Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 119


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Rania diam tak banyak bicara, Lucas menoleh ke arah istrinya.


"Sayang, mikirin apa?"Lucas mengusap kepala Rania.


"Hah, kamu nanya apa sayang?"tanya Rania. ia tidak fokus, jadi tak begitu jelas mendengar pertanyaan suaminya.


"Mikirin apa? dari tadi diam aja sayang,"tanya Lucas lagi.


"Aku, kasian banget sama Firda, kenapa nasibnya begitu malang ya, dulu aku masih punya ibu, meskipun serba kekurangan, tapi setidaknya ada tempat buat bersandar disaat aku sedih atau bingung,"jelas Rania.


"Sabar, aku yakin Firda juga pasti kuat, sama kaya kamu yang. kita harus yakin kalau semua kejadian pasti ada hikmahnya,"Lucas menggenggam tangan Rania, ia tak ingin istrinya itu banyak pikiran, apalagi kalau sampai berpengaruh pada kandungannya.


"Iya, semoga ada kebahagiaan buat dia di masa depan ya, sama kaya aku, Tuhan memberi aku kebahagiaan dengan menghadiahkan kamu buat aku,"Rania tersenyum manis.


"Nah, gitu dong, senyum, kan lebih cantik. kamu lagi hamil sayang, gak boleh banyak pikiran, oke,"Lucas mengacak rambut istrinya.


Keduanya tertawa, suasana ibu hamil itu mudah berubah-ubah, tapi Lucas bersyukur karena kehamilan istrinya itu tidak banyak drama seperti yang ia baca di google atau dengar dari orang-orang. mungkin ada sebagian ibu hamil yang seperti itu, tapi ia bersyukur karena istrinya tidak termasuk salah satu dari mereka, apalagi kalau sampai ingin mencium atau memeluk laki-laki lain, oh tidak akan pernah ia ijinkan itu terjadi.


Setelah sampai di rumahnya, Lucas segera menekan klakson, satpam yang biasa jaga di depan lagi gak ada di tempatnya.


Karena lama tak ada yang membuka gerbang, akhirnya Lucas turun untuk membuka gerbangnya. Rania tersenyum melihat Lucas yang sedang mendorong gerbang.


"Pak Mono kemana yang?"tanya Rania. Lucas menggeleng sebagai jawaban.


Begitu mobil masuk ke halaman rumah, terlihat pak Mono berlari sambil membenahi celananya, mungkin ia baru dari kamar mandi.


"Aduh, maaf banget den, tadi saya lagi di kamar mandi. saya kayanya kekenyangan deh,"ucap pak Mono.


"Iya, gak papa, emang kenapa sampai kekenyangan gitu pak?"tanya Lucas.


"Itu, tadi bibi ngasih saya makan banyak, katanya aden sama non Rani makan di luar, ya sudah langsung saya sikat habis den hehe...."laki-laki berusia setengah abad itu nyengir sambil garuk-garuk kepala.


"Ya sudah tidak apa-apa, saya masuk dulu pak,"Lucas langsung menggandeng Rania yang bersandar pada body mobil.


Bibi langsung menyambut keduanya, tanpa mengetuk pintu dulu, mereka langsung masuk karena pintu sudah terbuka dari dalam.

__ADS_1


"Bibi, belum tidur?"tanya Rania.


"Belum non, bibi masih nonton sinetron tuh, seru banget,"bibi menunjuk televisi yang masih menyala.


"Ya udah, aku sama Lucas ke kamar dulu ya bi, jangan lupa kunci pintu,"Rania meninggalkan bibi yang langsung kembali ke depan tv.


Rania membuka pintu kamarnya, terlihat Lucas sedang membuka switer, lalu menyimpan di atas sofa.


Rania mendelik,"sayang, simpan ditempatnya dong, masa di sini,"ucapnya. ia langsung mengambil barang, terus langsung menggantung di tempat biasanya.


"Maaf sayang, lupa,"Lucas nyengir melihat istrinya kesal. menyimpan barang sembarangan adalah kebiasaan yang susah dihilangkan.


"Ya, lagian udah biasa juga kan,"ucap Rania dengan datar.


Lucas tidak menjawab, hal itu bukan yang pertama dapat omelan dari sang istri, tapi tetap saja besoknya akan seperti itu lagi.


