Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 143


__ADS_3

Setelah drama rumah tangga orang tuanya selesai, Lucas menggandeng mama serta istrinya masuk ke dalam rumah sakit, karena sudah mempunyai jadwal ketiganya langsung masuk ke ruang Dokter tanpa harus mengantri terlebih dulu.


"Suster, kenapa mereka bisa langsung masuk?"tanya seorang ibu yang sedang mengantri.


"Iya dus, padahal mereka baru datang, lah kita yang sudah satu jam mengantri gak bisa langsung masuk,"seru ibu lainnya.


"Aduh, maaf banget ibu-ibu, kalau pasien yang tadi sudah membuat jadwal sedari pagi sebelum praktek, lagi pula beliau termasuk orang penting di rumah sakit ini, apalagi Dokter kandungannya sepupu dari ibu tadi,"jelas suster yang bertugas di sana.


"Oalah, pantesan kalau gitu, mereka orang kaya ya, lah beda sama kita rakyat biasa, harus banyak sabar,"ucap ibu tadi.


Suster cuma tersenyum mendengar ucapan ibu-ibu di sana, setelah semuanya diam, ia melanjutkan kembali melihat data-data pasien yang akan di periksa.


Sedangkan di dalam ruang dokter, Rania sudah berbaring di atas brankar, Dokter Melda sudah mengoles perut Rania dengan gel untuk melakukan USG.


"gimana rasanya Ran, sebentar lagi baby-nya keluar, deg-degan gak?"tanya Dokter Melda.


"Lumayan tante, tapi aku berusaha tenang, apalagi ada suami siaga yang selalu nemenin kan,"sahut Rania.


Lucas tersenyum mendengar ucapan istrinya, tangannya tak lepas dari tangan Rania.


"Itu harus Ran, kalau suami kamu gak peduli, bilang aja sama mama, biar mama uyel-uyel dia,"ketus bu Renata.


"Tante, sadis banget sih sama anak sendiri, lagian aku yakin kalau Lucas itu suami yang baik, bertanggung jawab, tuh lihat aja tangannya bergandengan terus, padahal gak lagi nyebrang jalan kan."Dokter Melda meledek putra sepupunya itu sambil terus memutar alat USG di atas perut Rania.


"Kita romantis tante, jadi gimana keadaan bayinya , sehat kan tan?"tanya Lucas.


"Sehat, tapi tante saranin jangan banyak pikiran Ran, harus happy terus ya, apalagi kan sebentar lagi lahiran, jangan sampai banyak pikiran terus mempengaruhi kandungan kamu, nanti bahaya kalau bayinya keluar sebelum waktu,"papar Dokter Melda panjang lebar.


"Bisa gitu ya tante, apa gara-gara banyak pikiran akan mempengaruhi kandungan juga?"tanya Rania.


"Bisa, malah sering banget yang sampai stres terus berakibat fatal pada kandungannya, yakin gak mau lihat jenis kelaminnya?"


"Mau,"


"Nggak,"


Bu Renata sama Lucas menjawab bersamaan, tapi jawaban yang keluar dari mulut keduanya beda membuat dokter melda tertawa.

__ADS_1


"Aku jadi bingung, kalau kaya gini, coba yang kompak, mumpung belum selesai nih,"ujar dokter Melda.


"Ma, sabar aja ya, aku mau surprise nanti, jadi pas lahir tuh kita penasaran."Lucas menatap mamanya dengan wajah memohon.


"CK, ya udah lah, Mel, gak jadi lihatnya."Bu Renata berdecak sambil mendelik.


Rania tersenyum melihat mama mertuanya kesal, meski begitu tapi mamanya itu tetap menghargai keputusan Lucas.


Setelah selesai semua pemeriksaan, mereka bertiga langsung keluar dari ruang dokter, bu Renata berjalan di depan sedang di belakangnya Lucas merangkul bahu istrinya.


"Ma, papa udah di mana?"tanya Lucas.


"Masih di sana, nih kamu baca pesannya, dasar papa kamu itu, udah dibilangin jangan telat, masih aja telat."Bu Renata ngedumel sambil menatap layar ponselnya.


"Eum, kalau gitu boleh beli minum dulu gak ma, aku haus,"tanya Rania.


