Dinikahi Majikan

Dinikahi Majikan
part 41


__ADS_3

Semua keluarga sudah duduk di ruang makan, terlihat Rania sudah duduk di samping suaminya. tangannya begitu cekatan melayani sang suami sesuai ucapan sang ibu ratu, meskipun enggan, Rania berusaha tak menampakan itu di depan seluruh keluarga suaminya dan juga ibunya sendiri.


"Ibu, mau makan sama apa?"setelah selesai mengambilkan makanan untu suaminya, Rania bertanya sama ibunya.


"Tidak usah, ibu bisa ngambil sendiri Ran, mending kamu juga makan,"bu Lilis menolak Rania yang akan mengisi piringnya.


Akhirnya Rania mulai menyuapkan makanan, rasa canggung sangat terasa karena dirinya belum terbiasa. biasanya dirinya yang melayani keluarga itu, tapi sekarang dirinya di layani. ada rasa tak enak sebenarnya yang ia rasakan dalam hati sama mba Yanti juga yang lainnya.yang sama bekerja di rumah itu, apalagi yang lain bekerja lebih dulu daripada dirinya.


Selesai sarapan, Lucas sama Rania mengantar bu Lilis sama bik Tuti ke terminal untuk pulang ke kampungnya. meskipun awalnya ibunya Rania itu menolak. tapi Lucas tetap mengantar ibu mertuanya, ia tak mau kalau sampai ibu mertuanya itu punya kesan buruk sama dirinya.


Sedangkan pak Bambang sama bu Renata mengantar kerabat yang lainnya ke bandara.


Sesampainya di bandara, semuanya turun dari mobil.empat orang itu duduk di kursi yang tersedia sambil nunggu kendaraan yang akan bu Lilis sama bik Tuti tumpangi itu penuh.


"Nak Lucas, ibu titip Rania sama kamu ya, bimbing dia, kasih tahu kalau salah, ibu percaya nak Lucas bisa menjaga anak ibu yang kadang bandel itu,"ibunya Rania membuka obrolan, matanya menatap laki-laki yang baru satu malam menikahi anak gadisnya.


"Iya bu, terima kasih sudah percaya sama saya, saya berjanji akan menjaga anak ibu semampu dan sebisa saya, ibu jangan khawatir,"Lucas tersenyum sama ibu mertuanya.


"Ran, beliin ibu sama uwa kamu minum sana, buat bekal di jalan,"bu Lilis menyuruh Rania membeli minum.


"Uangnya mana bu?"Rania mengulurkan tangannya pada bu Lilis.


"Pakai uang kamu dulu, ibu gak ada uang kecil,"


"Aku gak punya uang bu, uang besar juga tidak apa-apa, nanti kembaliannya buat aku,"Rania cengengesan sambil menaik turunkan alisnya.


Lucas memberikan beberapa lembar uang warna merah sama Rania.


"Ini kebanyakan tuan, satu aja cukup, tapi kembaliannya buat aku ya,"Rania mengembalikan sebagian uang pada Lucas. setelah itu ia langsung pergi dari hadapan semuanya.


"Anak itu, kelakuannya masih kaya dulu, maafkan sikap anak ibu ya nak Lucas,"bu Lilis meringis melihat kelakuan anaknya.


"Kenapa masih manggil tuan?"bik Tuti yang dari diam akhirnya mengeluarkan suaranya.


"Ah, itu, mungkin gara-gara kebiasaan bik, nanti aku suruh ganti pelan-pelan,"Lucas mengusap tengkuknya.

__ADS_1


Dasar bocah, bikin malu saja, bagaimana kalau mereka mikir macam-macam tentang gue.


"Iya teh, maklum saja lah, mereka nikahkan waktunya sangat singkat, biasanya manggil tuan,"bu Lilis melihat menantunya yang salah tingkah.


"Ibu percaya kamu suami yang baik, anak itu kelihatannya ceria, kuat, padahal hatinya rapuh, ia tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah, ibu tahu perasaannya seperti apa,"ucap bu Lilis.


"Terima kasih sudah memenuhi janji aden buat jagain dia, uwa tahu, ini berat buat aden. tapi uwa yakin perasaan akan tumbuh seiring berjalannya waktu,"bik Tuti mengusap bahu suami keponakannya.


Ini tak seberapa sama yang pernah bibi lakuin buat aku, aku gak akan pernah mengingkari janji aku buat jaga si bocah, memberikan semua yang aku punya buat dia, karena aku tahu bocah itu segalanya buat bibi.


"Ko malah melamun, apa aden nyesel nikah sama ponakan uwa?"kata-kata bik Tuti membuyarkan lamunan Lucas.


"Enggak, justru aku bahagia bisa nikah sama dia, tapi buat dapetin hatinya kayanya susah bi,"ucap Lucas.


