
Lucas mengandeng istrinya ke depan, mobilnya sudah siap di depan rumah, ia tadi meminta sopir untuk mengeluarkan mobilnya dari garasi.
"Jangan lupa nanti siang ya, mumpung jadwal aku gak padat sayang,"ucap Lucas.
"Iya, aku sama bibi nanti naik taksi aja ya, kan pulangnya bakal sama kamu,"sahut Rania.
"Iya, tapi hati-hati, minta sopirnya nyetir pelan-pelan,"ujar Lucas.
"Iya sayang, kamu juga hati-hati ya,"
Lucas mengecup kening Rania sebelum masuk ke dalam mobil, tak lupa ia mengusap perut buncit sang istri.
"Baik-baik di rumah, jagain bunda baby."Lucas mengusap perut Rania.
"Ciap, ayah!"Rania menjawab sambil menirukan suara anak kecil.
"Ya udah, aku berangkat sayang,"ucap Lucas.
Rania melambaikan tangan ketika mobil mulai keluar dari halaman rumahnya, setelah itu, ia langsung masuk ke dalam rumah.
"Bibi, nanti ikut aku ya. kita belanja buat baby kalau udah lahir."Rania menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kursi makan.
"Belanja lagi non? kan kemarin udah belanja sama nyonya,"tanya bibi.
"Beda bi, itukan dari neneknya, nanti ayahnya yang beliin, lagian kemarin baru beberapa sih, masih banyak yang belum ke beli,"jelas Rania.
"Bibi mah, siap wae atuh non, apalagi diajak belanja,"
"Masa, tapi kemarin bibi langsung pulang waktu belanja sama mama?"
"Malu atuh non, kalau sama nyonya bibi suka bingung mau ngapa-ngapain, makanya kemarin bibi langsung minta pulang aja,"jelas bibi.
"Malu kenapa? mama baik tahu bi, jadi gak usah malu segala."Rania geleng-geleng kepala, ia sudah tahu sifat mama mertuanya, meskipun orang kaya. tapi sifatnya sangat rendah hati.
"Ya iya, tapi tetap saja non, bibi malu,"
"Kalau sama aku gak malu bi?"tanya Rania.
__ADS_1
"Nggak, kalau sama non kita kan bareng-bareng terus, apalagi non Rania baik banget gak sombong,"jelas bibi.
"Harus nyombongin apa coba aku, bibi ada-ada saja,"ucap Rania.
"Ya namanya majikan non, bibi pernah loh kerja, terus kan majikan bibi itu nikah sama anak pembantu sebelumnya, setelah nikah tuh jadi sombong banget kalau nyuruh tuh sambil bentak-bentak, salah sedikit aja langsung bilang mau dipecat ya,"
"Eum, kenapa bisa menikah sama anak pembantunya bi?"Rania merasa penasaran, ia jadi ingat sama kisahnya sendiri.
"Kata sopir di sana, ibunya perempuan itu menyelamatkan majikan perempuannya, sampai beliau meninggal karena menolong itu, jadi buat balas budi ya menikahkan anak perempuan itu sama anaknya,"papar bibi.
"Ya ampun, bisa gitu ya bi, terus bibi kenapa berhenti kerja di sana?"
"Iya, bibi gak betah non, tiap hari harus mengerjakan ini itu, tanpa istirahat, mana dibentak-bentak lagi, dia merasa sudah jadi nyonya makanya berlaku seenaknya, jauh banget sama non Rania,"
"Tiap orang kan beda-beda bi, lagian aku juga sama bibi kok, cuma orang biasa, mungkin lebih miskin aku, cuma dibesarkan sama seorang janda miskin."Rania tersenyum pada bibi.
Menurutnya tak ada yang pantas di sombong kan, ia sadar siapa dirinya. kalau gak dinikahi Lucas statusnya sama kaya bibi. Rania senang bisa dekat sama bibi, serasa punya ibu yang dekat dengan dirinya.
"Iya, makanya bibi betah banget kerja sama non Rani, bibi berdoa semoga rumah tangga non selalu harmonis, mesra, dijauhkan dari cobaan yang berat-berat non,"
Menantu dan majikan itu ngobrol akrab seakan tak ada jarak diantara mereka berdua, Rania sudah menganggap bibi sebagai ibu kandungnya. tapi bukan berarti sampai melupakan bu Lilis yang berada di kampung.
beliau tetep ibu ratu dihatinya.
Di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah sederhana Shela sedang bersiap-siap untuk bekerja, ia menjadi SPG disalah satu pusat perbelanjaan, dirinya terpaksa bekerja karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. setelah pulang dari luar negeri Shela harus banting tulang sendiri, Maminya selalu marah-marah kalau tak diberi uang.
"Kamu, sudah siap Shel?"tanya maminya.
"Siap mi, kenapa nanya-nanya?"
"Mami mau minta uang, kamu masih ada kan?"
"Ngga, lagian kenapa uang terus yang mami pikirin, aku capek Mi, capek!"teriak Shela.
