Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 125


__ADS_3

Rania menggeliat, pinggangnya terasa berat seperti ada yang menindih. matanya terbuka sedikit demi sedikit, ia langsung menghempaskan tangan yang memeluknya.


"Kenapa sayang, kok di tepis gitu sih?"ucap Lucas. suaranya serak karena baru bangun tidur.


"Ah, aku kira siapa tadi, kamu ngagetin sih, katanya bakal nginap di sana,"Rania menatap Lucas. tangannya mengusap wajah suaminya dengan lembut.


"Emang, kamu pikir siapa cantik, ada-ada kamu,"Lucas mencium tangan Rania yang sedang mengelus pipinya.


"Ya takut aku, kamu bilangnya bakal nginep kan sayang, makanya pas ada yang meluk jadi kaget. kamu pulang jam berapa emangnya?"tanya Rania.


"Gak tau, pokoknya udah lewat tengah malam kayanya, mending temani aku tidur lagi sayang,"Lucas menarik tubuh Rania supaya berbaring kembali.


"Tapi, aku mau bikin sarapan yang, ada mama,"ucap Rania. tapi ia mengikuti Lucas untuk berbaring di samping suaminya.


"Biarkan saja, kan ada bibi yang bikin sarapan, aku mau meluk kamu,"kata Lucas. akhirnya Rania menuruti Lucas, ia membiarkan suaminya itu memeluknya.


Keduanya tidur kembali dengan nyenyak, tak peduli dengan apa-pun, padahal di luar bu Renata sudah bangun dan sedang membantu bibi untuk bikin sarapan.


Sementara Hendrik masih tertidur pulas karena tidur sangat larut, ditambah dengan badan yang terasa capek.


"Bibi, anak-anak pulang jam berapa ya?"tanya bu Renata.


"Aduh, bibi gak tau nyonya, semalam bibi pulas banget tidurnya, jadi sedikitpun tidak mendengar suara mobil den Lucas, tapi pas tadi mau beres-beres, eh pas buka pintu kamar tamu ada den Hendrik lagi tidur,"jelas bibi.


"Sama kalau gitu, saya juga tidak dengar bi, mungkin Rania tau bi,"ucap bu Renata.


"Iya, soalnya, kalau den Lucas belum pulang tuh non Rani suka nunggu, meskipun sudah larut malam,"


"Padahal tidur aja, ngapain ditungguin sih, harusnya dia itu banyak istirahat, oh iya bi, nanti kalau bibi merasa ada yang beda dari Rania atau Lucas, langsung kasih tau saya bi,"


"Maksudnya, gimana nyonya?"bibi mengerutkan keningnya. ia tak mengerti maksud bu Renata apa.


"Ya, kalau mereka saling diam, pokoknya gak seperti biasa gitu, bibi langsung telepon saya, nanti saya kasih imbalan ya,"kata bu Renata. suaranya terdengar serius.

__ADS_1


"Iya nyonya, siap,"


Bu Renata tertawa melihat bibi mengangkat tangan, pikirannya tidak tenang karena kepikiran ucapan wanita di super market kemarin. tapi satu sisi ia yakin kalau anak semata wayangnya itu tidak akan tergoda sama barang murahan di luar sana.


Semua makanan sudah siap di atas meja, bu Renata menuju kamarnya untuk bersih-bersih karena beres masak, sementara bibi langsung mencuci peralatan bekas memasak barusan.


****


Di lain tempat, Firda sudah siap dengan out fitnya untuk kuliah, ia sengaja berangkat lebih awal karena ia punya beberapa tugas yang akan ia kerjakan di kampus nanti.


Setelah semuanya selesai, ia langsung keluar sambil menenteng tas berisi laptop juga beberapa buku, setelah mengunci pintu Firda segera ke depan untuk menunggu angkot lewat, sekarang ia sudah biasa mengunakan kendaraan umum itu.


Begitu sampai di pinggir jalan raya, matanya melihat ada mobil Daniel sudah terparkir di dekatnya.


"Selamat pagi, Firda,"sapanya. Daniel membuka kaca mobilnya.


