
Hai kesayangan, aku up lagi, ramein dong komen, like nya juga.
"Bos, gue beneran gak percaya, tapi setelah melihat dengan mata gue sendiri sekarang percaya, loe harus jagain dia, kalau sampai dia nangis gara-gara loe, gue pastiin kalau bakal bawa Rania pergi menjauh dari loe,"Hendrik memeluk bos sekaligus sahabatnya itu sambil berbisik.
Lucas menatap Hendrik yang bejalan mendekati istrinya, ia sama sekali tak pernah mengganggap serius ucapan hendrik, tapi sekarang ia yakin kalau Hendrik serius suka sama Rania.
"Selamat ya Ran, semoga bahagia, kalau Lucas menyakiti kamu bilang sama saya,"mata Hendrik mengembun menatap Rania, sekarang ia akan mengganggap Rania sebagai adiknya sendiri.
"Iya, tuan,"
"Jangan panggil tuan, anggap saya kaka kamu sendiri, jadi bisa panggil kaka, mas, atau apalah terserah kamu,"Hendrik mengusap kepala Rania.
Kurang ajar Hendrik, kalau gak banyak orang, udah ku pites tuh tangan.
"Iya, mas, makasih,"kata Rania.
"Nah gitu dong, saya ke sana dulu ya, sekali lagi selamat, semoga bahagia,"Hendrik melangkahkan kakinya menjauhi tempat Rania dan Lucas.
__ADS_1
Semua acara sudah selesai, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam, kerabat pak Bambang sama bu Renata ada yang pulang ada juga yang menginap di rumah pak Bambang.
Setelah menyapa beberapa kerabat keluarga suaminya yang akan pulang, Rania masuk kamarnya tempat tidurnya, ibu Lilis baru keluar dari kamar mandi.
"Kamu ngapain ke sini?"kening bu Lilis mengerut melihat anaknya ada di sana.
"Ya, mau istirahat bu, ko tanya gitu sih?"Rania berjalan mendekati ranjang.
"Tidak boleh, sana ke kamar suami kamu,"bu Lilis mendorong bahu Rania supaya keluar kamar.
"Bu, aku mau tidur sama ibu, lagian ibu besok mau pulang lagi, aku kangen tidur sama ibu,"Rania memelas pada ibunya.
"Ya udah deh, aku ambil baju tidur dulu,"Rania berjalan mendekati lemari tempat baju-bajunya.
"Baju kamu sudah Mba pindahkan ke sana, jadi di sini sudah tidak ada,"bu Lilis menghalangi Rania yang akan membuka lemari.
"Ko di pindahkan, ini kan kamar aku,"gerutu Rania
__ADS_1
"Sudah jangan banyak tanya, ibu mau istirahat,"
Sebelum keluar kamar, Rania mengambil boneka yang selama ini menjadi temannya, lalu dengan langkah gontai ia meninggalkan kamar yang selama tinggal di rumah besar ini menjadi tempatnya menumpahkan segala rasa, kakinya melangkah menaiki anak tangga, tadinya ia akan tidur di kamar lain, tapi, ia ingat kalau kamar yang biasanya kosong sudah terisi sama kerabat suaminya.yang menginap setelah acara selesai.
Sesampainya di depan kamar Lucas, Rania melihat pintu kamar itu terbuka sedikit entah sengaja atau yang punya kamar lupa buat menutup pintu kamar sampai rapat, apa jangan-jangan Lucas menunggu dirinya.
Ah, mikir apa aku ini, mana mungkin tuan tukang nindas itu menunggu dirimu Rania.
Rania memukul kepalanya, lalau menguatkan hatinya untuk sedikit mengintip ke dalam kamar di depannya. ia mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka, di dalam sana ia bisa melihat laki-laki yang beberapa jam kebelakang sudah sah menjadi suaminya. Lucas tengah duduk di atas ranjang king size nya, matanya fokus menatap layar ponsel mahalnya.
Fokus banget tuh orang, apa lagi chating sama pacarnya, aduh aku harus gimana sekarang, ketuk gak ya.tapi kalau gak tidur di sini, aku harus tidur di mana, ibu benar-benar tega nih sama putri cantiknya, masa malah nyuruh tidur sekamar sama tukang nindas.ketuk, gak, ketuk, gak, ah ketuk ajalah, gak enak kalau harus pakai baju ini terus.
Tangan Rania terangkat, lalu mengetuk pintu di depannya.
"Tuan,"Rania menyembulkan kepalanya kedalam kamar Lucas, sedangkan badannya masih di luar kamar.
"Hmmm,"Lucas mengalihkan tatapannya pada Rania yang cuma terlihat kepalanya.
__ADS_1
"Itu...anu itu....
Maaf sedikit, aku ada urusan sedikit di real life ya kesayangan🤗😘😘