"Kalian bahas apa sih, aku ga ngerti sama sekali,"buk Lilis mengerutkan keningnya mendengar ucapan kaka sama menantunya.


"Ya ngomongin anak kamu lah. pokonya kamu jangan menyerah, anak itu cuma keras luarnya aja, hatinya lembut, dan satu lagu, jangan panggil bibi lagi, mulai sekarang panggil uwa seperti Rania,"kata bik Tuti.


Rania datang membawa kantong keresek berisi minuman serta beberapa camilan buat menemani ibu sama uwa nya di perjalanan. lalu.menyerahkan kantong itu pada ibunya.


"Sikap kamu harus berubah Ran, sekarang kamu sudah jadi seorang istri, punya kewajiban yang harus kamu lakukan, ingat pesan ibu semalam, kamu harus nurut sama suami kamu,"bu Lilis mengusap kepala anaknya.


"Iya, aku bakal berusaha buat jadi istri yang baik bu, ibu sehat-sehat ya di rumah,"Rania memeluk ibunya, rasanya ia tak rela harus berpisah sama ibu serta uwanya. padahal baru beberapa hari bertemu tapi sekarang harus terpisah lagi.


Lucas memeluk Rania yang masih terisak menyaksikan ibunya perlahan menjauh seiring dengan kendaraan yang ibunya tumpangi perlahan melaju keluar dari area terminal.


"Sudah, masa nak jail kaya kamu nangis gara-gara di tinggal ibu,"Lucas mengacak rambut Rania, jarinya mengusap air mata yang mengalir di pipi istrinya.


Jantung Rania berdebar mendapat perlakuan manis dari sang suami, entah kenapa ada rasa nyaman ketika tangan suaminya itu mengusap terus mengacak rambutnya.


"Aku kan manusia tuan, kadang sedih apalagi kalau gak punya uang,"Rania menepis tangan suaminya yang masih stay di atas kepalanya, bukannya ia tak suka, tapi dirinya takut jantungnya akan bermasalah kalau tangan itu terlalu lama mengusap kepalanya.


"Dasar, yu pulang,"Lucas berjalan mendahului Rania menuju mobilnya.


Dasar tuan labil, tadi bersikap manis, eh langsung pergi gitu aja, padahal gandengan tangan atau apa ke gitu. euh mikir apa sih aku ini.

__ADS_1


Rania menepuk jidatnya, lalu berlari menyusul Lucas yang sudah lebih dulu masuk ke mobil, yang terparkir beberapa meter dari dirinya.


"Minggu depan kamu sudah mulai masuk kuliah kan?"Lucas mulai melajukan mobilnya meninggalkan area terminal.


"Iya tuan,"Rania menoleh ke sampingnya di mana sang suami duduk di belakang kemudi.


"Kita belanja kebutuhan kamu dulu, supaya nanti gak repot kalau tiba waktunya,"ucap Lucas.


"Belanja apa tuan?"Rania bingung mendengar ucapan suaminya.


"Belanja kebutuhan kamu buat masuk kampus bocah, apalagi,"Lucas melirik sekilas pada Rania.


"Gak usah tuan, semuanya sudah siap, waktu itu aku di ajak belanja sama ibunya tuan,"jelas Rania.


Mama emang paling ngerti, tapi itukan tugas gue.


"Mulai sekarang, kalau kamu butuh apa-apa bilang sama saya,"


"Maksudnya gimana? masa kalau saya butuh jajan harus bilang sama tuan,"ucap Rania.


"Ya harus, sekarang kamu istri saya bocah, masa harus mama terus yang memberi uang,"ketus Lucas.


"Kita kan nikah bukan karena suka apalagi cinta tuan, oiya mana yang harus saya tanda tangan tuan,"Rania mengulurkan tangannya kehadapan Lucas.


"Tanda tangan kan sudah kemarin pas akad nikah, sekarang tanda tangan apalagi yang kamu minta bocah,"tanya Lucas.


"Surat perjanjian tuan, saya lihat di drama-drama kalau nikah karena ada kepentingan masing-masing pasti ada surat perjanjian loh,"jelas Rania.


"Dasar ratu drama! pernikahan itu sakral, bukan buat main-main, pernikahan itu satu ikatan, saya tak pernah berpikir buat main-main dengan pernikahan, kamu adalah pilihan saya!"


"The beauty of marriage is not always seen from the very beginning but rather as love grows and develops over time."


"Ngerti?"tanya Lucas.


Rania menggeleng mendengar ucapan suaminya, bukannya laki-laki di depannya yang bilang kalau ia menikah karena malas terus di jodohkan sama mamanya, tapi sekarang. ah entahlah Rania bingung.

__ADS_1


Like, komen, vote, favoritkan juga ya kesayangan, terima kasih🤗😘😘


__ADS_2