"Oh, ya sudah, kita tunggu papa di kantin rumah sakit aja, sekalian beli minum dulu,"sahut bu Renata.


Mereka langsung menuju kantin yang berada di lantai satu, tempatnya tak begitu jauh dari taman rumah sakit.


Lucas langsung mencari kursi yang masih kosong, setelah mendapatkan tempat, Lucas segera memesan minum untuk mereka bertiga.


"Mama, di pesenin juga kan?"


"Iya lah, aku kan baik sama mama,"sahut Lucas.


Bu Renata mendelik pada Lucas, matanya kembali fokus pada layar ponsel. Lucas memicingkan matanya ketika pandangannya tak sengaja melihat orang yang ia kenal sedang duduk di pojokan.


Ngapain dia di sini, jangan-jangan dia ngintai kita dari tadi, kalau iya kurang ajar banget kamu Shela!


"Sayang, wajah kamu kenapa?"tanya Rania tiba-tiba.


"Hah, emang wajah aku kenapa yang?"Lucas malah balik nanya bukannya menjawab.


"Gak papa sih, cuma terlihat sedang marah, soalnya berubah merah gitu yang,"jelas Rania.


Bu Renata mengangkat wajahnya guna melihat wajah putra semata wayangnya, ia merasa penasaran dengan ucapan menantunya.

__ADS_1


(Ma, Shela ada di pojok kantin, tapi jangan berlebihan melihatnya, takutnya membuat Rania syok atau takut)


Lucas menuliskan pesan pada mamanya, setelah selesai ia kembali menatap istrinya.


"Sayang, mau pesan makan tidak?"Lucas mengalihkan topik pembicaraan.


"Boleh?"


"Boleh dong, pesan apapun yang kamu mau sayang."Bu Renata langsung menyahut pertanyaan Rania.


"Hehe makasih ma, sayang, kalau gitu, aku langsung pesan sendiri aja ya. biar bisa milih,"ujarnya dengan riang.


"Iya, tapi hati-hati jalannya, pelan-pelan aja ya,"ucap Lucas.


"Siap bos, aku ke sana dulu ya, oh mama sama sayang mau pesan gak?"tanyanya.


"Nggak, kamu aja sayang, kita belum lapar kok,"jawab bu Renata.


"Masa aku makan sendirian, sayang pesan juga ya, biar aku ada temen makan."Rania menatap suaminya sambil berdiri, matanya terlihat lucu seperti anak kecil yang sedang memohon sama papanya.


"Iya, biasa aku tukang ngabisin makanan aja, nanti kamu pesan sesuka hati, kalau gak habis biar aku yang ngabisin,"kata Lucas.


"Yes, makasih sayang,"


Rania langsung bergegas menghampiri tempat pesan makanan, rasanya sudah terbayang makanan yang enak-enak, padahal dirinya sudah sarapan sama-sama saat di rumah tadi.


"Luc, apa dia sadar kalau kita ada di sini?"tanya bu Renata setelah Rania pergi.


"Kayanya gitu, dari tadi matanya tak lepas melihat ke sini terus ma, aku khawatir kalau dia sudah ngikutin kita dari tadi, terus berniat mencelakai kita,"jelas Lucas.


"Pokoknya kamu harus harus hati-hati, awasi dia jangan sampai lepas sebelum orang suruhan papa tiba,"kata bu Renata.


"Iya, mama tenang aja, aku susul Rania dulu, takutnya kenapa-napa dia,"balas Lucas.


Lucas langsung menyusul istrinya, ia khawatir kalau Shela akan mencelakai Rania. terlihat seorang wanita berjalan menuju istrinya sambil bermain ponsel tanpa melihat sekitar, sedangkan Rania sedang fokus melihat-lihat menu yang tertera di sana.


Perempuan tadi terlihat menubruk Rania yang sedang fokus, Lucas langsung berlari menangkap tubuh istrinya yang hendak jatuh gara-gara wanita tadi.

__ADS_1


"Sayang, hati-hati!"sentak Lucas sambil mendekap tubuh istrinya, telat sedikit saja tamat sudah badan Rania pasti tersungkur ke atas lantai dan itu tentu akan membahayakan Rania serta kandungannya.


"Kamu....


__ADS_2