
"Sekarang, jelaskan siapa Kevin yang?"Lucas langsung meminta penjelasan sama Rania begitu selesai nelpon ibu Lilis.
"Itu...
"Bos, kenapa mak lampir marah-marah sehabis keluar dari ruangan lu?"tiba-tiba Hendrik masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Mak lampir siapa mas?"Rania menatap Hendrik yang sedang berdiri di depannya.
"Itu, maksud aku Serly, Ran,"Hendrik menggaruk kepalanya.
"Oh, tante Serly hebat ya, panggilannya banyak,"ucap Rania.
"Maksudnya?"Lucas menatap Rania yang duduk di sampingnya.
"Enggak, ada maksud apa-apa ko,"Rania memalingkan wajahnya dari Lucas.
Rania masih ingat waktu ngobrol sama mama Renata kalau beliau menyebut Serly dengan sebutan ulat bulu. terus sekarang Hendrik manggil dengan mak lampir, yang ia tahu kalau mak lampir peran seorang wanita jahat dengan wajah yang menyeramkan.
"Tadi, mereka pelukan di sini mas Hen, tapi aku keburu datang,"Rania melirik Lucas dengan ujung matanya.
"Serius? kamu menghianati Rania Luc?"Hendrik membentak Lucas.
"Jangan sembarangan, gue masih normal. jadi, masih bisa membedakan mana berlian mana batu kerikil,"Lucas mendengus mendengar bentakan Hendrik.
"Baguslah, tadinya gue udah senang, kalau beneran loe selingkuh,"kata Hendrik.
"Kenapa? mas Hen senang kalau aku sakit hati?"mata Rania mengembun mendengar ucapan laki-laki yang sudah ia anggap kaka sendiri.
"Bu-bukan, jangan nangis dong, nanti aku belikan es campur,"Hendrik mendekat ke arah Rania.
"Ck, cuma es campur, gue sanggup belikan sama tempatnya sekalian. jangan sembarangan sentuh istri gue,"Lucas menepis tangan Hendrik yang sedang mengusap air mata Rania.
"Sombong,"cibir Rania.
Hendrik meninggalkan ruangan Lucas setelah diusir pemiliknya karena terus mendekati istrinya.
"Ganggu aja, sekarang jelaskan siapa Kevin yang, kenapa kamu tadi muji-muji dia, emang ada laki-laki lain yang lebih ganteng dari suami kamu ini,"kenarsisan Lucas mulai keluar lagi.
Rania menarik napas panjang sebelum mulai bercerita.
__ADS_1
Flashback
Dengan langkah lunglai, Rani memasuki rumah sederhana tempat ia tinggal bersama ibunya. jarak sekolah yang lumayan jauh Rania tempuh dengan jalan kaki. bukan tidak mau ia menaiki angkutan umum atau membawa kendaraan sendiri seperti teman-temannya, tetapi keadaan ekonomi yang pas-pasan, bisa makan aja sudah bersyukur banget.
"Assalamualaikum,"Rania membuka pintu rumah yang catnya sudah pudar karena dimakan usia.
"Waalaikumsalam, kamu sudah pulan Ran?"bu Lilis keluar dari warung kecil samping rumahnya ketika mendengar suara Rania.
"Sudah, sebentar ya bu ratu, aku istirahat sebentar,"Rania duduk di depan pintu.
"Masuk, perawan gak boleh duduk di sini,"ibunya Rania menarik kaki Rania yang mengahalangi jalannya.
"Kenapa? di sini enak bu adem,"Rania malah berbaring bukannya pindah.
"Pamali, nanti jodoh kamu diambil tetangga, kalau jodohnya jelek, miskin gak apa-apa, gimana kalau ganteng terus kaya, kan sayang, ibu gak bisa cuci mata meskipun cuma sama mantu,"bu Lilis terkekeh. tangannya menarik kaki Rania.
"Jangan, percaya tahayul bu, kalau diambil tetangga berarti itu laki bukan jodoh aku,lagian cuci mata sama mantu, ibu nyari dong aya baru buat aku,"ucap Rania. tapi tak urung ia juga langsung bangun dalam hati kecilnya ada rasa takut apalagi membayangkan itu benar terjadi.
"Ya, tak ada salahnya kita menghindari Ran, sebenarnya sudah banyak yang ngantri sih mau jadi ayah kamu, cuma ibu harus pilih-pilih dong, gak sembarangan,"bu Lilis membusungkan dadanya.
"Udah ah, kalau kelamaan ngobrol sama ibu bisa-bisa ketularan kurang aku,"Rania mengambil tas yang tergeletak di atas lantai.
"Kurang waras,"teriak Rania dari dalam rumah.
"Dasar, anak kurang jajan,"gerutu bu Lilis. ia ikut masuk ke dalam rumah setelah memastikan tak ada orang yang akan berbelanja.
