Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 42


__ADS_3

"Dasar otak lamban,"gumam Lucas.


Rania mengedikkan bahu mendengar ucapan Lucas, jalanan yang lumayan lenggang membuat perjalanan menuju rumah terasa cepat, mobil yang mereka tumpangi sudah mulai masuk kawasan perumahan elit tempat mereka tinggal.


Rania turun terlebih dulu, setelahnya di susul Lucas yang sudah memarkirkan kendaraannya di garasi.


Waktu terus berjalan tanpa terasa Rania sudah memulai masuk kampus, kehidupan pernikahannya berjalan seperti sebelumnya belum terjadi apa-apa di antara pasutri itu. mereka memang tidur satu kamar tapi selalu terpisah, kalau Lucas tak memindahkan istrinya ke atas tempat tidur dengan alasan Rania jalan sendiri ketika tidur.


Hendrik jarang mengantar atau menjemput bosnya karena sekarang Lucas lebih sering membawa kendaraan sendiri. dirinya punya kerjaan baru yaitu mengantar sang istri ke kampus.


Rania masih dalam masa ospek, tapi dirinya selalu menikmati setiap kegiatan yang dilakukannya.


Sedari subuh Rania sudah bangun, pertama-tama ia menyiapkan perlengkapan untuk dirinya, setelah selesai lalu menyiapkan keperluan sang suami, apalagi dari sebelum nikah dirinya sudah terbiasa buat menyiapkan segalanya untuk Lucas, dari mulai pakaian sampai menyiapkan air untuk mandi.


Rania melihat jam yang menggantung di dinding kamar suaminya, waktu masih menunjukan pukul enam pagi, itu masih pagi buat membangunkan Lucas, jadi Rania masih punya waktu buat bantu-bantu mba menyiapkan sarapan.


Rania bergegas turun dari lantai atas langsung menuju dapur, di sana ia melihat mba Yanti masih berkutat dengan alat-alat dapur.


"Mba, aku bantu ya, mba masak apa?"Rania berdiri di samping mba Yanti.


"Eh, gak usah non, biar mba aja, non Rania kan mau kuliah,"sikap mba Yanti membuat Rania canggung, semenjak dirinya menikah sama Lucas sikap mba Yanti jadi berubah menurut Rania.


"Mba, jangan gitu dong, panggil Rania aja, pokonya aku bantu ya, supaya cepat beres,"Rania mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan di masak.


"Mba gak enak dong, sekarang kan non Rania sudah jadi nona muda di sini,"mba Yanti tersenyum.


"Ah jangan gitu, kalau mba kaya gini aku jadi risih mba, mba bersikap biasa aja ya, seperti dulu lagi,"ucap Rania.

__ADS_1


"Ya udah, mba panggil Rania lagi ya, mba senang kamu gak berubah meski sudah jadi majikan hehe,"mba Yanti tertawa menatap Rania yang sedang fokus membuat sarapan.


"Iya dong, aku gak bakal berubah, kan aku bukan power ranger yang bisa berubah,"kata Rania.


"Kamu memang orang baik, pantas den Lucas mau nikah sama kamu Ran, kamu beruntung bisa dapatain den Lucas,"


"Haha mba bisa saja,"


Mereka gak tahu aja, gimana pernikahan kita, tuh mahluk jahat banget, tidur aja gak pernah mau ngalah, mentang-mentang itu kamarnya, padahal badan sudah pegal gara-gara keseringan tidur di sofa.


"Ran, itu udah matang. ko malah bengong sih?"mba Yanti menyenggol tangan Rania.


"Euh, iya mba, maaf ya,"Rania buru-buru mematikan kompor. lalu menuangkan masakannya ke dalam wadah.


Selesai menata semua makanan di atas meja, Rania bergegas menuju kamarnya, dirinya masih memiliki tugas membangunkan bayi besar.


Rani langsung masuk ke kamar mandi, menyiapkan air hangat buat mandi tuan suami.


"Tuan, bangun saya sudah menyiapkan air,"Rania menarik selimut yang masih di gunakan Lucas, keberanian Rania naik satu tingkat semenjak menikah.


"Ah dasar bocah, saya masih ngantuk,"Lucas berusaha mempertahankan selimut yang separuhnya sudah di tarik Rania.


"Bangun tuan, kalau tuan tidur lagi, saya berangkat sendiri ke kampusnya,"tegas Rania.


Mau tak mau akhirnya Lucas mengalah, ia tak.mengijinkan Rania berangkat sendiri bahkan di antar supir pun dirinya tak mengijinkan.


"Dasar bocah!"Lucas berjalan melewati Rania yang akan membereskan tempat tidur.

__ADS_1


"Dasar tua!"teriak Rania, ia sengaja supaya bisa di dengar Lucas yang sudah di kamar mandi.


Setelah beberapa menit, akhirnya Lucas keluar dari kamar mandi.


"Tadi bilang apa bocah?"Lucas dengan bertelanjang dada mendekati Rania yang sedang membereskan tas yang akan ia pakai ke kampus.


"Tuan, pakai bajunya, mata saya masih suci,"Rania langsung membelakangi Lucas.


"Saya itu suami kamu, saya tahu. kamu suka kan lihat tubuh saya,"Lucas merapatkan tubuhnya sama Rania yang sedang membelakanginya.


"Tuan, jangan begini, saya beneran tidak suka lihat badan anda, yang ada mata saya sakit tuan,"


Nih orang kenapa sih, makin hari, makin jadi sifat jailnya, tak tahu apa jantung saya bisa keluar nanti. jantung jangan bikin malu, kita kompromi kali ini aja, detaknya normal saja, nanti aku kasih yang segar-segar, bener deh.


"Heh, emangnya badan saya apaan, wanita lain di luar sana mengantri mau lihat atau bahkan cuma di sapa sama saya sudah jingkrak-jingkrak. kamu di bebaskan malah bilang buat mata sakit, jangan-jangan kamu gak normal ya,"Lucas membalikan badan Rania supaya menghadapnya.


Rania reflek menundukkan kepalanya begitu wajahnya berhadapan dengan tubuh kekar suaminya. jangan di tanya seberapa merah juga jantungnya yang menurutnya sudah tak sehat lagi karena berdetak dengan berlebihan.


"Rania, lihat saya,"Lucas mengangkat dagu Rania dengan telunjuknya supaya menatapnya.


Pandangan keduanya bertemu, otak Rania langsung ngebleng, dirinya tak tahu harus berbuat apa. sementara Lucas terus mendekatkan wajahnya pada wajah Rania, hembusan napasnya terasa hangat menerpa kulit wajah Rania. Rania langsung memejamkan matanya.


"Ngarep banget saya cium, dasar bocah,"Lucas meniup wajah Rania, lalu menjauh dari Rania.


Dasar setan, bikin orang jantungan, terus langsung menjatuhkan.


***Like, komen, vote nya juga ya, jangan lupa favoritkan, terima kasih🤗😘😘

__ADS_1


Buat yang nunggu malam pertamanya sabar zeyeng, nanti akan tiba waktunya oke***


__ADS_2