesal gara-gara mulut sampah lo itu,"bentak Firda, ia selalu emosi tiap kali Viola menghina dirinya sama Rania, tapi Rania selalu cuek dan tak ambil pusing.


"Ukh, kenapa harus dijaga, emang benar kan, temen lo itu, jadi simpanan om-om, asal kalian tahu ya, dia itu orang miskin, dulu pas masih dikampung kayanya buat makan aja susah, sekolah sering nunggak, gak pernah jajan kaya anak lain, tapi lihat sekarang, orang miskin ini bisa kuliah di kampus mahal, pakai baju-baju yang harganya sangat mahal, terus juga semua barangnya bukan barang murah, aneh bukan,"papar Viola, setelah itu terdengar kasak-kusuk temannya yang langsung menjelekan Rania.


Mendengar semua kata-kata Viola, Rania langsung berlari tanpa mengatakan apa-pun, tak lupa ia membawa kertas yang akan ia serahkan sama dosen.


Sepanjang lorong kampus menuju ruangan pribadi Kevin, Rania berusaha menahan air matanya supaya tidak jatuh, tapi tetap tak bisa, kata-kata yang keluar dari mulut Viola sangat menyakitkan baginya, apalagi sekarang tuduhan jadi simpanan om-om di depan banyak orang itu sangat tak bisa ia terima.


Rania mengusap air matanya sebelum mengetuk pintu di depannya. setelah ia menetralkan perasaan juga air mata sudah tak keluar lagi, tangannya mengetuk pintu itu.

__ADS_1


Setelah dipersilahkan masuk, Rania segera mendorong pintu dan memasuki ruangan yang sebenarnya sangat enggan ia masuki.


"Pak, ini tugasnya, saya permisi,"Rania meletakan kertas-kertas itu di atas meja.


"Rania, kamu habis nangis?"tanya Kevin, ia menatap Rania yang sedang berdiri sambil menunduk di depannya.


"Enggak, saya permisi pak,"Rania berbalik hendak keluar dari ruangan Kevin.


Kevin langsung menyusul Rania yang sudah keluar dari ruangannya, begitu ia melihatnya langsung memeluk tubuh Rania dengan spontan membuat Rania berdiri kaku dengan perlakuan dosen itu.


"Pak, lepas!"Rania berontak didalam pelukan Kevin.


"Maaf, saya refleks tadi,"Kevin langsung melepaskan pelukannya. begitu sadar apalagi sekarang ia berada di depan ruanganya, banyak mahasiswa yang melihatnya.


Rania langsung berlalu tanpa mengatakan apa-pun, di depannya Firda langsung menghampiri Rania. ia melihat dosen Kevin memeluk sahabatnya, hal itu membuat dirinya takut akan menjadi masalah buat sahabatnya.


"Kita ke kantin dulu ya, kamu minum dulu biar tenang,"kata Firda, ia menggandeng Rania menuju kantin.


"Kita, beli minum di depan aja Fir, aku malas ke kantin. kamu tahu sendiri tadi kaya gimana,"lirih Rania.


"Oke, kita ke depan aja, maafin aku ya,"Firda sedih karena tak bisa melindungi sahabatnya itu, padahal bu Renata sama Lucas sudah menitipkan Rania padanya.


"Maaf, buat apa?"Rania menoleh ke sampingnya dimana Firda berada.


"Aku, gak bisa belain kamu tadi, pas aku bilang itu fitnah, mereka malah menyoraki aku, mereka bilang kalau aku membela orang salah, dasar ya itu si Viola gila, kurang bangku menyebalkan!"Firda menghentakan kakinya karena kesal.


"Eh, kamu tunggu aku di sini ya, kebelet banget mau ketoilet sebentar,"Firda langsung ngacir tanpa menunggu jawaban Rania terlebih dulu.


Tiba-tiba kursi yang sedang Rania duduki ditendang dengan sangat kuat dari belakang, Rania yang kaget tak bisa mengelak bokongnya langsung menyentuh lantai dengan sangat keras, Viola langsung menjambak rambut Rania lalu menampar pipinya berkali-kali.


"Dasar murahan, belum cukup lo jadi simpanan om-om, terus peluk-peluk tunangan orang, wajah doang yang alim kelakuan lo itu lebih rendah dari j****g tahu gak, gue udah peringatkan jangan pernah dekati tunangan gue, masih kurang hah uang yang lo dapat dari laki-laki hidung belang?"murka Viola sambil terus menarik rambut Rania belum lagi tamparan beberapa kali ia berikan di pipi Rani yang sudah memerah bahkan bibirnya sudah mengeluarkan darah.


"Viola, dasar setan lo ya, lepasin atau gue telepon polisi sekarang!"bentak Firda yang baru saja datang dari toilet, ia syok melihat Rania sedang di siksa sama Viola.


Mendengar ucapan Firda, Viola langsung membenturkan kepala Rania pada besi yang ada di depannya, setelah itu ia langsung pergi.


Firda langsung menghampiri Rania yang sudah terkapar di atas tembok dekat jalan raya, karena tadi Viola menyeretnya sambil menarik rambutnya.

__ADS_1


Maaf kemarin-kemarin gak up ya sayangku, sekarang panjang ya up nya, apakah ada yang nungguin? pasti enggak ya, dah lah aku nangis dulu happy reading semuanya🤗🤗


__ADS_2