****


Firda merasa bingung, ia masih berdiri di samping mobilnya Daniel.


"E...ngga, saya bisa buka sendiri pak,"Firda dengan perasaan ragu-ragu membuka pintu mobil lalu duduk di samping kemudi.


"Nanti kamu tunjukan jalannya!"ucap Daniel.


"Iya, pak,"


Daniel mulai melajukan mobilnya, ia keluar dari parkiran khusus untuk mobil dirinya selaku pemilik restoran itu. sementara Firda ia duduk sambil melihat keluar jendela.


Daniel melirik Firda dengan ujung mata. melihat wajah Firda dari dekat mengingatkan ia sama adik temannya dulu.


"Kalau baju kamu tidak nyaman, mending ganti pakai kaus saya,"Daniel melihat Firda mengusap-ngusap baju yang kena noda makanan.


"Euh, gak usah pak, lagian sebentar lagi sampai kostan kok,"Rania menolak, ia merasa tak enak karena terlalu banyak merepotkan bosnya.


"Sudah berapa lama kamu keluar dari rumah keluarga kamu?"tanya Daniel.

__ADS_1


Kenapa gue jadi kepo sama kehidupan orang ya?


"Beberapa bulan lalu pak,"sahut Firda.


"Kamu, yakin kalau kamu itu cuma anak angkat, lagian yang bilang kamu anak angkat itu bocah yang tadi, apa ucapannya bisa dipercaya?"Daniel melirik Firda.


"Eum, awalnya saya juga gak percaya pak, tapi dia memperlihatkan surat adopsi saya. setelah melihat itu, saya percaya,"lirih Firda.


"Apa selama ini kamu tak merasa ada yang beda, atau bagaimana perlakuan mereka sama kamu,"


"Enggak, makanya pas pertama kali Fabian bilang kalau saya cuma anak pungut itu gak percaya, karena selama ini mama sama papa itu baik banget sama aku,"Firda menahan air matanya supaya tidak jatuh.


"Aneh juga ya, mungkin orang tua kamu berbuat seperti itu sengaja,"


"Sengaja... gimana maksud bapak ya, saya tidak mengerti,"Firda menatap Daniel dari samping.


"Ya supaya kamu tidak menyadari kalau kamu cuma anak angkat, jadi mereka memperlakukan kamu dengan sangat baik, seolah kamu itu anak kandung,"jelas Lucas.


Firda mangut-mangut mendengar ucapan Daniel,"bisa juga pak kaya gitu, saya berharap semua itu cuma mimpi, tapi ini beneran kenyataan,"


Setelah itu keduanya diam, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Firda masih bingung untuk kedepannya ia akan berbuat apa.


"Apa selama mereka di sana kamu pernah menghubungi, atau bertanya tentang semua kebenaran itu?"tanya Daniel tiba-tiba.


"Ponsel mereka tak pernah bisa dihubungi pak, lagipula saya berpikir kalau bertanya melalui telpon pasti mereka tidak akan bicara jujur, saya maunya langsung biar saya yakin,"papar Firda.


"Benar juga, terus setelah ini kamu mau bagaimana?"


"Maaf pak, itu kosan saya, terima kasih sudah mengantar, maaf atas kekacauan tadi. buat ganti ruginya bapak bisa potong gaji saya saja pak,"Firda menunjuk kostan yang berjejer di depannya. tempatnya sangat sederhana.


"Iya sama-sama,"ucap Daniel.


"Selamat malam pak, hati-hati di jalan,"Firda menutup pintu mobil Daniel setelah turun dari mobilnya.


Setelah Firda masuk ke dalam kosannya, Daniel segera melajukan mobilnya untu pulang ke rumah orang tuanya. memang selama ini ia masih tinggal bersama keluarganya, pernah meminta ijin untuk tinggal di apartemen, tapi ayah sama ibunya melarang, ia sebagai anak bungsu harus tetap di rumah karena kakaknya sudah menikah dan tinggal di luar kota.

__ADS_1


Maaf ya upnya cuma satu, tadi ada kesibukan sedikit. marhaban ya ramadhan selamat menjalankan puasa bagi yang melaksanakan ya🙏🙏


__ADS_2