"Ah, selamat pagi juga pak, bapak pagi-pagi sudah ke sini, ada apa ya pak?"tanya Firda. ia takut kalau Daniel akan menyuruhnya kerja sekarang, bukannya tidak mau, tapi sekarang ia benar-benar tak bisa, ada tugas yang harus segera diserahkan pada dosennya.


"Oh, saya kebetulan lewat aja, kamu mau berangkat?"tanya Daniel.


"Akh, sial! kenapa harus buru-buru sih,"Daniel mengumpat, ia cuma bisa menatap Firda yang sudah mulai menjauh.


Akhirnya Daniel pergi dengan perasaan tak menentu, padahal ia akan membicarakan sesuatu yang penting.


Firda menatap mobil Daniel dari dalam angkot yang sedang melaju.


"Ngapain pak Daniel ya, apa akan nyuruh aku kerja sekarang,"gumam Firda.


"Aduh, kalau nanti dipecat gimana, gue kerja apa buat makan sama bayar kostan,"


Firda menggigit kukunya, ia bingung sekarang, apalagi tadi dia langsung pergi tanpa mendengarkan Daniel dulu. sepanjang perjalan pikirannya tidak tenang karena memikirkan Daniel.


Sesampainya di kampus, Firda langsung masuk ke dalam kelas untuk mengerjakan tugas yang belum selesai, setelah Rania cuti, Firda berteman sama siapa aja, tapi tak terlalu dekat seperti waktu sama Rania sampai kemana-mana harus berdua. sekarang ia cuma waktu di kelas aja berteman kalau diluar cuma sekedar see hai aja gak lebih. apalagi sekarang dia harus kerja untuk memenuhi semua kebutuhannya.

__ADS_1


"Firda, dipanggil pak Burhan,"ucap Maya. teman salah satu temannya.


"Hah, yang bener?"Firda mengangkat wajahnya.


"Iya, lagian udah biasa kan, paling masalah uang semester. lagian kenapa kaget, orang tua kamu masih kaya raya kan?"selidik Maya.


Firda tidak menjawab, ia bingung harus dapat uang darimana untuk bayar semesternya. memang teman-teman di kampusnya tak ada yang tau tentang masalah yang sedang menimpa dirinya, cuma Rania yang tau.


"Apa, aku minjam sama Rania aja ya, terus nanti aku cicil tiap gajian di restoran,"batinnya.


"Fida, kok malah bengong sih?"sentak Maya.


"Eh, maaf May, tadi aku...


"Morning class,"sapa Kevin. ucapan Firda langsung terhenti karena dosen Kevin sudah masuk.


"Morning, sir"


"Oke, untuk tugas yang minggu kemarin, nanti kumpulkan sama penanggung jawab kelas, seperti biasa ya,"


Pelajaran pun dimulai, tapi pikiran Firda tidak tenang. dari mana ia akan dapat uang buat bayar kuliahnya. niat untuk meminjam sama Rania ia batalkan karena merasa tak enak sama suaminya. meskipun ia yakin kalau sahabatnya itu pasti akan menolongnya.


Akhirnya kelas sudah selesai, Firda langsung membereskan buku-buku serat laptopnya, beruntung ia tidak meninggalkan laptop itu di rumah orang tua angkatnya, tapi kalau nanti terbukti dirinya cuma anak angkat ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan mengembalikan benda itu.


"Firda maharani, setelah ini datang keruangan saya, ada hal yang ingin saya sampaikan,"ucap Kevin. Firda menatap sejenak orang di depan itu, lalu mengangguk mengiyakan.


"Sayang, nanti anterin aku pulang ya, mobil aku masuk bengkel,"ucap Violla tunangan Kevin.


"Naik taksi aja, saya masih banyak kerjaan,"ketus Kevin, ia langsung keluar dari kelasnya.


"Heh! kalau sampai lo macam-macam sama calon suami gue, habis lo nanti!"ancam Violla pada Firda.


"Aduh, maaf ya, saya bukan perebut laki orang kaya anda, lagian pak Kevin juga buka tipe saya, makanya jagain kalau punya laki,"bisik Firda. ia langung keluar menyusul Kevin yang sudah lebih dulu.

__ADS_1


Segini dulu ya, komen yang banyak dong, biar aku rajin upnya, soalnya suka tambah semangat kalau banyak like juga komen, makasih🤗


__ADS_2