
Daniel sampai di rumah dengan selamat, meskipun sedikit terlambat karena tempat tinggal Firda sama rumah orang tuanya berlawanan arah.
"Nak, kenapa pulangnya telat, telpon kamu juga gak aktif, ibu khawatir,"Daniel sudah diberondong pertanyaan sama ibunya.
"Ibu, kenapa belum tidur?"Daniel balik nanya, ia menuntun ibunya supaya duduk di atas sofa.
"Mana ibu bisa tidur, dari tadi kepikiran terus. kamu kenapa telat nak?"Ibu Ninda bertanya kembali.
"Tadi, aku nganterin karyawan dulu bu, rumahnya berlawanan arah, makanya telat,"jelas Daniel.
"Karyawan?"beo ibu Ninda.
"Iya, tadi ada sedikit masalah, jadi aku terpaksa mengantarkan dia dulu bu, kasian,"
"Masalah apa? kenapa dia ada masalah, masalah apa emangnya nak?"tanya Ibu Ninda lagi.
Akhirnya Daniel menceritakan semuanya, termasuk kedatangan Lucas, sahabat semasa kuliahnya dulu. karena Lucas sering main ke rumah orang tuanya, bahkan Ibu Ninda sangat menyayangi Lucas.
"Kamu, ketemu anak ganteng itu, kenapa tidak di ajak ke sini, ibu kangen,"Ibu Ninda terlihat senang, tapi juga ada sedikit kecewa karena Lucas tak menemuinya.
"Ibu, aku juga ganteng lah, kenapa dari dulu ibu selalu nyebut Lucas anak ganteng?"Daniel pura-pura kesal sama ibunya.
"Emang kenyataannya begitu, Lucas lebih ganteng dari anak ibu, tapi tenang saja bedanya cuma sedikit kok,"Ibu Ninda terkekeh melihat anaknya merajuk, ia sudah tidak aneh lagi. karena dari dulu Daniel selalu begitu.
"Iyalah, terserah ibu aja, lagian dari dulu aku protes juga gak pernah didengar,"Daniel menyandarkan badannya pada sandaran sofa.
"Eh, kenapa gak diajak ke sini Lucas Nya, Ibu kangen sama anak itu,"tanya Ibu Ninda kembali.
__ADS_1
"Ibu, sekarang Lucas sudah menikah, terus istrinya lagi hamil, gak baik kalau main malem-malem,"sahut Daniel.
"Wah, astaga, kamu serius anak ganteng itu sudah nikah, pokonya ibu mau kamu membawa dia ke sini, sekalian sama istrinya. ibu mau lihat,"Ibu Ninda memukul tangan Daniel, ia seakan kurang percaya kalau Lucas sudah menikah.
"Iya, nanti kalau dia gak sibuk, pasti aku ajak ke sini, untuk bertemu ibu angkatnya,"Daniel menyindir ibunya.
"Harus itu, terus kamu kapan nak?"Ibu Ninda mengangkat jempolnya ke depan wajah Daniel.
"Kapan apa, maksud ibu?"Daniel menyipitkan matanya. ia bingung mendengar pertanyaan ibunya.
"Nikah, ibu juga pingin punya mantu, terus gendong cucu,"sahut Ibu Ninda.
"Bukannya ibu sudah punya cucu juga mantu dari Kak Sean?"Daniel menatap ibunya.
"Beda dong, lagian kaka kamu kan jauh, ibu jarang sekali ketemu, makanya buruan nyari calon istri, ibu mau ada teman di rumah nanti,"papar Ibu Ninda.
"Memastikan apa?"tanya Ibu Ninda. ia merasa penasaran, padahal anak bungsunya itu ganteng, kaya, banyak perempuan yang mengejar-ngejar, tapi Daniel sama sekali tidak merespon. pacaran pun cuma sekali, yang ia tahu.
"Memastikan kalau dia wanita baik, bisa nerima aku apa adanya, terus yang penting bisa menyayangi ibu sama ayah, jadi saat aku pergi nanti, aku tenang meninggalkan kalian,"ucap Daniel. wajahnya tiba-tiba sendu.
"Kamu, bilang apa sih, jangan bilang pergi. ibu gak mau ditinggal seperti sama kaka kamu, pokoknya kita harus di sini bareng-bareng,"
"Iya bu, ibu istirahat sana, udah malam, aku juga mau mandi gerah banget,"ucap Daniel.
"Iya, jangan berendam, mandinya pakai air hangat aja,"Ibu Ninda menepuk pundak Daniel sebelum bangkit dari duduknya.
Daniel ikut berdiri setelah ibunya berjalan menuju kamarnya, ia juga berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua. di sana ada beberapa kamar tapi yang terpakai cuma satu ya itu kamar yang dipakai Daniel.
__ADS_1
*****
Hari minggu pagi Lucas terpaksa harus pergi ke Surabaya, ada masalah yang tak bisa ia wakilkan sama orang-orang yang selama ini memegang cabang di sana.
Rania sedang menyiapkan perlengkapan untuk suaminya, sementara Lucas baru keluar dari kamar mandi.
"Sayang, maaf ya, kita gak jadi belanjanya, lain kali aku pasti temenin kamu deh,"Lucas menghampiri Rania yang masih menyusun baju-baju Lucas ke dalam koper.
"Iya, gak papa, lain kali masih bisa kok. kamu hati-hati di sana ya,"ucap Rania.
Setelah memastikan tak ada yang tertinggal, Rania segera membantu Lucas memakai bajunya, karena kalau tak dibantu laki-laki itu malah terus mengekori kemanapun Rania melangkah.
"Udah, sekarang kita sarapan dulu, kamu masih ada waktu kan yang?"tanya Rania. Lucas menatap jam yang melingkar pada tangannya.
"Bisa, kayanya Hendrik juga belum datang sayang,"sahut Lucas.
Keduanya keluar dari kamar, Lucas menarik kopernya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk merangkul bahu Rania.
"Loh, aden, non, pada mau kemana? kata non Rani kemarin mau menyicil perlengkapan dede bayi,"tanya bibi. ia menatap majikannya itu bergantian.
"Aku, paling nanti ke rumah temen aku bi, kalau Lucas, dia ada kerjaan di luar kota. untuk belanjanya mungkin lain waktu bi,"jelas Rania.
"Oalah, hati-hati di jalan den, silahkan sarapan, bibi udah masak makanan yang enak,"bibi mengambilkan piring untuk Rania juga Lucas.
"Bibi sekalian sarapan dong,"ajak Rania.
"Ah, bibi nanti aja non, masih ada kerjaan sedikit tuh di belakang, eh aden berapa hari di luar kotanya?"tanya bibi.
__ADS_1