
"Aku sengaja, kalau lihat kamu marah-marah tuh, aku suka, jadi tambah cantik sayang,"Lucas menarik hidung istrinya.
"Gombal, mana ada kaya gitu,"kata Rania.
"Bener sayang, kamu lucu kalau marah-marah, gemesin,"Lucas menciumi seluruh wajah istrinya. membuat Rania terkekeh kegelian.
"Udah sayang, aku mau masak dulu,"Rania turun dari pangkuan suaminya.
"Mau di bantuin gak?"Lucas menatap gerak gerik istrinya.
"Enggak, kamu mandi sana, atau mau aku siapkan airnya "Rania menghentikan kegiatannya lalu menoleh pada Sumani nya.
"Enggak usah cinta, aku bisa sendiri!"ucap Lucas.
"Ya udah, sana cepat, kenapa masih duduk di sini?"
"Sayang, aku mau deket kamu terus, rasanya gak mau jauh sama kamu,"Lucas bangkit dari duduknya.lalu memeluk Rania dari belakang.
"CK, lebay deh, cuma pergi mandi juga,"Rania berusaha melepaskan pelukan suaminya.
"Ko kamu ngomongnya gitu yang? gak mau deket-deket aku?"Lucas merenggangkan pelukannya.
"Bukan, kita gak pisah jauh kan,kalau jauh mah aku juga gak mau,"ucap Rania.
"Kita gak akan pisah jauh sayang, aku bakal bawa kamu kemana pun aku pergi,"terlihat senyuman Lucas sangat manis.
"Iya, sekarang kamu mandi, aku mau terusin masak dulu,"Rania mendorong suaminya menuju kamar lalu menutup pintunya.
"Ada-ada saja, tapi dia terlihat manis kalau gak marah-marah,"gumam Rania.
Rania meneruskan kegiatan yang tadi terus terganggu, senyum tak pernah lepas dari bibirnya, apakah ia sudah jatuh cinta sama suaminya, entahlah dirinya tak tahu tentang itu.
Di dalam kamar, Lucas langsung melucuti semua pakaiannya lalu masuk ke kamar mandi. ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin. tubuhnya bereaksi ketika Rania duduk di atas pangkuannya.waktu 20 menit ia habiskan untuk membuat tubuhnya nyaman.
Lucas menyambar handuk yang tadi ia bawa, lalu segera memakainya, ia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah airnya menetes melewati tubuh kekarnya.
Setelah menggunakan baju santai, yang biasa ia pakai saat tidur, Lucas keluar dari kamar sambil membawa handuk kecil ditangannya.
__ADS_1
Bibirnya langsung terangkat membuat sebuah senyuman ketika matanya melihat istri kecilnya sedang mencuci alat bekasnya memasak. di atas meja sudah tersaji makanan yang menggugah selera, meskipun cuma menu sederhana.
Lucas duduk di atas kursi, matanya tak lepas dari sang istri kecil yang terlihat cekatan menata barang dengan rapih.
"Eh, sejak kapan kamu di sana,"tanya Rania. dirinya tak menyadari suaminya karena terlalu fokus.
"Dari tadi, kamu fokus banget sampai gak sadar di lihatin orang ganteng,"kata Lucas.
"Kenapa kamu gak ngomong, aku kan nyangkanya kamu masih mandi,"Rania meraih handuk kecil dari tangan suaminya, lalu mengusap-ngusap rambut basah suaminya.
"Ternyata enak ya tinggal berdua, kenapa gak dari awal nikah aja kepikiran nya,"Lucas memeluk pinggang istrinya, wajahnya mengendus perut rania dari luar baju.
"Mana kepikiran, awal-awal nikah kan, kamu masih jahat sama aku,"ketus Rania.
"Sayang, kamu sakit hati banget sama sikap aku ya?"Lucas mengangkat wajahnya dari perut Rania, terus menatap wajah istrinya .
"Iya lah, kamu sering ngatain aku, terus sering ngehukum aku,"ucap Rania.
"Kamu beneran sakit hati?"tanya Lucas.
"Iya, kamu gak percaya?"Rania menghentikan tangannya yang masih mengeringkan rambut suaminya.
