
Waktu terus berlalu hari berganti minggu, begitu juga minggu berganti bulan. kandungan Rania sudah memasuki bulan ke 6, itu artinya sekarang sudah memasuki trimester dua, yaitu 25-28 minggu.
Rania sudah terlihat cantik, ia sedang menunggu suaminya yang sedang mandi. Lucas mengajaknya untuk makan diluar, katanya kasian sama Rania yang sekarang jarang kemana-mana.
"Sayang, kenapa senyum-senyum, kamu liatin apaan?"tanya Lucas. Rania mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, terlihat Lucas baru keluar dari kamar mandi, badannya masih basah handuknya cuma menutupi pinggang sampai lutut.
"Bukan apa-apa, aku lagi chating sama Firda, tapi udahan karena dia harus berangkat kerja,"jelas Rania. ia membantu Lucas mengeringkan rambutnya, setelah itu Rania mengambil minyak kayu putih, Lucas cuma pasrah saat badannya dibalurin kayu putih.
Lucas pernah protes saat Rania mengolesi badannya dengan minyak kayu putih itu. tapi Rania bilang kalau ia sedang latihan buat nanti mengurus bayi, akhirnya Lucas diam tak protes lagi. apalagi kalau kedinginan badannya terasa hangat gara-gara minyak itu.
Setelah selesai, Rania mengambil baju santai untuk Lucas, kaos tangan pendek warna abu serta celana pendek warna putih menjadi pilihan Rania kali ini, menurutnya Lucas tambah ganteng ketika memakai baju santai.
"Udah, sekarang tinggal berangkat yang,"Rania menatap Lucas dari ujung kepala sampai ujung kaki, ia tersenyum karena suaminya itu terlihat perpect.
"Gimana, ganteng kan aku yang?"Lucas menggoda Rania, ia menaik turunkan alisnya.
" Iya dong, ganteng banget, apalagi kalau nanti biarkan aku makan sepuasnya,"jawab Rania.
"Boleh, beli sama tempatnya sekalian juga bisa sayang, uang aku kan banyak,"
"Sombong!"
"Udah kan, kita berangkat aja yu, takut kemaleman, kamu pakai jaket di luar dingin sayang,"
"Iya, kamu juga. aku gak mau kalau nanti kamu jadi perhatian cewek-cewek di sana,"Rania memberikan sweater pada Lucas.
"Hahaha..... sejak kapan jadi posesif sayang?"Lucas merangkul Rania keluar dari dalam kamar.
"Sejak aku jelek, makanya takut kamu berpaling sama yang lebih cantik. tapi kata mamah jangan takut, kalau Lucas macam-macam, biar mama yang menghajar,"
"Sekarang, mama lebih sayang sama kamu daripada sama anaknya sendiri, sedih aku tuh, berasa anak pungut,"Lucas pura-pura sedih.
"Gak usah lebay, mama sayang sama kita berdua, tapi aku yakin deh, nanti kalau cucunya udah lahir pasti bakal lebih sayang sama dia,"Rania mendorong wajah Lucas dengan telunjuknya.
Keduanya ketawa bahagia, terlihat bibi yang sedang duduk di atas sofa menoleh ke arah mereka berdua.
__ADS_1
"Aden, non, mau pada kemana? udah rapi gini,"tanya bibi. ia langsung mengecilkan volume tivi yang sedang ditontonnya.
"Bibi, kita mau makan di luar, apa bibi mau ikut?"
"Ah, enggak aden, bibi makan di rumah saja nanti, hati-hati di jalan, pulangnya jangan terlalu malah, apalagi lagi hamil,"papar bibi.
"Iya, bibi jaga rumah ya. kalau nanti bibi udah ngantuk bobo aja, aku bawa kunci cadangan kok bi,"sahut Rania.
Setelah selesai, keduanya ke luar dari rumah, lalu langsung pergi menuju tempat tujuannya, Lucas bilang itu adalah restoran milik sahabatnya.
Tak butuh waktu lama, mobil Lucas sudah masuk area restoran bintang 5 itu, tempatnya sangat mewah, melihat bangunan di depannya, Rania berbinar ceria. ia sudah membayangkan makanan enak-enak di sana. meskipun ia tahu kalau makanan di tempat seperti itu porsinya sedikit tapi harganya selangit. biarlah ada suaminya yang mengaku banyak uang.
