Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 55


__ADS_3

Supir kantor yang Lucas perintahkan untuk menjemput Rania sudah sampai di depan kampus tempat Rania menimba ilmu.


Pak Syarif memperhatikan setiap mahasiswi yang lalu lalang di depannya, sebelum berangkat ia meminta foto istri pimpinan tempat ia mengais rezeki itu. meskipun awalnya tak percaya, kalau CEO yang jadi idola semua karyawan wanita itu sudah menikah, karena tak ada kabar apapun tentang pernikahan.


Aku gak nyangka kalau pak Lucas sudah menikah, jadi penasaran seperti apa sih wajah istrinya itu, pak Lucas kan paling anti sama perempuan.


Matanya tiba-tiba menangkap orang yang sedari tadi ia tunggu-tunggu. pak Syarif bergegas keluar dari mobil lalu berjalan menuju Rania yang sedang berdiri di depan kampusnya.


"Non, istrinya pak Lucas bukan?"pak Syarif bertanya supaya lebih yakin.


"Eh, iya pak, bapak yang mau jemput saya, bukan?"Rania menoleh ke arah pak Syarif.


"Iya, kenalkan saya Syarif non, supir kantor pak Lucas,"pak Syarif mengulurkan tangannya.


"Saya Rania pak,"ucap Rania. ia menerima uluran tangan pak Syarif.


Ternyata aslinya lebih cantik, mana baik lagi, pantas saja pak Lucas gak tertarik sama perempuan yang ada di kantor. istrinya bening begini.


"Pak, kok malah melamun,"Rania mengibaskan tangannya di depan wajah pak Syarif.


"Ah, iya non, maaf, mari kita berangkat sekarang,"pak Syarif membukakan pintu mobil untuk Rania masuk.


"Panggil Rania aja pak, gak usah non segala hehe,"Rania terkekeh sambil masuk ke dalam mobil.


Pak Syarif langsung menuju kursi kemudi setelah memastikan istri bosnya duduk dengan nyaman.


"Tadinya saya gak percaya kalau pak Lucas sudah menikah, makanya pas mau berangkat ragu-ragu saya,"ucap pak Syarif. beliau mulai melajukan mobilnya memasuki jalan raya.


"Kenapa gak percaya pak?"tanya Rania.


"Soalnya tak ada kabar kalau beliau sudah menikah, jadi saya pikir tadi pak Hendrik bercanda waktu nyuruh saya menjemput non Rania,"papar pak Syarif.


"Panggil Rania aja pak, kita nikahnya udah tiga bulan pak, tapi cuma keluarga aja yang hadir,"kata Rania.


Sepanjang perjalan pak Syarif mengobrol sama Rania, ia benar-benar kagum dengan istri bosnya itu, tak pernah memandang status padahal banyak orang yang meremehkan dirinya karena cuma se-orang supir. apalagi Rania orangnya seru juga cepat akrab. sampai perjalanan yang sedikit macet karena waktu makan siang itu tidak terasa karena Rania selalu bisa mencairkan suasana.


"Non Rania, saya mau menyimpan mobil, sekarang non ke bagian resepsionis tanya ruangan pak Lucas,"ucap pak Syarif sebelum Rania keluar dari mobil. tadinya ia akan membukakan pintu tapi Rania melarangnya.


"Iya pak, terima kasih ya, semoga bapak sehat-sehat, supaya bisa terus bekerja untuk keluarga bapak,"Rania tersenyum pada pak Syarif, lalu keluar dari mobil.


Ia berjalan menuju meja resepsionis, di sana terlihat dua orang perempuan sedang bertugas.


"Mba, saya mau ke ruangan pak Lucas, di mana ya?"tanya Rania dengan ramah.


"Maaf dek, pak Lucas sedang keluar, lagian sejak kapan ada anak kecil nyariin pak Lucas,"ucap perempuan dengan name tag Siska R.

__ADS_1


"Tapi, saya tadi disuruh buat nunggu di ruangannya mba,"ucap Rania.


"Aduh dek, jangan ngeyel deh, mana saya percaya sih. lagian kamu itu siapanya pak Lucas?"tanyanya dengan ketus.


"Saya istrinya mba,"jawab Rania. ternyata menemui suaminya itu bukan hal mudah.


"Aduh dek, jangan mimpi deh, mana mungkin pak Lucas menikahi anak lucu kaya kamu, kita-kita aja, gak pernah dilirik,"


"Iya, kalau bener mau nyari pak Lucas, tunggu di sana saja,"perempuan yang dari tadi sibuk dengan ponsel ikut menyahut.


Akhirnya Rania berjalan menuju kursi tunggu yang tersedia, ia menjatuhkan bokongnya di atas kursi .


Lucas yang baru kelar meeting berjalan memasuki lobby kantor diikuti Hendrik dibelakangnya.