"Hahaha sayang, aku bercanda, aku gak pernah sakit hati, cuma kesel kalau kamu nindas atau bentak-bentak aku,"tawa Rania pecah melihat wajah sendu suaminya.
"Kamu makan duluan ya, aku mandi dulu,"Rania segera meninggalkan suaminya yang masih bengong melihat dirinya.
Tadi bilang sakit hati, tapi barusan dia bilangnya cuma bercanda, yang bener mana sih, bikin bingung kamu.
Lucas menunggu Rania selesai mandi, meskipun ia lapar tapi tak mungkin makan sendirian.
"Kenapa belum makan?"ucapan Rania membuyarkan lamunan Lucas.
"Nungguin kamu,"jawab Lucas.
"Padahal makan duluan aja gak papa-papa sayang,"Rania mengisi piring buat suaminya.
"Udah satu aja, aku mau di suapi sayang, tadi kan katanya di rumah,"Lucas menyeringai.
__ADS_1
"Ikh, siapa yang bilang coba,"ucap Rania. tapi dia tetap menyuapi Lucas bergantian dengan dirinya sendiri.
Makan malam kali ini terasa sangat menyenangkan buat pasutri muda itu, jika biasanya mereka terlihat kaku selain karena ada orang tuanya, tapi juga karena hubungan mereka yang masih seperti kucing dan anjing yang tak pernah akur. tapi sekarang perasaan keduanya sudah seperti orang yang sedang kasmaran, selalu nempel, dunia terasa milik berdua, yang baca cuma ngontrak itu juga belum bayar.
"Aku aja yang cuci piring sayang,"Lucas mengambil piring kosong dari tangan istrinya.
"Hah, kamu yakin? bisa emangnya?"Rania memandang suaminya dengan raut wajah tak percaya.
"Bisa, kamu meragukan suamimu sayang?"
Rania mengedikkan bahunya, mana bisa ia percaya begitu saja. selama ini suaminya itu segala di layani, dari makan bahkan sampai baju yang akan dia pakai.
"Eh, tapi tumben dia ngambil baju sendiri, biasanya kan suka marah kalau aku lupa nyiapkan baju gantinya."batin Rania.
"Sayang, sekarang percaya,"Lucas memberikan piring yang sudah bersih mengkilat pada Rania.
"Hah, kamu bisa, tapi kan, biasanya kamu segala tinggal pakai,"Rania membolak-balikan piring saking gak percayanya.
"Udah simpan, kita tidur, aku mau olahraga,"Lucas menyimpan piring yang Rania pegang. terus menggendong istrinya menuju kamar.
"Heh, katanya mau olahraga, kenapa malah ke kamar,"ucap Rania. tangannya memeluk erat leher suaminya karena takut terjatuh.
"Mau olahraga enak sayang, sama kamu,"Lucas membuka pintu kamar dengan kaki. lalu menaruh Rania di atas kasur empuk itu.
"Katanya gak akan maksa kalau aku belum siap?"perasaan Rania menjadi tak karuan,antara takut sama kaget.
"Aku gak bisa nahan lagi sayang, aku janji akan pelan-pelan ya,"Lucas membaringkan tubuhnya di samping Rania.
Lucas bangkit lalu mematikan lampu utama, menggantinya dengan lampu tidur dengan cahaya yang remang-remang, suasana kamar terasa jadi panas buat Rania, matanya menatap suaminya yang entah sejak kapan sudah berada di atasnya.
Mata keduanya saling menatap dalam, wajah Rania memerah, ia menatap suaminya dengan malu-malu.
Rania menutup matanya ketika wajah Lucas semakin dekat, hembusan napas suaminya terasa hangat menimpa kulit wajahnya, tak berapa lama bibirnya merasakan benda kenyal yang sangat lembut menyentuh bibirnya.
Jantung Rania berdebar kencang, ciuman kali ini terasa sangat memabukan, apalagi ketika ciuman suaminya berpindah menciumi lehernya, mati-matian ia menahan suara memalukan tak keluar dari bibirnya.
"Sayang.....
__ADS_1
Segini dulu ya kesayangan, otak aku beneran lagi gak di tempat sekarang, jadi kurang ngefeel kan. maaf kemarin gak up, lagi bikin tugas di KMO, deadline-nya udah mepet banget. besok malam panasnya oke😂😂😂