
Viola menggeram saat Rania berlalu dari hadapannya, matanya tak lepas dari dua sejoli yang terlihat sangat mesra itu, apalagi saat Lucas membukakan pintu buat Rania masuk hati sangat panas, Kevin yang selama ini menjadi tunangannya tak pernah mau bahkan sekedar mengantarnya pulang.
Kenapa nasibnya selalu bagus, padahal dia gak pantas banget bersanding sama cowok setampan itu, pokonya gue gak boleh kalah sama si anak janda miskin itu.
Kedua teman Viola langsung bangun tangannya menepuk-nepuk baju yang kotor.
"Vio, lo bilang kalau suami si Rania itu laki-laki tua, masa yang kaya gitu tua. itu mah ganteng banget kali Vio, malah lebih ganteng daripada pak Kevin deh,"Dewi terus nyerocos, matanya menatap mobil yang Lucas yang semakin menjauh.
"Bisa diam gak! anak janda miskin itu sama sekali tak pantas bersanding sama laki-laki setampan itu,gue bakal bikin mereka pisah, lihat aja,"Viola menyeringai jahat, sorot matanya penuh kebencian.
"Jangan kebanyakan mimpi deh Vio, lo gak lihat perlakuan suaminya tadi seperti apa. sementara lo, dapetin pak Kevin aja harus dengan bantuan ortu lo kan,"ledek Vivi.
"Heh, sebenarnya lo itu temen gue atau bukan Vi? gak gue kasih jajan tahu rasa lo,"Viola menatap tajam Vivi.
"Jangan dong, gue bakal bantuin lo Vio, asal uang jajan gue lancar,"ujar Vivi, mereka berteman sama Viola demi uang, bukan karena Dewi sama Vivi tulus mau temenan sama Viola yang sering marah-marah, dan tak pernah mau kalah.
Viola sudah memikirkan beberapa rencana dalam otaknya, seperti sebelumnya ia pasti melakukan segala cara biar bisa mendapatkan apa yang dirinya inginkan, sedari kecil Viola selalu mendapatkan apa-pun yang menjadi keinginannya, tanpa mau tahu kalau ada orang yang menderita akibat ulahnya.
Orang tuanya pengusaha minuman teh berbagai rasa, kebun teh yang sangat luas di kampungnya, bahkan ibunya Rania pernah bekerja di kebun teh milik orang tua Viola. karena hal itulah kenapa Rania selalu diam saat Viola and teh genk selalu membullynya. saat itu ibu Lilis sangat membutuhkan pekerjaan sebagai buruh harian di kebun teh milik orang tua Viola. bukannya tak bisa melawan, tapi Rania takut kalau keselamatan ibunya. Viola selalu mengancam akan mencelakai bahkan memecat ibu Lilis dari pekerjaannya.
*****
"Sayang, kenapa gak nurut tadi?"Lucas melirik sebentar ke arah sang istri yang duduk di sampingnya. setelah itu ia fokus kembali ke depan.
"Maksudnya, gimana sih?"Rania mengerutkan keningnya tak mengerti maksud suaminya.
"Sebelum berangkatkan aku udah bilang, kalau kamu harus nunggu di tempat yang ramai,"jelas Lucas. ia benar-benar takut kalau mimpinya menjadi kenyataan. apalagi tadi ia melihat Rania sedang berhadapan dengan tiga perempuan bahkan tempatnya sama seperti yang ada di dalam mimpinya.
"Iya, tadi aku nunggu di tempat ramaikan, bahkan banyak mobil berlalu -lalang, terus orang yang lewat juga,"papar Rania, ia merasa sudah menjalankan apa yang suaminya itu bicarakan tadi pagi.
"Maksud aku tuh, bukan di pinggir jalan kaya tadi,"
"Kenapa? gara-gara kamu lihat Viola tadi, tenang aja, aku sudah berani melawan kok sekarang, ya meskipun kaki aku gemetaran kek orang kelaparan, padahal baru habis makan dari kantin,"kata Rania, ia terkekeh mengingat nafsu makannya yang sekarang.
"Aku sudah menduganya, sekarang makan kamu banyak banget, udah gitu makannya kek orang belum makan seminggu,"Lucas tertawa.
__ADS_1
"Kok, kamu ngomongnya gitu? gak boleh ya aku makan banyak,"Rania langsung menunduk begitu mendengar ucapan suaminya, sejak hamil ia gampang melow.
"Enggak, sayang, kamu boleh makan banyak biar kamu sama anak aku yang ada di dalam sehat-sehat,"Lucas mengusap perut Rania yang sedikit menonjol.
"Beneran? kalau aku gendut gimana?"Rania antusias kembali.