"Heh, sudah berani kamu teriak-teriak sama Mami?"
Shela tak menjawab, ia langsung menyambar tas kecil yang tergeletak di atas meja, hatinya capek karena terus jadi sapi perah maminya, bahkan maminya memaksa jadi wanita nakal atau simpanan om-om hanya karena uang. setelah meninggalkan Lucas, Shela menjadi simpanan seorang bule di Amerika. awalnya ia berat meninggalkan laki-laki yang menjadi pacarnya itu, tapi ia juga tak bisa memungkiri kalau dirinya jatuh cinta sama David, laki-laki yang mengajaknya kenalan saat sedang liburan di bali. keduanya semakin intim saat David ada kerjaan di Jakarta, keduanya sering menghabiskan waktu berdua padahal Shela masih pacaran sama Lucas.
__ADS_1
Mengetahui David lebih kaya dari Lucas, karena waktu itu perusahaan orang tuanya Lucas belum berkembang seperti sekarang, Shela akhirnya ikut David ke Amerika dengan dijanjikan akan dinikahi, padahal keluarga David sudah menjodohkannya sama seorang model dengan kewarganegaraan yang sama dengan David. akhirnya Shela hanya menjadi simpanan seorang pengusaha muda itu.
Lucas melirik jam yang melingkar ditangannya, setelah memeriksa kembali berkas-berkas yang sudah ia tanda tangani, dirinya melakukan panggilan pada sekertaris nya.
"Iya pak, apa bapak memerlukan sesuatu?"tanya Wina.
"Nggak, ini berkas sudah saya tanda tangani semuanya, nanti bilang sama Hendrik kalau ada meeting di luar!"Lucas menyerahkan setumpuk kertas pada Wina.
"Iya pak,"
Setelah itu Wina langsung keluar dari ruangan Lucas, sedangkan Lucas membuka ponselnya sambil menunggu Hendrik datang. iseng-iseng Lucas membuka akun instagram yang jarang sekali ia buka, bahkan setelah menikah hampir tak pernah ia buka.
Matanya memperhatikan setiap foto yang pernah ia posting di sana, banyak foto-foto dirinya saat masih kuliah, juga foto dirinya bersama Shela, bukan belum move on, tapi dirinya tak pernah melihat foto itu, Lucas langsung menghapus semua foto yang menurutnya tidak penting, untungnya ia tidak memfollow sang istri jadi dia merasa yakin kalau Rania tak tahu masih ada foto masa lalu dirinya bersama mantan kekasih.
Padahal Rania sudah melihat ketika Serly bilang tentang masa lalu Lucas, ia mencari tahu sendiri karena penasaran, tapi Rania tak mempermasalahkan sama sekali, ia tak ingin ribut hanya karena masa lalu.
Setelah Hendrik siap, keduanya langsung berangkat menuju cafe tempat meeting, Hendrik membawa berkas juga laptop yang diperlukan untuk meeting nanti.
"Setelah meeting, gue gak balik ke kantor lagi, kerjaan udah gue beresin tadi, jadi mending lo bawa mobil sendiri."Lucas langsung menuju mobilnya sendiri setelah memberitahu Hendrik.
Akhirnya keduanya berangkat menggunakan mobil yang berbeda, mereka sampai hampir sama dengan orang yang akan melakukan meeting, mereka bertemu di pintu masuk cafe yang di maksud.
Setelah setengah jam, akhirnya mereka mencapai kesepakatan kerja sama, rekan bisnisnya itu mengajak makan sebagai tanda jadi kerja sama, tapi Lucas menolak dengan alasan istrinya sudah menunggu, ia meminta Hendrik untuk tetap di sana menerima niat baik rekan bisnisnya.
Setelah menanyakan Rania sudah dimana, Lucas ke kamar toilet sambil menunggu istrinya yang sebentar lagi sampai. ketika telah selesai ia langsung keluar dari toilet. ia berjalan menuju lantai tiga tempat peralatan bayi, di sana juga ada beberapa toko baju-baju perempuan. Lucas berniat mengganti waktu saat dirinya tak jadi mengajak istrinya belanja, karena masalah kerjaan.
Ketika melangkahkan kakinya dari eskalator, seorang wanita langsung menghalangi langkah kakinya.
"Kamu, Lucas kan, pacar aku?"tanya wanita yang tak lain adalah shela.
"Jangan mimpi, saya bukan pacar kamu!"sentak Lucas. rupanya benar mamanya bilang kalau perempuan itu kerja di sana.pikirnya
"Lucas, aku kangen banget sama kamu, aku udah tanya-tanya sama tante Rena, tapi beliau malah marah sama aku."Shela langsung memeluk tubuh Lucas, ia tak peduli jadi tontonan orang-orang yang lewat.
Sementara Rania sedang bersenda gurau sama bibi, ia segera mengajak bibi untuk naik ke lantai tiga karena suaminya sudah menunggu.
__ADS_1