"Bos, itu bukannya istri lo?"Hendrik menyenggol tangan Lucas dari belakangnya.


"Iya, padahal udah disuruh tunggu di ruangan gue,"Lucas berjalan menghampiri Rania yang sedang fokus melihat laptopnya.


"Sayang, kenapa malah nunggu di sini,"Lucas duduk di atas sandaran kursi yang Rania duduki.


"Euh, tadi aku udah bilang sama mbaknya, tapi di suruh nunggu di sini,"Rania mendongak menatap wajah suaminya.


Lucas langsung menarik tangan Rania setelah memasukan laptop kedalam tas. sebelum memasuki lift ia menarik Rania menuju meja resepsionis terlebih dulu.


Mendengar ucapan Lucas, semua yang ada di sana langsung melotot, seakan tak percaya dengan apa yang di ucapkan bos besarnya.


"Kamu denger kan tadi,"


"Iya, kirain aku salah dengar tadi,"


"Pupus deh harapan gue, pantas pak Lucas gak pernah melirik gue, seleranya daun muda, mana cantik banget,"


Terdengar bisik-bisik para karyawan yang kebetulan baru pada selesai makan siang, banyak perempuan yang patah hati gara-gara mendengar kalau bos idaman semua kaum hawa itu sudah menikah.


Sedangkan Lucas merangkul pinggang Rania memasuki lift, ia seakan tak mendengar semua ocehan para karyawannya.


"Pans kamu banyak banget sayang, sampai gatal telinga aku tadi,"ucap Rania. badannya masih menempel pada badan Lucas.


"Iyalah, makanya kamu harus bersyukur punya suami ganteng begini,"Lucas menaik turunkan alisnya.


"Idih, kok kamu jadi narsis gitu sayang, kemana pesona kamu yang cool kek kulkas dua pintu itu,"ejek Rania.


"Aku kaya gini cuma di depan kamu aja, makanya harus senang bisa lihat sisi lain dari aku,"Lucas mendekatkan wajahnya pada wajah Rania, bersiap akan menciumnya.


Tapi sebelum niatnya itu terjadi, pintu lift sudah terbuka membuat Lucas mengeram marah. keduanya berjalan keluar menuju ruangan Lucas.

__ADS_1


Rania melihat-lihat ruang kerja suaminya, sedangkan Lucas langsung duduk di atas kursi kebesarannya sambil memperhatikan Rania.


"Sayang, sini,"Lucas melambaikan tangannya sama Rania yang sedang melihat setiap sudut ruangan itu.


"Kenapa?"tanya Rania, ia melangkah mendekati tempat duduk suaminya.


"Duduk sini,"Lucas menepuk pahanya, menyuruh Rania duduk.


Rania langsung menuruti perintah suaminya, ia sudah biasa kalau duduk sambil di pangkuan Lucas, meski masih sedikit dag dig dug ser.


"Kamu gak inget ucapan aku?"Lucas menaruh tangannya pada pinggang Rania.


"Ucapan yang mana sayang?"kening Rania mengerut, maniknya menatap manik Lucas.


"Jangan dekat-dekat laki-laki lain sayang,"satu tangan Lucas mengusap kerutan di kening Rania.


"Enggak, emang aku dekat sama siapa?"Rania tak mengerti dengan ucapan suaminya itu, ia di kampus cuma dekat sama Firda, itukan perempuan.


"Tadi aku lihat, kamu jalan bareng sama laki-laki yang kemarin,"ketus Lucas.


"Kan dia yang nyamperin, aku juga gak terlalu merespon dia sayang,"ucap Rania membela diri.


"Pokoknya, aku gak mau kalau kamu dekat lagi sama dia, kalau dia masih deketin kamu, mending kamu kuliah online aja,"jelas Lucas.


"Ah masa gitu sayang, terus gimana? gak mungkin kan kalau aku jutekin dia,"tanya Rania.


"Eh sayang, aku punya sesuatu buat kamu,"ucap Lucas tiba-tiba.


"Apaan sayang?"tanya Rania.


Lucas mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerjanya, setelah itu menyerahkan sama Rania.


"Hah, ponsel baru sayang?"Rania melirik bergantian antara ponsel sama wajah suaminya.


"Iya, ponsel yang kemarin gak boleh dibuang, tapi simpan aja, itukan banyak banget kenangannya."ucap Lucas.


"Makasih sayang, aku suka banget,"Rania mencium pipi Lucas.


"Itu harus dibayar sayang, gak gratis,"


"Tapi, ponsel ini kan mahal sayang, apalagi sekarang aku gak kerja,"ucap Rania.


"Aku gak minta uang yang,"ucap Lucas.


"terus, aku bayarnya pake apa?"tanya Rania.

__ADS_1


__ADS_2