"Malah bagus kalau kamu gendut, tambah seksi,"Lucas mengedipkan matanya menggoda sang istri.
"Bener ya, kalau gitu, aku mau makan bakso yang deket rumah mama, boleh gak?"mata Rania berbinar ketika membayangkan bakso langganan dirinya saat masih di rumah mama mertuanya.
Lucas mengangguk mengiyakan, padahal belum ada sejam bilang kalau istrinya itu habis makan mie ayam di kantin kampusnya. tapi sekarang sudah mengajak makan bakso.
"Makannya di rumah mama aja ya, aku risih kalau harus makan di sana yang,"Lucas paling malas kalau harus jadi pusat perhatian ibu-ibu seperti sebelumnya ketika ia menemani Rania sama bu Renata makan di tempat bakso itu.
"Risih kenapa yang? padahal lebih enak makan di tempatnya loh!"raut wajah Rania terlihat kecewa.
"Aku, gak mau jadi pusat perhatian emak-emak yang, emang kamu gak takut kalau di sana ada yang naksir aku?"
"Kebiasaan, kamu suka narsis ikh,"Rania mencebikkan bibirnya.
Lucas mencubit pipi Rania karena sangat gemas, apalagi sekarang pipi Rania tambah mulus terus chubby.
"Sayang, kamu....
Rania sudah tak ada di tempat nya saat Lucas mematikan mesin mobilnya, ia berniat akan turun terus menyuruh istrinya itu supaya menunggu di mobil saja.
Urusan makanan aja cepat banget sayang!
Lucas menyusul Rania yang sedang berdiri di samping gerobak bakso. tangannya langsung merangkul bahu sang istri.
"Kenapa keluar? kamu tunggu di mobil aja yang,"Rania mendongak menatap wajah Lucas.
"Biar aku yang nunggu yang, kamu nanti pegal berdiri terus,"ujar Lucas.
"Jangan, kamu yang nunggu di mobil,"Rania mendorong Lucas supaya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Kenapa sih?"Lucas menatap heran sama istrinya itu.
"Nanti banyak perawan yang suka sama kamu, aku gak mau ditinggalkan sama kamu,"Rania membuka pintu mobil lalu menutupnya kembali setelah Lucas duduk di belakang kemudi.
Lucas tertawa keras melihat tingkah istri kecil yang sudah bisa mengandung anak kecil itu, ia bahagia melihat Rania yang posesif, sebelum hamil biasanya Rania cuek terkesan tak peduli.
"Suaminya kenapa neng?"tanya mas Yana penjual bakso.
"Gak papa-papa mas, dia risih katanya banyak ibu-ibu yang liatin,"kilah Rania, padahal dirinya yang meminta Lucas menunggu dalam mobil.
"Itu den Lucas yang rumahnya paling mewah di komplek depan kan neng?"tanya mas Yana, tangannya sangat terampil ketika meracik bumbu bakso pesanan Rania.
"Iya, kok mas Yana tahu?"
"Wah, siapa yang gak tahu neng, tiap hari kuping saya itu sampai bosen karena terus mendengar nama den Lucas. tapi, setahu saya belum menikah, berarti pengagumnya den Lucas itu ketinggalan berita ya neng,"jelas mas Yana.
"Hehehe... iya mas!"
"Emang, nikahnya kapan neng? nasib kamu beruntung banget, bisa mendapatkan anak pengusaha tampan lagi, terus ditambah mau mengantar neng beli bakso, udah paket komplit itu,"kata mas Yana.
"Nikahnya udah lama mas, cuma akad aja sih, jadi cuma keluarga yang hadir,"jelas Rania.
"Oh, pantas kala gitu neng,"
Setelah Rania membayar bakso. Rania menteng kantong kresek berisi bakso masuk ke dalam mobil.
"Udah yang? beli berapa jadinya?"tanya Lucas, ia mulai melajukan mobilnya menuju rumah mamanya.
"Beli empat sayang, emang kamu mau? biasanya gak pernah mau makan yang kaya gitu,"Rania menatap Lucas dari sampingnya, ia selalu mengagumi ketampanan suaminya itu.
"Mau, sesekali aku mau nyobain makanan yang menurut kamu enak itu,"
Mobil Lucas sudah terparkir di garasi rumah orang tuanya, keduanya turun dari mobil. tangan Lucas langsung mengambil barang-barang istrinya termasuk kantung kresek berisi bakso tadi.
Rania mengeratkan tangannya pada baju Lucas, ia melihat oma Ratna yang sudah berdiri di depan pintu sambil menatap dengan pandangan yang membuat Rania bingung.
__ADS_1
"Rania.....
Uhuuuu maafkan kemarin gak up ya, aku lupa perasaan udah up, eh ternyata belum hehe