Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 117


__ADS_3

Terlihat Firda sudah mulai bekerja kembali, ia mengantarkan pesanan pada pengunjung yang udah beberapa menit memesan makanan.


Semua itu tidak lepas dari pandangan Rania juga Daniel. sementara Lucas sedang sibuk dengan ponselnya, mungkin ada beberapa email yang masuk.


Brak!


Tiba-tiba makanan yang belum sampai pada meja pemesan itu sudah jatuh berserakan di atas lantai, seorang pemuda dengan sengaja mendorong tubuh Firda sampai semua makanan yang ia bawa jatuh serta piringnya juga hancur.


"Wah, ternyata setelah lo keluar dari rumah orang tua gue, jadi pelayan ya, emang pantas sih, hidup itu harus kerja, jangan jadi benalu!"Fabian menunjuk wajah Firda. semua pengunjung langsung melihat ke arah mereka.


Rania langsung berlari menuju sahabatnya itu, padahal ia sedang hamil, tapi karena melihat Firda sedang dalam masalah ia tak sempat berpikir. Lucas yang melihat istrinya berlari langsung mengejarnya. sementara Daniel sudah lebih dulu menghampiri karyawannya itu.


"Kamu, apa-apaan sih, Fabian, aku lagi kerja sekarang, kalau kamu cuma datang untuk mengacau mending kamu keluar?"Firda membentak Fabian, napasnya naik turun, ia merasa malu jadi tontonan orang-orang, juga takut akan dipecat karena sudah bikin keributan saat jam kerja.


"Hahaha.... gue sengaja biar lo dipecat, terus jadi gelandangan, selama ini, lo udah hidup enak karena memakan uang orang tua gue, makanya gue mau lihat lo menderita, sebelum mama sama papa balik,"Fabian tertawa melihat kaka angkatnya ketakutan sekaligus emosi.


"Heh, jaga ya mulut kamu, Firda bukan benalu, dia cuma gak tau kalau dia itu anak angkat, lagian apa selama ini keluarga kalian itu pernah memberitahunya, engga kan?"Rania mendekati tubuh Firda, ia menunjuk wajah Fabian.


"Wah, elo temennya benalu ini kan, sekarang perut lo udah buncit, hamil sama Om-om ya?"Fabian menunjuk perut Rania.


"Fabian, kalau kamu mau menghina aku, silahkan, tapi kamu jangan menghina dia, Rania itu tidak bersalah,"Firda langsung menghalangi tubuh Rania, ia takut kalau Fabian akan melakukan sesuatu sama sahabatnya itu.

__ADS_1


"Wah, kalian emang paket lengkap, sama-sama saling melindungi, padahal kalau kamu gak menjual tubuh kamu sama om-om, aku tertarik tuh buat menjadikan cewek selingan kalau gue gak punya stok,"Fabian menyeringai, ia semakin maju mendekati Firda sama Rania.


Lucas langsung menendang tubuh Fabian, ia tidak terima istrinya disebut wanita seperti itu, apalagi pemuda itu bilang tertarik sama tubuh istrinya. keadaan semakin ramai, banyak pengunjung yang menonton mereka.


Beberapa petugas keamanan langsung datang, untuk menghentikan kekacauan yang ditimbulkan Fabian.


"Lepaskan brengsek, gue mau menghajar lak-laki itu,"Fabian berontak saat dipegangi sama dua orang satpam.


"Pak, bawa ke ruang belakang, kita selesaikan masalahnya di sana,"Daniel yang dari tadi menyimak kejadian itu langsung memerintah satpam untuk membawa Fabian.


"Maaf semuanya atas kejadian kurang mengenakan ini, silahkan dilanjutkan makannya, sekali lagi saya minta maaf,"Daniel meminta maaf untuk semua kekacauan itu pada para pengunjung yang pasti merasa terganggu.


Sekarang semuanya sudah berada di ruangan belakang restoran, cuma ada beberapa kursi juga meja di sana, mungkin ruangan itu tempat penyimpanan barang karena terlihat ada beberapa barang di sana.


Sementara Firda duduk di samping Fabian yang masih dijaga sama dua satpam tadi, sedangkan Daniel, ia duduk di depan sendirian.


"Ada yang bisa kalian jelaskan Rani?"tanya Daniel.


"Dan, bisa gak manggilnya Firda aja,"protes Lucas.


"Kenapa bung? gue suka nama itu,"Daniel mengerutkan keningnya bingung.

__ADS_1


"Rani itu istri gue, kata pembaca bingung gara-gara panggilannya sama, mending Firda aja,"sahut Lucas. ia kembali sibuk sama istrinya. Rania masih menatap garang wajah Fabian yang mengesalkan.


"Oke, Firda, bisa kamu jelaskan masalah tadi?"tanya Daniel pada Firda.


"Maaf pak, itu masalah keluarga saya, saya benar-benar minta maaf untuk semua kejadian tadi,"lirih Firda. wajahnya menunduk tak berani menatap ke arah atasannya itu.


"Heh, siapa yang keluarga, lo itu cuma anak pungut, gue lihat sendiri surat adopsi lo di kamar mama, papa,"Fabian mendelik ke arah Firda.


"Diam! saya tidak menyuruh kamu bicara, dasar pemuda gak punya aturan!"bentak Daniel.


Mendengar bentakan laki-laki itu, seketika Fabian langsung diam. wajah Daniel ketika marah sangat seram menurutnya. bagaimana pun kalau berantem pasti ia akan kalah.


"Bian, harusnya kamu tidak melakukan itu, kamu tau aku lagi kerja, bisa nanti saja kalau lagi di luar,"Firda menatap adik angkatnya itu.


"Heh, gue tuh maunya elo menderita, selama ini mama sama papa selalu membela elo, padahal cuma anak pungut,"Fabian semakin menjadi-jadi menghina kakaknya.


"Terus, sekarang mau kamu apa? selama ini aku udah sabar ngadepin sikap kamu, bahkan aku keluar dari rumah sesuai permintaan kamu,"Firda benar-benar merasa kesal sama Fabian.


"Mau gue .... elo menderita!"ucap Fabian dengan lantang.


"Saya tau, itu urusan pribadi, tapi saya lihat kamu sudah menindas kaka kamu, anak muda,"Daniel menunjuk Fabian.

__ADS_1


"Dia, bukan kaka saya, dia cuma benalu di keluarga saya,"Fabian mendelik ke arah Firda.


__ADS_2