Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 121


__ADS_3

Rania menatap Lucas, ia juga sebenarnya belum bertanya berapa hari suaminya itu akan berada di kota Surabaya terkenal dengan sebutan kota Pahlawan. kota terbesar kedua di Indonesia setelah kota Jakarta ini dikenal pula sebagai pusat bisnis, industri, perdagangan, dan pendidikan di kawasan timur Pulau Jawa dan sekitarnya.


"Aku belum nanya juga ya, tadi kamu nyuruh masukin baju langsung nurut aja,"Rania terkekeh mengingat kelakuannya.


"Cuma satu hari sayang, tapi aku paling pulang besok,"Lucas mengusap kepala Rania.


"Eum, emang gak bisa langsung pulang ya yang?"tanya Rania.


"Kayanya gak bisa, tapi kalau urusannya cepat selesai, aku bakal usahain pulang nanti malam ya, kamu gak papa tidur sendiri kan?"


"Engga, kamu selesaikan aja kerjaannya, jangan buru-buru, tapi aku mau main ke kosan Firda, boleh gak yang?"


"Boleh, tapi harus diantar sopir, jangan naik taksi ya,"


"Iya, makasih yang,"


Setelah sarapan Hendrik datang untuk menjemput Lucas. Rania mengantar suaminya ke depan.


"Mas Hen, apa kabar?"tanya Rania. Hendrik memang jarang main ke tempat Lucas karena kesibukan di perusahaan.


"Baik, kamu apa kabar, keponakan aku baik-baik aja kan?"Hendrik mendekati Rania.


Lucas sudah membuang rasa cemburunya pada kedekatan Hendrik juga istrinya itu, ia tau kalau Hendrik benar-benar menganggap Rania sebagai adik, meskipun awalnya menyukai tapi sekarang rasa suka itu hanya sekedar kaka kepada adiknya. Hendrik juga pernah cerita kalau ia merindukan adiknya yang sekarang ada di Singapura bersama orang tuanya, usia adik Hendrik memang seusia Rania.


"Jaga baik-baik ya, kamu juga jaga kesehatan,"Hendrik mengusap pucuk kepala Rania.


Setelah berpamitan, Lucas sama Hendrik langsung berangkat menuju bandara Halim perdana kusuma.


Rania kembali masuk ke rumah setelah mobil yang membawa suaminya itu tidak terlihat lagi.


"Non, den Lucas sudah berangkat?"tanya bibi.


"Sudah bi, aku siap-siap dulu ya, nanti aku ikut bibi belanja, setelah itu aku baru ketempat Firda ya,"ucap Rania.

__ADS_1


"Iya non, bibi mah gini juga udah lah, lagian dandan juga gak akan ada yang naksir,"


Rania tertawa mendengar ucapan bibi, ia langsung menuju kamarnya untuk siap-siap pergi belanja kebutuhan dapur sama bibi. awalnya ia berniat berbelanja untuk menyambut kelahiran anaknya nanti, tapi tidak jadi karena Lucas melarang, ia ingin menemani Rania belanja. akhirnya bibi memberitahu kalau bahan-bahan dapur sudah pada habis.


Setelah selsai, ia segera keluar dari kamar,"bibi, kita berangkat sekarang aja yuk,"ajak Rania.


"Ya ampun, non Rania cantik banget, pantas jarang diijinkan keluar sendiri sama den Lucas, pasti takut banyak yang naksir,"


Rania terlihat cantik dan anggun menggunakan dress wearpack two tone berwarna merah muda dengan kombinasi warna hitam diujung bajunya. ia terlihat modis tapi tetap sopan.


"Ah, bibi bisa aja, jangan puji terus nanti hidung aku terbang duluan,"ucap Rania.


"Beneran atuh non, cantik banget deh, kalau aden lihat, pasti bakal muji lebih dari bibi,"


"Bibi, siapa yang datang ya?"tanya Rania. ia mendengar suara deru mesin mobil berhenti di halaman rumahnya.


"Tidak tau, apa suami non ada yang ketinggalan ya?"


Keduanya bergegas keluar dari rumah, mereka penasaran siapa yang datang.


"Mama, aku juga kangen sama mama, kenapa gak ngabarin mau datang,"Rania membalas pelukan mama mertuanya.


