Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 100


__ADS_3

"Eum, saya minta kamu lepasin Lucas, terus, kamu boleh menikah sama Kevin, dia cinta pertama kamu kan?"bu Reni berkata dengan lantang, entah terbuat dari apa hati juga otaknya.


"Maaf, sampai kapanpun, saya tidak akan berpisah sama suami saya, lagian kata siapa saya pernah suka sama calon mantu bu Reni, sok tahu banget,"ketus Rania, ia benar-benar jengkel dengan kelakuan tetangganya itu.


"Gak, usah nyangkal, saya tahu kalau Kevin sering ngasih surat buat kamu, bahkan dia bilang sama orang tuanya akan menikahi kamu, tapi mereka menolak karena kamu cuma anak janda miskin, makanya saya sekarang baik hati memberikan Kevin buat kamu, terus lepaskan suami kamu buat anak saya, anak saya itu sudah dari dulu kalau ada kemauan harus dituruti, beda sama kamu yang cuma bisa berkhayal!"ucapnya. kata-katanya bikin orang sakit hati, tapi Rania sudah biasa mendengarnya.


"Apakah anda tidak punya otak? anda pikir saya barang yang bisa ditukar tambah, sekali lagi anda menghina istri atau mertua saya, semua kelakuan buruk anda akan tersebar, saya juga tahu kalau anda punya hutang yang tak sedikit, makanya anda memaksa istri saya untuk melepaskan saya, karena anda tahu kalau orang tua saya banyak uang kan?"tiba-tiba Lucas menarik tangan Rania, entah sejak kapan datangnya, Rania terlalu serius memperhatikan ucapan demi ucapan dari bu Reni itu.


Mendengar ucapan Lucas, wajah bu Reni langsung pucat pasi, bahkan matanya melotot ke arah Lucas, ia tak menyangka kalau Lucas tahu segala maksud juga keadaan keluarganya sekarang.


"Sayang, kita pulang!"Lucas langsung menarik tangan Rania dari rumah bu Reni, sebelum benar-benar keluar ia melirik pemilik rumah dengan tatapan tajam.


"Maaf, aku gak tahu kalau bu Reni akan mencegat aku,"lirih Rani, ia takut Lucas akan marah karena kejadian barusan.


"Jangan diulangi, aku khawatir sama kamu, katanya sebentar tapi gak datang-datang,"Lucas mengusap kepala Rania sambil berjalan menuju rumah bu Lilis.


"Iya, nanti-nanti akan nurut sama kamu, gak akan pergi sendiri lagi,"ucap Rania.


"Lihat villanya besok aja ya, sekarang udah sore,"Lucas merangkul bahu Rania menuju rumah ibu mertuanya, yang sedikit lagi sampai.


"Terus, lihatnya besok?"tanya Rania.


"Iya, mama sama papa juga katanya gak jadi besok, ada keperluan dulu,"jelas Lucas, sebenarnya tadi ia menyusul Rania karena hal itu, tak menyangka malah melihat sendal istrinya ada di halaman orang lain.


"Oh, ya udah gak papa, kitakan terserah mama sama papa, sayang,"ujarnya.

__ADS_1


Setelah itu, suasana hening keduanya fokus pada jalanan yang sedikit becek karena mungkin semalam habis hujan. terus siangnya tidak terlalu panas makanya tanahnya belum kering.


"Rania, itu kamu nak?"tiba-tiba ada ibu-ibu yang manggil Rania.


"Eh, iya bibi, sayang, aku ke sana bentar ya, kamu duluan aja ke rumah mama,"Rania menatap suaminya.


"Yakin? gak bahaya kaya yang tadi kan?"tanya Lucas, ia sangat khawatir sama istrinya.


"Engga, itu bik Nani, ibunya Selin. teman aku yang,"jelas Rania, ia meyakinkan suaminya kalau tetangga yang ini baik.


"Oke, aku percaya, aku duluan. jangan lama-lama, gak baik orang hamil kelamaan di luar, apalagi sudah sore,"Lucas mengusap kepala istrinya sebelum melangkah menuju rumah ibu mertuanya.


Sepeninggal sang suami, Rania segera menghampiri bi Nani lalu mencium punggung tangannya.