Rania keluar dari kamarnya setelah mengganti pakaian seragamnya dengan baju sehari-hari. ia duduk di atas karpet lusuh. di sana sudah tersaji dua piring nasi sama tempe goreng sebagai lauknya.
"Kita makan dulu Ran, ibu gak jadi beli ayam tadi, jadi cuma ada tempe,"bu Lilis duduk berhadapan sama anak semata wayangnya.
"Kenapa, gak jadi bu?"Rania mulai menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
"Habis tadi,"jawab bu Lilis.
"Habis awyamnya?"tanya Rania dengan mulut penuh nasi.
"Telan dulu, baru nanya,"ketus bu Lilis, kebiasaan Rania selalu bicara saat mulutnya penuh makanan.
"Iya, maaf bu, kebiasaan, jadi, habis ayamnya ya bu?"Rania menyendok kembali nasi dari piringnya.
__ADS_1
"Bukan, habis uangnya tadi sisa belanja cuma ada empat ribu, jadi ya sudah beli tempe aja 2500,"jelas bu Lilis.
"Terus 1500 lagi beli apa?"kening Rania mengerut mendengar ucapan ibunya.
"Ya, ibu bawa balik, buat bekal kamu besok Ran,"jawab bu Lilis.setelah itu ia meneguk air putih dari gelas sampai tandas.
Maafin aku bu, aku belum bisa bahagiain ibu, apalagi meringankan beban ibu. aku cuma bisa merepotkan ibu.
"Ran, kenapa malah bengong? belum kenyang ya, minum air putih aja ya, soalnya nasinya cuma ada sedikit lagi buat malam nanti,"bu Lilis mengibaskan tangannya di depan muka Rania.
"Ah, aku udah kenyang bu, makanya bengong saking kenyang nya aku,"Rania tersenyum meyakinkan ibunya.
"Baguslah, oh iya, tadi ada surat buat kamu,"bu Lilis bangkit menuju kamarnya.
"Tadi, Kevin ke sini, nitip surat buat kamu,"bu Lilis memberikan surat itu ketangan Rania.
"Surat lagi, padahal aku gak pernah balaskan bu,"
"Iya, dia juga bilang tadi, meskipun tak pernah dibalas, tapi dia tak akan menyerah,"bu Lilis duduk ditempatnya tadi.
"Bu, aku gak mau terus dibilang merebut pacar orang, ibu tahukan kalau bang Kevin sudah dijodohkan sama Viola, aku malas berurusan sama dia, makanya aku gak pernah merespon bang Kevin,"jelas Rania.
"Ibu tahu, tapi ibu juga gak bis nolak kalau dia nitipin surat atau apa pun buat kamu,"kata bu Lilis.
Rania menyimpan surat itu di atas meja kecil di sampingnya. setelah itu ia bergegas mencuci piring bekas makan di belakang. kamar mandinya berada di luar rumah, di sana juga ada tempat mencuci yang terpisah dari kamar mandi.
Setelah selesai Rania mengambil surat yang tadi ia simpan, lalu membawanya ke dalam kamar menyimpan tanpa membacanya. ia tak mau ada masalah lagi dalam hidupnya. cukup kemiskinan aja yang membuatnya sedih, ia tak mau menambah dengan hal-hal yang gak penting.
Awalnya Rania senang ketika Kevin cucu nek Rosma tetangganya memberinya surat atau benda lain, seperti boneka atau makanan tiap ia berkunjung ke rumah neneknya itu. orang tua Kevin menetap di jakarta karena mereka punya beberapa usaha.
Suatu waktu ia dibully habis-habisan sama wanita yang mengaku pacar Kevin, bahkan Viola mengatakan kalau mereka sudah tunangan. Rania sampai disiksa sama teman-teman Viola yang berkuasa disekolah. sampai akhirnya ia tahu dari nek Rosma kalau Kevin dijodohkan sama orang tuanya. orang tua Kevin sama Viola sahabatan jadi mereka menjodohkan anak-anaknya meskipun Kevin menolak.
Sejak saat itu Rania selalu menolak ketika Kevin menemuinya ketika berkunjung ke rumah nek Rosma. ia juga tak pernah membaca surat yang Kevin titipkan kepada ibunya. Rania lebih mengutamakan pendidikan, setelah menitipkan surat itu Kevin tak pernah datang lagi ke rumah nek Rosma. Rania tak pernah tahu kenapa ia juga tak tahu isi surat terakhir yang Kevin berikan kepadanya karena ia tidak membacanya.
Flashback off
"Jadi, gitu ceritanya yang, beberapa tahun kita tak ketemu. terus tadi kita ketemu, aku gak ngenalin dia karena wajahnya berubah, atau mungkin aku lupa karena sudah beberapa tahun gak ketemu,"Rania menutup ceritanya.
Lucas menatap Rania dengan lekat, bibirnya belum mengeluarkan sepatah katapun membuat Rania bingung juga takut.
__ADS_1