"Tadi mama mau ngajakin kamu belanja, makanya gak bilang dulu, soalnya sekarang hari minggu pasti suami kamu ada di rumah, lumayan kita suruh buat bawa belanjaan kita nanti,"ujar bu Renata.


"Euh, Lucas lagi gak ada ma. dia baru aja pergi ya bi,"Rania melirik bibi yang berdiri di belakang dirinya.


"Loh, pergi kemana? sekarang kan hari minggu, gimana sih tuh anak,"gerutu bu Renata.


"Katanya ada masalah ma, itu di kantor cabang Surabaya, kemarin mereka nerima pemasok minuman atau apa gitu, tapi tidak survey dulu, cuma mengandalkan kata orang,"jelas Rania. cuma itu yang ia dengar tadi pas Lucas menerima telpon.


"Wah, kenapa bisa gitu, harusnya survey langsung ke tempatnya, baru nerima kerja sama, apalagi ini tentang makanan atau minuman, kita harus memastikan dulu, aman atau tidak,"


Rania mengangguk mendengar ucapan mama mertuanya, untuk masalah itu tidak bisa sembarangan, kalau ada apa-apa perusahaan suaminya akan terkena imbas.

__ADS_1


"Terus, sekarang kamu mau kemana, udah cantik bawa tas,"tanya bu Renata. ia memperhatikan penampilan menantu kesayangannya itu.


"Mau ikut bibi belanja ma, biasanya Lucas selalu melarang kalau aku belanja sama bibi, tapi tadi dia mengijinkan, soalnya dia gak jadi nemenin,"jawab Rania.


"Oh, ya udah, kita bareng aja. nanti sekalian belanja buat cucu mama,"


"Tapi, Lucas gimana ma? katanya dia mau juga mau ikut kalau belanja untuk dede bayi,"


"Udah, sekarang belanja sedikit aja, nanti ajak Lucas belanja yang belum kebeli sekarang,"


Akhirnya Rania menuruti ajakan bu Renata, tentunya setelah meminta ijin suaminya dulu, itu yang selalu ibunya ingatkan. ijin suami itu penting supaya rumah tangga selalu adem ayam.


bibi duduk di depan sama sopirnya bu Renata, sementara Rania duduk di belakang sama mama mertuanya. mobil langsung meluncur membelah jalan ibu kota yang padat merayap tapi tak sampai macet.


"Ma, nanti pulangnya aku mau mampir ke kosan Firda, bisa gak?"tanya Rania. ia harus nanya dulu, karena takut kalau mama mertuanya itu ada kepentingan lain.


"Boleh, emang di mana tuh anak ngekosnya? padahal mending tinggal di rumah mama, jadi mama ada temen,"


" adalah, nanti aku kasih tau mama, aku juga udah maksa dia, terus aku ajak tinggal di rumah, tapi dia nolak. katanya gak enak, takut merepotkan,"jelas Rania.


"Mama salut sama dia, padahal sebelum tau kenyataan ini, dia anak yang berkecukupan, tapi sekarang harus banting tulang untuk menghidupi diri sendiri,"


"Iya ma, kata Firda, ia akan membuktikan sama Fabian kalau dia bukan benalu, Firda bisa hidup meskipun tanpa semua kekayaan orang tuanya Fabian,"Rania menarik nafas panjang.


"Bagus, sekarang kerjanya dimana? padahal butik mama lagi butuh karyawan, mba Erin mengundurkan diri,"


"Loh, padahal mba Erin kan karyawan mama yang paling lama, kenapa mengundurkan diri?"tanya Rania.


"Suaminya yang meminta, mba Erin hamil muda, takut kenapa-napa katanya, ya udah mama gak bisa menghalangi kalau kaya gitu,"


"Iya lah, istri harus nurut sama suami kan ma?"


"Iya, kaya kamu, Lucas nyuruh berhenti kuliah, kamu turuti, padahal mama yakin kalau kamu bakal nolak loh, secara kamu ingin banget kan kuliah,"jelas bu Renata.

__ADS_1


Bibi tersenyum melihat mertua sama menantu yang akur, biasanya ia menonton sinetron banyak mertua yang dzolim sama menantu atau sebaliknya.


__ADS_2