"Sayang, ayok masuk. kenapa malah bengong?"Lucas menggandeng Rania memasuki restoran.
"Sayang, apa nanti aku beneran boleh makan banyak?"bisik Rania.
"Kamu kenapa sih, boleh ambil semua yang kamu mau, lagian selama ini kamu gak pernah minta aneh-aneh,"Lucas melirik Rania yang sedang memperhatikan detail restoran itu.
"Sayang, nanti aku mau buka restoran kaya gini, boleh gak?"tanya Rania.
Keduanya langsung disambut sama pelayan, mereka terlihat ramah saat melayani pengunjung. mungkin itu salah satu yang membuat restoran itu terlihat ramai. biasanya seenak apapun makanannya kalau pelayanan kurang memuaskan, malas buat datang lagi.
Lucas membantu Rania duduk dengan nyaman, perutnya yang sudah agak besar membuatnya susah melakukan sesuatu, termasuk duduk, karena harus berpegangan dulu.
Setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman, barulah Lucas duduk di depan istrinya.
"Sebentar, aku, telpon yang punya tempatnya dulu yang,"Lucas mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, terus langsung menghubungi seseorang.
Rania memperhatikan setiap orang, dari mulai pengunjung sampai pelayan, semuanya tak luput dari tatapannya. sampai ia menyadari kalau ia seperti mengenal seorang pelayan yang sedang mengelap meja.
"Sayang, sayang,"Rania menggoyangkan tangan Lucas yang berada di atas meja.
Lucas yang masih berbicara ditelpon langsung menatap istrinya, sambil bertanya dengan isyarat mata, kenapa? maksudnya.
Rania menunjuk orang yang ia maksud, Lucas mengikuti arah telunjuk Rania, lalu menyimpan ponselnya di atas meja karena sudah selesai.
__ADS_1
"Siapa sayang? kamu kenal?"tanya Lucas. Rania mengangguk.
"Siapa? itu ada dua orang yang bajunya sama, terus badannya gak jauh beda sayang,"Lucas menatap dua orang yang sedang mengelap meja, tempatnya tidak terlalu jauh dari meja yang di tempati nya. meskipun begitu, Lucas gak bisa melihat dengan jelas karena mereka membelakanginya.
"Kaya Firda sayang, tapi gak tau juga deh, apa aku samperin aja ya?"tanya Rania.
"Nanti aja, sebentar lagi teman aku datang sayang,"
"Oh, ya udah, nanti kamu tanya dia ya,"Rania akhirnya mengurungkan niatnya untuk menghampiri pelayan yang ia pikir temannya itu.
"Iya sayang,"
Seorang laki-laki kira-kira seumuran Lucas berjalan mendekati tempat mereka duduk, Rania yakin kalau itu adalah orang yang dimaksud temen Lucas yang mengundangnya datang ke sana.
"Hai dude, maaf nunggu lama,"ujarnya. benar saja orang itu langsung duduk di samping Lucas.
"Wah, tidak apa-apa, gue ngerti bos pasti sibuk, apalagi pengunjungnya ramai sekali. selamat bertambah kaya,"Lucas tertawa lepas, kebiasaan mereka selalu bercanda dari dulu semasa kuliah.
"Bisa aja! keren bawa gandengan cantik,"Danil menunjuk Rania dengan dagunya.
"Bukan cuma gandengan, tapi teman tidur bro,"
"Hah? maksudnya apa ini, kemarin pas ketemu gak bilang kalau sudah punya teman tidur, kirain masih single,"Danil menatap Lucas tak percaya.
"Kenalkan dia istri gue, namanya Rania,"Lucas menyeringai melihat wajah Danil yang terlihat lucu.
"Serius, kamu istrinya Lucas manusia kurang normal?"tanya Danil. ia menatap Rania dengan intens.
"Iya, saya Rania,"Rania tersenyum meyakinkan sahabat suaminya itu.
"Saya, Danil, kenapa mau sama Lucas, padahal kalau kamu lebih dulu ketemu sama aku, pasti bakal milih aku,"candanya. matanya melirik Lucas yang sudah terlihat masam.
"Jagan aneh-aneh, malah dia udah bunting, lihat,"ucap Lucas.
Danil membulatkan matanya tak percaya, ia tak melihat kalau perut Rania buncit karena tertutup meja, apalagi wajahnya itu terlihat seperti anak SMA, wajahnya yang baby pack membuat Rania terlihat masih gadis.
__ADS_1