"Sampai pangling bibi lihat kamu Ran, kenapa suami kamu gak mampir dulu, padahal pengen kenalan sama orang kaya, siapa tahu ketularan,"bik Nani terkekeh, ia mengajak Rania masuk ke dalam rumah sederhananya.


"Sama aja bik, kabar bibi gimana, sehat?"tanya Rania, matanya menelisik rumah yang tetap sama seperti saat dirinya berangkat ke jakarta.


"Alhamdulilah, bibi baik Ran, tapi ya gini, dari dulu belum ada kemajuan, melihat ibu kamu sudah berkecukupan bibi sangat bersyukur Ran, semoga kamu sama keluarga baru di sana selalu sehat ya,"bik Nani mendoakan Rania dengan tulus.


"Aamiin, sekolah Selin gimana bik, lancar?"tanya Rania, Selin adik kelasnya, ia selalu mengajari Selin sampai anak itu bisa.


"Ah, boro-boro lancar, sekarang kan gak ada yang ngajarin, pokoknya semenjak kamu pindah, ya Selin gak juara lagi kaya dulu, ketika kamu ajarin, bibi gak mampu buat bayar les RAN, dulukan gratis,"


Keduanya ngobrol-ngobrol sambil menunggu Selin yang sedang mengaji di madrasah, Rania merindukan gadis yang sudah ia anggap adiknya sendiri itu.

__ADS_1


Ternyata sampai Rania menunggu 30 menit, Selin tak kunjung pulang, mungkin mampir dulu ke tempat temennya kata bik Nani, akhirnya Rania pulang karena Lucas sudah menyuruhnya pulang.


"Lusa, bibi datang ya, ke villa yang baru jadi dekat jalan raya, soalnya kita mau syukuran empat bulanan kehamilan aku, sama sekalian syukuran beresnya villa bik,"ucap Rania sebelum meninggalkan rumah itu.


Akhirnya, Rania pulang ke rumah ibunya dan langsung disambut sama omelan dua wanita kesayangannya.


"Kamu, sedang hamil, jangan keluyuran, pamali,"bik Tuti langsung menegur keponakannya.


"Aku, kan cuma mampir ke rumah bik Nani wa, lagian cuma beberapa langkah juga,"Rania membela diri, sedangkan sang suami cuma diam sambil memainkan ponselnya.


"Sama aja, kalau orang tua lagi bicara itu dengerin neng, jangan ngebantah, itu semua demi kebaikan kamu,"ucap Bu Lilis.


"Iya, maaf wa, maaf ibu ratu,"akhirnya Rania meminta maaf karena melihat Lucas menatapnya tajam, pokoknya kalau tatapan sang suami sudah kaya gitu, mending mengalah ia takut.


"Ingat, kamu itu sedang mengandung, kalau cuma kamu sih, ibu gak keberatan, apalagi kalau pulangnya ngirim ibu aya goreng, sama martabak,"


"Huh! tetap aja ujungnya makanan kan Ran, mungkin karena anaknya tak diapelin terus dibawain martabak, kaya orang-orang,"bik Tuti mendengkus.


"Ibu, mau martabak?"tanya Lucas, ia yang tadi cuma menyimak akhirnya bertanya, ia tak mau kalau sampai disebut menantu pelit.


"Ah, engga, mantu ganteng, maksudnya gak se-kardus gitu,"bu Lilis cengengesan sambil menggaruk kepala.


"Hahaha...dasar, mertua mata makanan, lagian siapa yang mau beli bu, jagan suami aku, nanti nyasar, kalau ibu sendiri gimana?"tanya Rania, ia ingat kalau cuma Lucas satu-satunya laki-laki di rumah itu, tapi tak mungkin kalau Lucas yang beli. nanti malah gak sampai-sampai.


"Jangan, biar pak Tohir aja, yang nanti aku telpon supaya ke sini,"ujar Lucas, pak Tohir yaitu sopir yang mengantarnya dari Jakarta, sekarang sedang di villa.

__ADS_1


"Iya, nanti perginya sama ibu aja ya, kasian kalau pak Tohir sendirian,nanti nyasar,"bu Lilis langsung menawarkan diri.


"Ibu ratu, mulai genit ya, pak Tohir itu sudah punya anak bu, sebentar lagi punya cucu, ingat, jangan jadi pelakor, mending sama mang Toha aja yang single,"Rania melirik bik Tuti yang sedang fokus menonton televisi.


__ADS_2